
Perawat terlihat heran dengan pasien yang mampu memaki ku, aku hanya tersenyum saat perawat itu menatap ku Khawatir, tapi dengan bahasa isyarat aku katakan, aku akan baik baik saja.
Kobaran Api menyala di kepala nya Wanita ku, wajah nya yang cantik memang selalu Jutek dan menggemaskan, tapi kali ini menggemaskan nya hilang entah kemana, Dia menatap terus ke arah ku, aku mendekati nya, dia mundur. aku coba meraih pinggang nya dia menepis kan tangan ku dengan cepat.
" Maaf Van"
" KAMU GA BERHAK NGELAKUIN INI KE SAYA" jawab nya
" Saya minta Maaf, saya bisa jelasin Van" jawab ku dangan cepat
" Apa yang mau jelasin?"
" Saya cuma mau... kamu bisa terima saya apa ada nya, seperti yang dulu saya bilang"
" Apa saya ga bisa terima kamu apa ada nya? kamu pikir saya perempuan Matre yang ga punya otak dan hati hah!" jawab nya dengan keras
" Gak begitu"
" Begitu Gimana?"
" saya takut Van...kamu seperti wanita lain, tapi ternyata kamu beda sayang!" ucap ku merajuk, merayu nya
" Kamu itu ternyata sama aja kaya laki laki lain, PEMBOHONG dan saya benci kebohongan" jawab nya, Vanny mengambil sesuatu dari tas nya, satu kartu ATM dan amplop coklat di lempar ke arah ku.
" kalo saya perempuan Matre, uang kamu habis hari itu juga, Saya ga pake uang kamu Satria...Kamu jahat" Suara yang tadi marah sekarang berubah menjadi suara berat menahan tangis, tanpa mengambil apa yang Vanny lempar ke arah ku, aku berusaha untuk memeluk nya, tapi marah nya mampu menepis tangan ku.
" Saya harap ini pertemuan kita yang terakhir " Ucap nya dengan suara yang bergetar menahan tangis. Vanny mendorong dada ku dengan penuh emosi, aku jatuh dan Vanny berlari MENINGGALKAN ku. aku mengejarnya, tapi seorang anak menahan langkah kaki ku
__ADS_1
" Om Dokter...nenek meninggal di UGD" ucap nya dengan tangis yang sangat memilukan, aku mengendong tubuh kecil nya, berjalan menuju UGD dan Nenek yang di maksud sudah sedang di urus jenazah nya oleh para perawat dan dokter di UGD.
" Gineung Ga ada Sodara di Bogor?" Tanya ku dan mendudukkan nya di Kursi, Aku berjongkok dan menunggu jawabannya.
" Ga ada Om Dokter, Gineung Mau ke Jakarta cari Ayah" jawab nya dan aku menarik nafas ku berat.
Nenek dari gadis kecil berusia sekitar 7 tahun adalah pasien tua ku, dia mempunyai riwayat sakit Paru yang sudah kompleks, Saat pertama bertemu dengan nya minggu lalu, aku sudah menyarankan untuk di rawat inap, tapi dia menolak, Bahkan aku sudah menawarkan perawatan gratis untuk nya, tapi tetap di tolak nya karna alasan sedang mencari laki laki dari anak gadis nya yang sudah meninggal saat melahirkan Gineung.
Aku meninggalkan gineung sebentar untuk menghubungi Vanny, tapi panggilan ku di reject oleh nya, dan aku fokus kembali pada anak kecil inj.
" Gineung udah ketemu Ayah?"
" Belum Om Dokter" jawab nya dengan air mata yang terus mengalir, Aku memeluk nya erat.
Satu jam kemudian, jenazah Nenek nya Gineung sudah siap di makamkan, dengan prosuder rumah sakit, jenazah di kebumikan di TPU Dreded Bogor, agar sewaktu waktu keluarga nya datang bisa melihat makam si nenek dengan layak.
" anak loe kali Sat!" Canda rio yang menertawakan aku, aku menegak habis kopi ku, lalu aku tersenyum
" Anak saya ada di rahim mu Van, kemarin malam kita bercocok taman 3 x, kamu dan saya tanpa pengaman, pasti tumbuh subur benih benih saya di rahim mu nanti" ucap ku dalam Hati.
Jam 4.30 Handphone ku berdering, panggilan masuk dari Bapak.
" Ya..Bapak tunggu kamu loh, Yudha sudah datang, tinggal Indah yang belum, dia masih di kantor"
" Iya pak" jawab ku dengan lemas
Bagaimana Vanny dan Gineung? aku harus meninggalkan gineung, membawa Vanny ke rumah Bang Rimba tapi sekarang aku harus bagaimana....
__ADS_1
Vanny terus aku hubungi tapi tetap tidak berhasil. Gineung masih duduk di kursi dan sekarang dia mengantuk.
Aku memghubungi adel dan meminta nya bertemu di jalan Pajajaran. dengan ijin dari pihak Rumah sakit, aku membawa Gineung pergi, anak ini benar benar percaya dan terkesan meminta perlindungan dari ku.
Di Mobil, gineung tertidur, aku membeli paket ayam untuk nanti dia makan, bahkan aku lupa dengan makan siang ku dan anak kecil yang tertidur pulas di samping ku.
" gw titip Bocah yah Del, loe bawa ke rumah loe deh"
" loe gila" Jawab Adel dengan melirik Gineung yang tertidur di dalam mobil, aku dan Adel berdiri di luar mobil
"Anak nya ga mau gw tinggal, gw ada masalah ama Vanny Del...please. begitu gw ketemu Vanny, gw bakal urus anak ini"
" Loe bakal rawatin nih anak?" tanya adel
" ga tau Del...baca chat di group kita aja, nasib nya nanti di urus ama rumah sakit, tapi perlu waktu kayanya" Jawab ku.
Adel setuju membawa gineung, dengan tatapan yang menyedihkan, Ginueng bertanya pada ku
" Om Janji kan ga akan tinggalin Gineung sampe gineung ketemu ayah?"
" Iya sayang, Sekarang Gineung ikut dokter adel, Gineung harus Makan, harus mandi trus tidur" Jawab ku dengan mengusap kepalanya, Gineung memaksakan untuk tersenyum, aku sangat prihatin melihat nya. Setelah Mobil adel Pergi, aku mulai sibuk meng hubungi Vanny lagi, dan aku terkejut karna Vanny tidak kembali le kantor, Mbak Indah bilang, Vanny ijin pulang dari jam 11 tadi.
Aku mencari nya kemana? Aku mencari Vanny ke rumah Amira, tapi tidak ada, hanya rumah Amira dan Zahra yang aku tau, dan di rumah kedua sahabat nya, Vanny benar benar tidak ada disana. aku melajukan lagi mobil ku menuju Jakarta, Apartement nya Vanny, Dengan Password yang sudah aku hapal, aku tidak menemukan nya disana.
Jam 7 malam...Handphone ku berdering, Bapak sudah tidak sabar menunggu kedatangan ku, dan akhir nya aku menyerah...aku datang ke rumah Bapak tanpa Vanny malam ini.
Yang nanggung bikin penasaran, yang gemusss kirimin aku kopi napa, yang ga suka baca nya maaf yah bikin kalian kuciwa....
__ADS_1