
Senin Pagi semangat kerja sedang on fire, hari kemarin aku bahagia bersama Gigi, dan juga Satria.
Sampai Di kantor, pagi ini seperti biasa, briefing pagi dengan Mbak Indah, dan di akhir briefing Mbak Indah memanggil ku.
" Duduk dulu Van" Mbak Indah mengajak aku duduk di sofa dalam ruangan nya
" Ada Apa Mbak?" Tanya ku dan Mbak Indah memberikan Amplop yang sudah berada di atas meja ini.
" Email nya udah masuk ke saya, mungkin ke kamu baru masuk hari ini, tapi Hard copy nya, di bawa Ardhian tadi pagi" Jawab Mbak Indah
" Apa Sih Mbak?" Tanya ku dan membuka Amplop Putih dengan logo Bank Kami bekerja. tertulis nama ku di depan amplop tersebut, lalu aku membuka dan mulai membaca nya.
Seketika Aku berteriak dan memeluk Mbak Indah...
" Gila Mbak...ga nyangka Vanny bakal Lulus " Jawab Ku dan Mbak Indah mengusap bahu ku.
" Selamat yah Van....dan Harus segera di obrolin ama Satria loh" Ucap Mbak Indah
" Semoga Satria kasih Ijin Mbak" Jawab ku dan menarik nafas ku berat, lalu menyandarkan punggung ku ke Head board sofa
" Mbak Dukung kamu Van, Ini kesempatan Emas, dan harus nya Satria juga berpikiran Sama"
Dan Pintu pun di ketuk dari luar, Ardhian datang dengan Jas Hitam nya, lalu duduk di depan aku dan Mbak Indah.
" Gimana Van?" Tanya Ardhian, dia sudah melihat aku memegang amplop yang tadi di bawa nya.
" Gak tau deh Ard...Bingung" Jawab Ku dan mengipas kan amplop itu ke wajah ku.
" Awal Tahun udah mulai training Van, kamis itu peserta daftar ulang" Ucap Ardhian dengan senyum nya, aku mengkerucutkan bibir ku dan Ardhian tertawa
" Galau dia Mbak...laki nya kaku gitu" Ledek Ardhian dan Mbak Indah ikut tertawa.
Hari senin ini terlewati dengan cepat, Aku bahagia, dan waktu nya kembali ke Rumah, Jalanan yang macet, tidak membuat Aku merasa lelah, aku ingin segera sampai di rumah dan berbagi kebahagiaan dengan Suami ku.
" Pihhh " Aku memanggil nya, dia sedang duduk di Teras, menunggu ke datangan ku.
" Macet yah?" tanya Satria, aku mencium pipi nya bahkan memeluk nya cukup lama
" Macet nya pas awal masuk tol doang" Jawab ku dan terus memeluk nya.
" Dari tadi pih?" Tanya ku, lalu melepaskan pelukan ku, berdiri di depannya, melepaskan heels ku dan mengambil sendal tipis di bawah meja
" Jam 7 udah Sampe, Udah makan Bund?"
" Heemmhh enak nya kerja di Bogor, bisa pulang cepet, Laper ih...Papih udah makan?" Tanya ku, aku sebenarnya tertawa dalam hati, saat mengatakan nya, Papih...papih....tapi menurut ku cukup keren, lebih sopan dari pada memanggil nya Nama seperti kemarin kemarin.
" Udah tadi bareng Gigi, Nanti saya temenin, Mandi gih...Bau bund" Ucap Satria dengan tertawa, aku selalu menempel pada nya dari awal percakapan kami.
" Masa ?" Tanya ku dengan tertawa, lalu Satria menggenggam tangan ku, kami masuk ke dalam rumah, dan rumah sudah sepi. Gigi pasti sudah tidur, karna ini sudah jam 8 lebih 15 menit.
" Makan dulu deh Pih, Sumpah laperr banget" Ucap ku dan melangkah ke meja makan, Satria duduk dan menemani aku makan saat ini.
" Malem ini dines ga Pih?" Tanya ku dan merapihkan piring kotor ku
" Belom ada panggilan, tapi standby, Rio soalnya masih deman" Jawab Satria.
" Ok...give me 10 minutes, saya mandi trus ada yang mau saya omongin" jawab ku dan satria mengangukkan kepala nya.
Aku bergegas Mandi dan langsung memakai baju tidur ku, Satria sudah menunggu aku di balkon kamar, dia Standby untuk panggilan dinas nya, lalu aku duduk di samping nya,
" Pih...saya lulus seleksi " Ucap ku dan menberikan amplop yang sudah ku bawa.
" Seleksi apa Bund?" Tanya Satria, membuka amplop, membaca nya dan mengkerutkan dahi nya.
__ADS_1
" Gak Usah kamu ambil, Ini 3 bulan. Apa apaan training 3 bulan, ninggalin suami, ninggalin anak dan rumah tangga kita" ucap Satria dengan datar
" Ini kesempatan buat bisa jadi kepala cabang Pih, semua orang berharap bisa ikut training ini, dan seleksi ini Gak gampang, saya ikut banyak tahapan seleksi" Jawab ku dengan pelan.
" Kamu ga jadi kepala cabang juga, bakal tetep Makan Van. Saya ga kasih Ijin" Jawab Satria, dia memanggil nama ku Van, bukan Bunda lagi, dia sudah kesal rupa nya.
" Pleaseeee....pih"
" Gak Van"
" pleasseeeeee saya mau banget, ini kesempatan emas buat saya, saya tunggu ini udah dari beberapa tahun lalu, saya gagal berkali kali, dan saat ini saya lulus seleksi, masa iya saya ga ambil" Jawab ku memberikan penjelasan pada Satria.
" gak usah diambil" Jawab tegas satria
" Saya berharap banyak Pih, ini impian saya" Jawab ku, aku harus tenang, aku harus bisa mengendalikan mulut ku
" Kamu ga usah kerja kalo Gitu, besok kamu berenti kerja aja!" Jawab Satria dan aku membulatkan mata mu
" Apa apaa nih " jawab ku dan emosi ku mulai tersulut
" Kamu berenti kerja aja" Jawab nya mengulang kata kata nya tadi, tapi kali ini nada nya lebih lembut.
" Saya masih punya tanggungan" Jawab ku mengingat mobil sedan merah yang masih harus aku cicil sampai bulan juli tahun depan.
" Saya udah bilang, Lunasin. Uang udah saya kasih ke kamu semua, Masa iya ga bisa nutup itu cicilan Mobil"
" saya masih sanggup bayar cicilan mobil, dan saya ga pernah pakai uang kamu, itu buat anak anak kita nanti, atau keperluan rumah tangga kita"
" Pake Van...uang itu gak abis sampe 3 tahun ke depan, saya juga kerja, saya usahain semua nya kamu" Jawab Satria dengan mengusap kepala ku
" Iya...saya tau Pih"
" Good kalo kamu paham, Gak usah kamu ambil yah" Ucap Satria
" Ayo lah Pihhh....cuma 3 bulan training nya, 2 minggu sekali saya pulang" Ucap ku merajuk lagi, tadi sempat hendak emosi, tapi karna Satria bicara dengan santai aku juga harus bisa santai.
" Pih...ga ada surat yang perlu kamu tanda tangan, saat saya mengajukan ini, kita belum kenal, kita belum nikah" Jawab ku mengingatkan hal ini, Tahapan untuk mengikuti seleksi ini tidak mudah, ada 4 kali tes yang aku ikuti setiap bulan nya saat itu dan menjadi kepala cabang adalah impian semua orang.
" Tapi sekarang kita udah nikah"
" Ayo lah Pih...pleaseeee" Aku mengiba pada nya, dan Satria menatap wajah ku
" Apa Karna Ada tanda tangan nama Ardhian...sampe kamu begitu ngotot nya pengen ambil kesempatan ini"
" Lahhhh kok Ardhian?" Tanya ku tidak paham maksud pembicaraan Satria kemana.
" Ini nama dan Tanda tangan Ardhian" Satria melihat kan surat yang memang di tanda tangan oleh Ardhian, tapi itu memang Kapasitas nya Ardhian Sebagai Regional Manager .
" Mulai Ga nyambung " Keluh ku dan Satria tertawa dengan tatapan mengejek ku.
" kamu itu cepet berubah nya Van, Hari kemarin kita begitu happy nya, Pagi ketemu Ardhian...kamu berubah Total, Kamu masih Cinta sama Dia"
" Ya Allah Satriiiaaaa" Keluh ku
" Kamu Masih Cinta Ardhian?" Tanya Satria dengan mencengkeram wajah ku saat ini.
" Bilang Kalo kamu masih Cinta ke dia Van, Saya bisa lepasin kamu sekarang Juga" Ucap Satria dengan suara yang kasar
" Satriiiaaa Sakit" Ucap Ku
" Jawaaaaabbbb Stevanny, Jawab"
" Saya ga cinta dia Sat" Jawab ku pelan, Pipi ku sakit, dagu ku terasa kebas saat ini, aku berusaha melepas kan tangan satria, tapi ini begitu kuat untuk ku
__ADS_1
" Bohong!"
" gak Sat...saya ga bohong" Jawab Ku, hampir menangis saat ini
" See...kamu terlihat masih mencintai nya, kamu terlihat cengeng dan lemah saat ini, Bukan Vanny yang saya kenal, bukan Vanny yang kuat" Jawab Satria dengan melepas kan tangan nya di wajah ku.
" Mulai saat ini, Saya talak kamu Van, Ikut seminar itu...dan nikmati hari hari kamu bersama laki laki yang kamu cinta" Ucap Satria dan pergi meninggalkan ku.
" Sattttttttt " Aku memanggil nya sambil menangis, meraba wajah ku satria pergi meninggalkan kamar dengan menbantingkan pintu kamar kami.
Moreno
" Yank"
" Apa Bang?" Jawab Adel yang sedang duduk sambil menikmati drama korea di handphone nya
" Kalo Test DNA, Mahal ga sih?" Tanya ku ragu ragu, Adel menyimpan Handphone nya lalu menghadap ke arah ku.
" Tergantung Rumah sakit nya, Tergantung paket yang mau diambil nya apa, tapi Kalo di rumah sakit *MC, sekitar 8 Juta"
" Lama proses nya?" tanya ku
" 14 hari buat Test DNA lengkap" Jawab Adel
" Satria kok waktu itu cuma beberapa Jam?" Tanya ku lagi,
" Satria cuma ambil random test Bang, masa hal gitu abang gak tau...abang kan polisi, Buat kasus urgency seperti kebakaran, kasus tenggelam bisa pake Sistem kilat " Jawab Adel lalu mengusap lengan ku, aku sebenernya tau soal itu, aku juga mempelajari kasus kasus seperti itu, tapi ini lain kasus.
" Ada apa?" Tanya adel dengan lembut
" Gigi" Jawab ku dan adel langsung memukul bahu ku
" Abang Jahatttt"
" Isshhh denger dulu yank...." Aku meraih bahu nya lalu memeluk nya
" Gakkk mau denger"
" Denger dulu atuh yank"
" Gak Mau" Jawab Adel dengan menutup telinga nya.
" Serius gak mau denger? Nanti nyesel loh"
" Gw yang nyesel ketemu abang, andai gak kena tilang waktu itu" Jawab Adel dan aku tertawa,
" ketawa lagi...bukannya mikir" Keluh adel
" Lagi gak bisa mikir Yank, otak nya lagi inget kejadian gw nilang dokter cantik di Ujung Jalan Bina Marga" Jawab ku dan Adel tertawa, Adel memang Unik, Adel memang Baik, dan minggu ini aku bercerita banyak pada nya, aku mencium kening nya, mencium pipi nya, lalu pamit karna handphone ku berbunyi, Satuan kami di panggil mendadak Malam ini, dan Adel hanya bisa memgekerucutkan bibir nya, dia tau konsekwensi pekerjaan ku.
" Pulang sini gak?" Tanya Adel dengan memeluk ku
" Boleh Gak?" Tanya ku dengan mencium pipi nya lagi.
" Kalo gak boleh Gimana?" tanya Adel
" Gw manjat lewat genteng " Jawab ku dan Adel tertawa.
" Buruan pergi, nanti di marahin loh"
" Mobil nya ga ada bensin Yank" Jawab ku dengan tertawa
" Yaaaaa ampun bang, malu maluin gw aja" Jawab Adel dan melepaskan pelukan ku, dia hendak berjalan tapi aku menarik tangan nya
__ADS_1
" Gw bercanda Yank, Ngetes doang...ternyata cewe gw....beneran baik" Jawab ku dan memeluk nya lagi.
" Gw jalan, Kunci pintu. kabarin gw kalo besok mau kerja" pesan ku dan Adel menjawab Iya.