
Sampai di rumah, Gagal sudah niat ku untuk membawa nya masuk ke dalam kamar kami, bercinta dan menghabiskan malam kami sampai pagi menjelang.
Kata Singkat namum berarti luas dan dalam untuk ku. " Vanny menyayangi ku" Ucap ku lagi mengulang dan terus mengulang nya dalam hati. Sepanjang perjalanan tadi aku benar benar tidak melepaskan tangan nya, aku menyimpan nya dalam tangan ku, aku cium, aku simpan di atas paha ku atau aku menyatukan punggung tangan nya di pipi ku. otak mesum ku minus saat ini, aku hanya ingin di sayang, di sayang dan di sayang seperti ini.
Kebahagian ku bertambah saat kami sampai di rumah, Gigi menyambut ku, Dia berlari dan aku menangkap nya, Vanny istri ku tertawa bahagia, Ini benar benar membuat aku merasa jadi orang yang sangat beruntung, Di sayangi 2 wanita sekaligus, Vanny dan Gigi.
Saat aku duduk di sofa kamar, merebahkan punggung ku, Satu cangkir kopi Vanny bawa untuk ku, Issshh dia ini pengertian sekali, apalagi saat dia membawa nya dengan senyum.
" Buat kamu Sat, Saya rapihin Koper mu dulu yah"
aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih, dia membalas senyum ku lalu mulai membuka koper ku. aku perhatikan setiap gerakan nya,
Vanny di duduk tempat tidur, Baju baju ku sudah semua di turun kan ke lantai, saku saku celana dan kemeja sudah dia periksa semua nya, sebenarnya aku ingin mengomentari, " kenapa ga bawa laundry bag nya langsung, jadi baju ga turun ke lantai dulu, kan kerja 2 kali" Tapi aku diam kan saja, tidak prinsip, tidak baku dan aku menghargai semua usaha nya, padahal...aku ini orang yang perfect, semua harus sesuai Prosuder, tapi kami dua orang yang berbeda bukan, Mungkin type Vanny seperti itu dan aku seperti ini.
" Jas Putih aja yang ke Laundry Sat...yang lain Biar di cuci di rumah"
" Ok " Jawab ku, aku menikmati kopi yang sudah mulai hangat
" Enak Van Kopi nya" ucap ku
Dia hanya tersenyum dan mulai membawa pakaian kotor tadi ke luar kamar, Dia sibuk lagi dengan tempat tidur lagi, menepuk nepuk nya dengan sapu lidi dan aku ingin tersenyum, kasihan aku melihatnya.
" Next time..kalo bongkar koper, Kamu duduk di sofa aja van, Kamu jadi banyak kerjaan kalo kaya tadi" Ucap ku memberikan saran,
" ga suka...suka nya gini, buka koper nya di atas tempat tidur, Emang ga boleh?" Jawab nya Vanny, Isshh Dia ini...omongan nya sama sama jujur dengan ku. Suka yah suka, tidak suka yah tidak suka.
" Boleh dong..." Jawab ku dan berjalan ke arah tempat tidur, aku langsung berbaring dan melihat wajah cantik nya yang selesai menggomel
" Bagus deh kalo gitu, Oh Yah Sat...ini mau di simpen dimana?" tanya istri ku mengangkat Pasport dan sertifikat seminar ku.
" Laci Aja Van " Jawab ku dan ku lihat koper ku sudah kosong, Aku lalu menyimpan nya di atas lemari, tempat awal koper itu berada. Tubuh kami dekat saat kami sama sama berada di depan lemari maju.
" Biasa aja nyenggol nya Sat" keluh Vanny dengan tawa kecil nya, aku melirik nya dan tersenyum
" Kamu nya luar biasa " Jawab ku dan mencium kening nya. Vanny langsung memeluk ku, dan aku membalas dengan membelitkan tangan ku di pinggang nya. ku tatap wajah nya dan mencari kata Sayang yang tadi Vanny ucapkan untuk ku. lalu aku tersenyum dan mengusap punggung nya
" NAMA KAMU ADA DI SINI, VAN" Ucap ku dengan yakin dengan menepuk dada ku
" Masa sih?"
" Serius " jawab ku dan ku simpan tangan nya di dada ku, aku biarkan dia merasakan debaran jantung ku. dan dia tersenyum lalu mencubit perut ku
" NGOMBAL "
" Cuma ke Kamu " Jawab ku dan Vanny tertawa, dia mengusap ngusap dada ku, Dan rasa nya Damai sekali. Pelukan yang lama dan akhirnya memicu hasrat ku
" mau sekarang?" tanya nya dengan senyum di satu sudut bibir nya
" Boleh?"
" Boleh lah, kamu kan suami saya" Jawab nya membuat aku langsung mencium bibir nya, bibir kami bertautan saling membelit dan penuh cinta, aku mengendong nya dengan kedua tangan ku, seperti mengendong Gigi saja, dia menyimpan tangan nya di leher ku.
Aku rebahkan tubuh nya hati hati di atas tempat tidur, lalu mulai menaikan kaos longgar yang sedang di pakai nya, dua gundukan daging yang terlihat di depan mata ku, tanpa br*, dan memanggil aku untuk segera menyesap nya.
" Arrrhhhgg sat " lirih Vanny dengan manja nya, aku memiringkan tubuh kami, menyesap seperti baby yang menyusu pada ibu nya, satu tangan ku memainkan gundukan yang tidak bisa aku sesap sekaligus, meremasnya dengan lembut dan membuat nya semakin memdes@h saja. tangan ku mulai membuka celana pendek yang dipakai nya, tanpa melepaskan mulut ku yang haus akan susu.
" Sat "
" Hemmhh "
" Geli sayang " Ucap nya Vanny dengan menghalangi tangan ku yang sedang mengusap rambut tipis di bawah sana
" Geli Van?" tanya ku memastikan lagi
" Iyaaaahhh" Jawab nya dengan suara yang semakin mendes@h saja, sangat menggangu sekali ucapannya itu membuat aku segera membuka kaos dan celana pendek ku.
Tubuh kami polos, kami saling memperhatikan tubuh polos kami masing masing, dan tangan nya mengusap peliharaan ku dengan lembut. aku tersenyum dan mencium nya lagi. perlahan aku mulai membiarkan adik besar ku mencari jalan nya sendiri, dia sudah besar, bisa tau dimana tempat bermain paling nyaman untuk nya.
" Saaattt "
" iya sayang"
" pelan "
" Hemmmhhh" Jawab ku
" Aaarrrgghhh " Keluh Vanny ketika adik besar ku masuk full kedalam sana.
" Sakit?" Tanya ku, dia menggelengkan kepala nya.
__ADS_1
" Enak?" Tanya ku
" Hemmhhh" Jawab nya singkat. aku tersenyum dan mengusap pipi nya.
" Gerakin ih"
" Ntar dulu " jawab ku
" Gerakin "
" Ga mau " jawab ku dengan posisi standby seperti ini, aku menikmati rasa nikmat luar biasa saat adik besar ku seperti ini.
" Satriiiaaa ihh" keluh nya dengan mengusap daun telinga ku
" Sabar Van, begini aja saya udah enak banget"
" Satriiiaaa Jahat" Keluhnya lagi, dia mengerakan pinggang nya sendiri dan aku tertawa
" Gak sabaran " jawab ku dan sekarang giliran aku yang mengerakkan tubuh ku, gerakan seirama ditambah rintihan vanny membuat aku semangat mengerakkan tubuhku
" Sattttt" Vanny begitu erat memeluk ku, menekan pinggang ku lebih erat lagi
" Sattttt" vanny terus merintih dan aku semakin liar menggerakan nya, rasa tergigit dibawah sana membuat aku juga merintih merasakan nikmatnya dunia.
" Vannn " panggil ku dengan meremas gundukan yang ikut bergerak gerak
" Geliii Satt" Jerit Vanny dengan manja
" Sebentar Sayang " ucap ku dan
" Aaarrgghhh Vannn...i love you " Ucap ku dengan melepaskan lahar panas di bawah sana. Vanny tersenyum dan aku mengusap pipi nya.
" Angkat"
" Ga Mau " Jawab ku
" Berat Sattt"
" Ga mungkin" Jawab ku dengan yakin, aku menahan tubuh ku dengan siku tangan ku
" Angkat Satria "
" Angkat dulu Sat, biar saya bersihin dulu" Jawab nya dengan lembut.
" Ga mau Van..." Jawab ku kukuh, aku sedang memanjakan adik ku dibawah sana dan Vanny tertawa lagi
" Terserah lah" Jawab nya dengan wajah nya pasrah, aku hanya sedang ingin berlama lama seperti ini, menyatukan tubuh kami, menikmati wajah nya yang sekarang merona karna aku terus menatap nya.
" kamu Cantik" Ucap ku, dan wajah nya tambah merona, aku mengusap rambutnya, mencium leher nya dan memiringkan tubuh ku, perlahan aku cabut adik ku ini dan Vanny tersenyum
" Kamu manja deh Sat"
" Biarin...Manja nya cuma ke Kamu" Jawab ku dengan mencium kening nya.
Stevanny
Handphone ku berdering, dengan tubuh polos ku, aku meraih handphone yang ku simpan di dekat sisi Satria. Payuda** ku malah melintas di wajah nya dan Satria Tertawa
" Mancing bener"
" Biarin " Jawab ku dengan yakin. dengan posisi duduk merebahkan punggung ku ke Head board,Satria mengambil bantal lalu menyimpan kepalanya, dia memainkan lagi 2 gunung ku dengan lembut, menyesap nya lagi dan memilin satu puti** ku.
" BAPAK " Ucap ku dengan melihat siapa yang menghubungi ku
" Sattt" Keluh ku, handphone ku terus berbunyi walau dengan Volume pelan.
" Angkat aja iiih" Jawab nya tak di ingin di ganggu sekali dia
" Saya ga konsen Saattt"
Dan Satria tertawa.
" Jawab Lah " Satria lalu duduk di samping ku
" Assalamualaikum Pak" Ucap ku
" Waalaikum Salam, Udah Tidur Van?:
" Belum, Pak. Maaf Tadi lama angkat telphone nya, tadi Vanny ga denger" Jawab ku dan Satria mencolek pinggang ku
__ADS_1
" Tidak apa apa Van, Bapak sebentar sampai, Kamu Mau Nitip apa?" Tanya bapak dan aku membulatkan mata ku, Bapak datang.
Satria yang mengetahui aku panik tiba tiba mengambil handphone ku lalu bicara pada bapak.
" Assamualaikum Pak...Bapak mau ke rumah?"
" Iyah....iya tunggu Pak" ucap Satria dan aku tertawa, lalu satria penyimpan handphone nya dan tertawa
" Sidak...kita mandi Van" Ucap nya dan Satria meninggalkan aku yang masih tertawa.
Menunggu 10 menit dan Satria langsung memakai baju yang sudah aku siapkan. Aku langsung mandi dengan cepat, mandi besar dan selesai dalam waktu cepat, ku kering kan rambut ku dengan bantuan Hairdryer dan ku ikat rambut ku setelah kering, Celana panjang bahan batik bercorak bunga bunga, dan kaos longgar berwarna putih polos menjadi pilihan ku untuk menemui Bapak yang akan datang malam ini.
Untung saja aku selesai tepat waktu, karna bukan hanya Bapak yang datang Tapi juga 3 ipar nya Satria. Aku tersenyum dan langsung mencium punggung tangan Bapak dan semua ipar ipar ku. Ini adalah kunjungan pertama Bapak dan keluarga nya suami ku, aku di bantu bibi membuat minuman dan merapihkan semua makanan yang di bawa oleh bapak.
" Rumah iya kecil ya Pak, Kursi nya aja Ga nampung kita semua" ucap Satria dan aku tertawa kecil,
" Ndak Apa apa, yang penting Kamu dan Vanny nya Nyaman disini" Jawab Bapak.
" Betah Van?" tanya Mbak Efi dan aku tersenyum
" Betah Mbak" Jawab ku dengan membawa nampan berisi minuman untuk keluarga ku. Satria mengambil beberapa kursi tambahan dari meja makan, lalu aku duduk di dekat nya.
Kami duduk bersama, lalu mereka menanyakan kepulangan Satria dari Jepang, mereka menikmati minuman yang aku siapkan,
" Buat Kamu Van, Dari Bapak" Ucap Mbak Hasna lalu memberikan amplop Coklat pada ku,
" Apa ini Mbak, Pak?" Tanya ku
" Buka Van" Perintah Bapak, lalu aku membuka nya
" Mobil nya lagi di Coba Bang Rimba, Kayanya bentar lagi Sampai" Ucap Mbak Hasna dan aku tersenyum, Satu buah BPKB mobil dan aku membulatkan mata saat membaca Jenis Mobil yang tertera di dalam nya.
" Pak...Ini buat apa?" Tanya ku, tidak enak hati dan aku berikan pada Suami ku
" Hadiah Penikahan kamu, semua mantu bapak dapet satu mobil saat mereka menikah, yang kamu telat Van, Maaf Yah" Ucap Bapak dan aku menggelengkan kepala ku, ini berlebihan untuk ku.
Bang Rimba datang dengan suara Salam nya, Aku berdiri lalu mencium tangan nya.
" Mobil nya tuh Van" Ucap Bang Cakra dan menyerahkan kunci mobil padaku,
" Mau di pake kemana Bang, Mobil sebagus itu" Ucap ku dan semua orang tertawa
" Bawa ke Kantor Van" Ucap Mbak Indah
" Nanti di kirain Korupsi lagi" Jawab ku dan suami ku mengusap kepala ku.
" Rezeki Van, ga boleh di tolak" Ucap Mbak Efi dan aku tersenyum, lagi lagi aku beranggapan ini berlebihan untuk ku, Mobil Mercy model terbaru, dengan harga hampir 3 Milyar, sangat berlebihan untuk aku yang hanya seorang Supervisor Customer Service.
" Liat deh Mobil nya" ucap Mbak Hasna, dan Satria menarik tangan ku, aku berjalan ke depan rumah, Mobil sedan Hitam, mewah dan aku malu menerima nya.
" Vanny dan Satria udah ada mobil Pak" ucap ku ketika kembali duduk bersama mereka
" Mau di jual aja?" tanya Bang Rimba
" Mau bayarin Bang?" Tanya Satria sambil tertawa.
" Kalo kalian jual, Abang beli lah" Jawab Bang Rimba
" isshhh Masa gitu, Kok di jual!" Ucap Mbak Indah
" gak apa apa Ndah...beliin rumah, rumah ini terlalu kecil, mereka kan pasti punya anak, perlu kamar dan ruangan yang besar juga buat acara keluarga " Ucap Mbak Efi yang melihat lihat dapur ku.
" atau uang nya di Tabung Van...buat tabungan anak anak mu nanti" Ucap Mbak Hasna
" Iya Van...tidak masalah bila harus di jual, bapak cuma memberikan Hak Kamu" ucap Bapak.
Aku dan Satria saling menatap lagi
" Nanti kita ngobrol lagi" ucap Satria.
Jam 11 Malam, Bapak dan semua ipar ku Pulang, Bapak berkali kali mengatakan bahwa aku dan Satria boleh menjual mobil ini. Aku dan Satria duduk di teras, memperhatikan mobil pernikahan kami.
" Gimana Van?" Tanya Satria dengan mengusap kepala ku
" Saya ga bisa pakai se mewah ini Sat, kamu aja yang pake, lebih pantes deh"
" Kalo kamu ga, saya juga ga bisa pake Van, Gimana kalo di jual ke Bang Rimba, trus kamu beliin Rumah atau Tanah"
" Ok " Jawab Ku, Dan Suami tersenyum, dia membawa aku masuk ke kamar lagi, bercinta lagi dan lagi.
__ADS_1