My Vanny

My Vanny
Alur yang berubah karna suasana hati


__ADS_3

Cinta dan kasih sayang, menjadi salah satu kebutuhan penting seorang istri, Kekayaan, jabatan dan fisik yang lebih dari nilai 8 adalah bonus saat kita bersyukur dan terus bersyukur.


" Saya mau kuliah lagi Bund, tahun ini saya ambil specialis anak, next nya saya ambil bedah anak kalo sanggup " cerita Satria dengan tangan yang terus memijat telapak kaki ku


" Bagi waktu nya gimana Pih?" tanya ku lalu aku memutuskan bangun dari rebahan ku dan duduk menepel dengan bahu nya


" Saya mohon, pertimbangkan untuk bisa berhenti kerja, Bund! Gigi butuh kamu, saya butuh kamu, dan anak anak ini sangat butuh kamu" Ucap Satria dengan mengusap perut ku


" Tapi Pih !"


" Tapi apa Sayang, kamu bilang...kamu ga ada kewajiban rutin buat kirim ke Mama, dan kalo pun ada, pakai uang saya Bund, orang tua kamu itu orang tua saya juga"


" 2 adik mu, otomatis jadi 2 adik saya" Jawab Satria lagi.


" Please " Pinta Satria dengan wajah yang sangat memohon.


" Saya pengen punya klinik sendiri Bund, Saya pengen kerja dengan Jadwal yang saya atur sendiri, bukan saya yang di atur oleh jam kerja Saya" Ucap Satria


" Klinik 24 Jam, Model klinik di depan Komplek kita gitu Pih?" Tanya ku pada Suami ku.


" Hampir Mirip seperti itu, tapi saya gak mau asal asalan Bund, Saya mau semua sesuai standart saya, Karna nanti nya saya pengen punya Rumah Sakit ibu dan Anak sendiri" Cerita Satria dan aku bangga dengan semua cita cita suami ku


" Saya Minder Pih kalo saya gak kerja, Saya ga sepinter Novie, saya ga sehebat dokter Shanti " ucap ku pelan dan Satria meraih wajah ku, dia mencium bibir ku dengan mengusap lembut telingga ku.


" Kamu itu Hebat Bund, kamu bisa bikin saya jatuh cinta, kamu bisa bikin saya nyaman, kamu bisa bikin saya cemburu, kamu bisa bikin marah dan gila, dan saya cinta kamu " Ucap Satria dan aku langsung menyerang balik bibir nya, aku ***** bibir yang agak tebal itu, aku masukan lidah ku ke rongga mulut nya dan akhir nya aku naik ke pangkuan nya, aku terlalu malu hati di puji seperti ini, oleh seorang Satria Putra Dewantara


" Saya takut menjadi bodoh" Ucap ku


" No...kamu semakin pintar bund!" ucap Satria dengan mengusap bokong ku


" Kalo ga kerja, ga mikir pih, otak bisa Buntu" Jawab ku dan membantu Satria melepaskan kancing kemeja ku


" Menurut saya ga Tuh...ini salah satu perkembangan cara berpikir mu" Jawab Satria dan aku memicingkan mata ku


" Maksud nya Pih?" tanya ku tidaj paham dengan penjelasan suami ku

__ADS_1


" Kamu naik ke badan saya !" Jawab Satria dan saat sadar, aku malu, aku memukul dada nya dengan kepalan tangan ku dan Satria tertawa.


" makin pinter di tempat tidur, service makin liar dan setoran nanti saya tambah" canda Satria dan aku memeluk nya.


" I love you Pih " Ucap ku dari hati


" I love you more, Bund" Jawab Satria


" Kasih saya waktu satu minggu Pih, Saya pasti pikirin" Pinta ku mengenai permintaan Satria mengenai pekerjaan ku


" Gak hari ini Bund?" Tanya Satria dengan melepaskan tali br@ ku, tangan nakal sudah liar di belakang punggung


" Gak...saya ga mau kasih keputusan tanpa menimbang semua aspek, saya bukan orang seperti itu" Jawab Ku dan Satria tersenyum lalu memandang dada ku yang tepat di hadapan nya.


Tangan nya menyentuh semua bagian P@yudara ku, dengan mata yang menatap ke arah ku, aku tersipu malu.


" Lanjut gak Bund?"


" Lanjuutttt pih!" Ucap ku dengan Semangat, senyum smirk nya Satria membuat aku yang mati gaya saat ini.


" Pihhh " desah ku


" Iya Sayang..." suara serak dan berat Satria membuat aku semakin melayang


" Enak Pihhhh " Ucap ku memuji keperkasaan suami ku saat mengagahi tubuh ku ini


" Iya sayang " suara Satria begitu merdu di telingga ku


" lebih cepetttt pih" pinta ku dengan manja


" Ada ade bayi Bund" Jawab Satria


" Pleasseeeee Pih" Ucap ku dengan memohon, aku sudah semakin dekat dengan pelepasan ku lagi,


" Begini Bund?" Tanya Satria setelah mempercepat laju kemudi nya

__ADS_1


" Heeehhhmm Iya Pih" jawab ku dengan lemas, aku semakin menekan bokong satria, agar lebih ke dalam dan ini gila...ini luar biasa.


" Piiihhhhhh" Aku menjerit lagi, nikmat tiada tara saat satu spot tersentuh dengan sempurna oleh adik besar nya Satria, Satria semakin liar dan akhirnya semburan hangat terasa sesak di bawah sana.


" Good Job, Bund" Puji Satria dengan mengusap pipi ku, aku tersenyum di satu sudut pipi ku, kata kata Pujian dari satria membuat aku bangga dan juga malu.


" Bangun berat " Ucap ku dengan ketus


" Pelan ih"


" angkat adek nya Pih"


" Ga Mau Bund" Jawab Satria dan lagi lagi kami tertawa.


Satria


Gadis yang ku nikahi bukan gadis manja, gadis yang ku nikahi adalah gadis pintar yang mandiri dengan sejuta pesona nya.


Aku sudah membicarakan semua rencana hidup kami ke depan nya akan seperti apa, dan dia minta waktu satu minggu untuk memikirkan masalah dia melepaskan pekerjaan nya.


Aku yakin, Vanny istri ku akan memikirkan nya dengan sangat bijak, dia wanita dewasa, pemikir ulung, kebanggaan keluarga nya, dan dia adalah wanita yang berhak atas semua kepemilikan ku saat ini.


Satu ciuman aku hadiah kan untuk nya, satu game bercinta yang gila aku berikan atas pengertian dan suasana bicara kami yang damai dan tanpa pertengkaran.


Aku...Satria Putra Dewantara, mulai bisa menahan emosi ku, saat istri ku berkata " TAPI ", aku bisa membalas nya kata TAPI nya dengan penuh kelembutan, kelembutan yang tidak pernah aku dapatkan dari sosok seorang ibu dan aku tidak ingin anak ku merasakan apa yang aku rasakan dari dulu.


Aku harus terus menurunkan EGO ku, agar Istri ku semakin percaya...Hanya Dia yang paling penting di setiap hari hari ku. aku tidak akan membiarkan nya pergi dan marah lagi. Dan itu adalah aku tanamkan dalam hati ku.


Stevanny


Jam 8 malam, aku menemani Gigi tidur, aku banyak berpesan pada nya sebelum Gigi tidur, " Jagain papih, ingetin Papih makan, Gigi harus belajar yang rajin, ga boleh lupa sholat dan berdoa untuk kebersamaan kita "


Satria mengusap rambut ku, aku ikut tertidur dengan Gigi rupanya. aku mulai membuka mata ku perlahan, senyum nya satria menyambut saat mata ku terbuka


" Jam sembilan kurang sepuluh, Bund! Jadi berangkat ke Anyer?" Tanya suami ku dengan terus mengusap rambut ku.

__ADS_1


__ADS_2