My Vanny

My Vanny
Bidan Murni


__ADS_3

Mobil sudah berhenti di depan kantor ku, gigi tertidur dengan terus memeluk bantal pink nya, masih ada 20 menit sebelum jam 8.


" Dari arah kontrakan Della, ke mana tepat nya tempat praktek Bidan itu?" Tanya Satria, aku menarik nafas ku, menatap ke luar kaca beberapa karyawan sudah mulai datang sama seperti ku, Dan Satria mencecar ku soal KB lagi.


" Buat apa sih Sat?"


" Buat apa?" Tanya Satria mengulang kata kata ku


" Buat apa kamu ke sana?" Tanya ku, aku sedang memcoba untuk tidak emosi, ini masih pagi sekali.


" Van, kamu ga bisa jawab pertanyaan saya kemarin, Kamu itu pake KB suntik untuk berapa bulan?" Jawab Satria, dia juga sedang mengatur nada suara nya


"Emang Penting Sat?" Tanya ku dengan menatap wajah nya saat ini


" Buat Saya Penting, kecuali kalo kamu ga mau anggap Penting, Saya bisa ga peduli soal kamu" Jawab Satria


" Maksudnya?"


" Terserah kamu, Kamu mau Hamil silahkan, ga hamil juga ga apa apa, Mungkin kamu ga emang ga pernah niat kali buat hamil anak saya" Jawab Satria dengan senyum nyinyir nya


" Ya ampun Sat, Pikiran kamu terlalu Jauh, lagian kalo saya ga pake KB, belum tentu saya Hamil cepet di Bulan ini" Jawab ku dengan kesal, aku sudah tidak bisa mengontrol nada suara ku.


" Nah itu kamu tau...dengan ga KB aja, kita bisa nunggu nya ga tau sampai kapan, apalagi pake KB, Dan jangan Pikir setelah Program KB selesai, kamu Bisa langsung Hamil Van, Masih ada kemungkinan reaksi dari Program KB mu Itu" Jawab Satria panjang lebar, Si Dokter sedang menerangkan sebab akibat dari KB yang aku pakai.


" Yah yah...saya ga ke pikir soal itu, kamu cari nama nya Bidan Murni, Sebelum kostan nya Della, ada Yomart, kamu parkir di situ, trus masuk ke dalam Gang, Cari aja...BIDAN MURNI" Jawab ku dengan kesal


" Good Girl" Jawab Satria dengan mengusap kepala ku.


" Saya mau kerja "


" Cium Dulu " Pinta Satria dengan senyum nya


" Sorry, lagi ga mau " Jawab ku, ku buka pintu mobil dan keluar tanpa mencium nya. aku berjalan cepat masuk ke pintu karyawan, dan selama berjalan...aku menarik nafas ku dalam dalam, Mood ku sedang tidak baik.


Pagi di kantor ku, banyak sekali yang harus aku kerjaan, belum lagi Ardhian yang datang berkunjung, semua karyawan melayani semua permintaannya, termasuk aku, Ardhian banyak meminta File file tahun ini pada ku, Hal wajar yang di minta oleh seorang Boss pada bawahannya, aku beberapa kali masuk ke ruang meeting menemui nya, beberapa kali masuk ke ruangan mbak Indah atau Ardhian yang sengaja datang ke Counter ku.


" Makan Siang Bareng saya Van" Ucap Ardhian yang berdiri dibelakang ku, aku sedang meng arroved data nasabah di komputer ku


" Saya bawa bekal Pak" Jawab ku mencoba Sopan dan ramah


" Kasih ke OB aja, Saya tamu di sini, mana tau saya tempat makan siang" jawab Ardhian


" Pesen aja pak Si Eful" Jawab ku dengan tersenyum


" Ini masih Jam kerja Van, permintaan makan siang bukan sesuatu yang di luar batas kewajaran "


" Ok...Berdua?" Tanya ku


" Kalo kamu mau berdua saya sangat senang, tapi kalo kamu gak nyaman berdua saya, kamu bisa ajak teman mu, saya ajak Lukman juga"


" Saya ajak Della deh Pak"


" Ok...30 menit lagi saya tunggu" Jawab Ardhian, aku menganggukan kepala ku, melihat jam tangan ku. Ardhian keluar dari counter ku, lalu berdiri di luar counter.


" Van.."


" Iya Pak"


" Perlu saya hubungi Satria buat minta ijin saya ajak kamu makan siang?" Tanya Ardhian dengan tangan yang menunjukan Handphone nya


" Gak Perlu Pak" Jawab ku. dan kembali fokus pada layar komputer.


30 menit kemudian, jam 13. 30 aku mengajak Della untuk ikut makan siang bersama Ardhian dan lukman. Ardhian membawa kami ke salah satu tempat makan tidak jauh dari kantor, sesuai penunjuk dan arahan dari Lukman tentu nya, jangan pikir aku duduk manis disampingnya, aku duduk di bangku penumpang dengan Della, ada Lukman yang duduk manis di samping Ardhian.

__ADS_1


" Makan apa Van?" Tanya Ardhian saat kami sudah duduk di meja kotak, Ardhian memberikan buku menu dan kertas pesanan, meminta aku untuk menulis pesanan kami. kami duduk di paling pojok di rumah makan ini, Lukman, Della dan Ardhian mencari tempat untuk mereka bisa membakar rokok nya.


" Apa del?" Tanya Ku pada Della


" Saya Soto bening aja Bu" Jawab Della


" Gw Soto Babat Van" Seru Lukman


" Bapak apa?" Tanya ku pada Ardhian, dan Ardhian tertawa


" Busyeeettt Van...Ini di luar kantor, saya dan lukman aja udah GW loe, kamu tega banget panggil saya Bapak?" Jawab Ardhian dan aku tersenyum.


" Sorry...Kamu mau pesan apa Ardh?" Tanya ku mengulang, ada rasa kecut saat aku memanggil nama nya kembali " Ardh"


" Saya samain aja sama kamu, saya selalu cocok dengan pilihan mu" Jawab Ardhian, aku menelan Saliva ku, " Paiiittt bener tuh kata kata" keluh ku dalam hati. lalu ke tulis semua pesanan kami, aku pesanan ku dan ardhian dengan della, di tambah Es jeruk dan teh tawar hangat seperti kebiasaan Ardhian dulu saat kami makan bersama.


Makan siang bersama, banyak yang bicara kan, tentang hal hal umum masalah kantor kami dan keseharian kami saja.


" Kapan Pindahan Van?" Tanya Lukman dan membakar rokok nya


" Satria pengen nya minggu Ini kita bisa Pindah" Jawab ku dengan tersenyum


" Apa gak kejauhan dari Bogor Van?" tanya Ardhi dia juga membakar rokok nya


" Gak juga Sih, kita di Bogor Kota, deket jalan Tol Jagorawi" Jawab ku


Pembicaraan ini ringan, Ardhi tidak seperti Ardhi yang pertama kali kami bertemu di ruangan nya Mbak Indah dan Meeting Room tempo Hari, dia benar benar tidak membahas soal kita berdua, dan aku merasa lega.


Aku memeriksa Handphone ku, suara Chat masuk, aku periksa dan tenyata dari Satria.


Satria


Kamu itu pake KB Suntik yang 3 bulan Van, Februari program kamu baru selesai. Ingat 3 Bulan Van.


Satria


Kamu lagi sibuk? kenapa ga balas Chat Saya!!


aku menarik nafas berat. lalu menyimpan handphone ku kembali di atas meja, membiarkan panggilan masuk dari nya.


" Kenapa ga diangkat Van?" Tanya Ardhi dengan memicingkan mata nya


" Kartu kredit?" Tanya Lukman dengan tertawa, mereka tertawa bertiga dan aku hanya tersenyum, ku lirik rokok milik Della, dia begitu santai dan menikmati rokok nya


" Minta ya Dell!" Ucap ku lalu mengambil rokok dan korek nya,


" Loe serius?"


" Jangan Bu"


" Kamu kenapa Van?" Tanya Ardhi dan aku terus mulai membakar rokok ku. Aku tidak peduli dengan 3 orang lain di meja ini, kepala ku sakit, mood ku rusak lagi dan semua karna Satria.


Satria


Aku mendatangi Bidan Murni, tempat praktek nya tidak begitu besar, rumah biasa saja, dan aku meminta Gigi untuk menunggu di luar ruangan.


Aku tidak bisa bertemu langsung dengan Bidan Murni nya, Beliau sedang Dinas di Puskesmas dan aku hanya bisa menemui Assisten nya, Mahasiswa program kebidanan yang sedang praktek di akhir semester nya.


" Kartu nya hilang, Bisa di lihat dari buku tamu atau buku pendukung lain mungkin" Ucap ku, ketika aku di tanya Kapan dan siapa nama istri ku.


" Stevanny atau Vanny" Jawab ku, assisten bidan itu sibuk mencari nama istri ku


" Gak ada nama Stevanny pak, ada juga Fani" Jawab nya mulai kesal, aku memang memaksa nya terus mencari, nama siapa pasien Stevanny yang datang ke sini.

__ADS_1


" Bulan November Mbak, sekitar hari Senin, tanggal 30" Jawab ku


" gak ada pak, ga ada nama Stevanny" Jawab nya


" Emang kalo ada yang datang ke sini, gak diminta KTP nya?" Tanya ku juga kesal


" Gak tuh Pak, kami cuma tanya nama dan alamat aja " Jawab nya lalu memberikan buku besar berisi nama nama ibu ibu yang datang datang ke sini. aku tambah kesal karna saat aku mencari nya aku tidak menemukan nama Stevanny di buku itu.


" Yakin semua yang datang, di data?" Tanya ku


" Yakin lah pak"


" ini mungkin...tanggal 30 november, sore" Aku menunjuk satu nama yang hampir mirip dengan nama istri ku " Fani" aku membacanya dan ternyata dia menggunakan suntik KB untuk 3 bulan. aku pergi setelah mengucapkan terima kasih pada Asisten bidan itu, ku genggam tangan Gigi dan meninggalkan tempat Bidan Murni.


" Gigi udah laper sayang?" Tanya ku, setelah gigi duduk di samping ku


" Belum Pih, Gigi masih kenyang" Jawab Gigi dan aku tersenyum. Ku kemudikan mobil menuju rumah.


Sudah jam 2 siang, aku rasa Vanny sudah tidak terlalu sibuk, aku menghubungi nya, memberikan info penting tentang KB yang dia pakai saat ini, chat ku tidak di balas, panggilan telphone ku di abaikan oleh nya, dan aku semakin kesal saja saat ini.


Sore setelah Ashar aku terbangun dari tidur ku, sebenarnya tadi itu aku hanya menutup wajah ku dengan bantal, aku sedang mencoba melupakan kecerobohan istri ku, tapi karna rasa lelah, akhirnya aku tertidur, suara ketukan pintu kamar, terdengar lebih jelas, aku berjalan pelan membuka pintu kamar.


" Pih...ada Om Reno di luar" Ucap Gigi dan aku tersenyum.


" Thanks Gi, Bilang Om Reno, tunggu, Papih sholat dulu" Jawab ku, aku dengan cepat masuk ke kamar mandi, aku sholat siap menemui Si Gresek Reno, Reno sudah duduk di Sofa, tangan nya sibuk memainkan Remote TV, dan Gio yang sedang memainkan HandPhone nya.


" Assalamualaikum " Sapa ku


" Waalaikum Salam " Jawab Reno dan Gio, Aku berjabat tangan dengan Reno, Sahabat ku dan memeluk nya erat, 10 hari kami tidak bertemu, dan aku merindukan candaan nya, Lalu Gio...aku tersenyum pada nya, Gio mencium punggung tangan ku, dan aku memeluk nya.


" Selamat Gi....Sabam Bangga Banget" Ucap ku dengan memeluk nya


" Thanks Bam" Jawab nya.


Kami duduk bersama, Gio mengeluarkan medali Emas Dan Piagam nya, menunjukkan pada ku dan senyum ku tidak pernah lepas saat melihat dan memegang medali tersebut.


" Mau Hadiah apa dari Sabam?" Tanya ku dan Gio tertawa


" Gw Handphone Sat, HP gw nge lag" Seru Reno dan kami tertawa


" Mau apa Gi?" Tanya ku lebih serius


" Ga usah Bam...Sabam udah banyak keluarin biaya buat kejuaraan Gio kali ini" Jawab Gio dan aku tersenyum


" Motor Ninja Mau ga?" Tanya ku dan Gio menutup wajah nya dengan tangan


" Mau Bam...tapi malu"


" Norak" Seru Reno


" Ya udah...Nanti Sabam Reno yang urus, Gw transfer duit nya ke loe Ren, Gw pindahan rumah ke Bogor" Ucap ku


" Sipp lah...lebihin yang banyak, gw perlu Handphone" Jawab Reno dan kami tertawa,


Transfer uang berhasil ke rekening Reno, aku sudah ijin pada Vanny sebelum mereka berangkat ke Korea, Vanny tidak keberatan karna uang yang aku pakai adalah sisa sisa uang saat aku menjadi Atlet dulu.


Aku sangat tertarik dengan cerita Reno dan Gio, selalu banyak kisah di balik setiap kejuaraan, dan aku bangga...Bangga memiliki team Atlet yang Hebat dan Kompak.


Dan Suara Adzan Maghrib pun terdengar dari televisi, aku panik dan membulatkan Mata ku.


" Magrrriiibbbb....gw belom Jemput Bini Gw" teriak ku Dan Reno tertawa


" Lupa punya Bini?"

__ADS_1


" Lupaaaaa.....Vanny tadi gw anterin, Dia ga bawa mobil, harus nya gw jemput" jawab ku dan Ternyata sudah banyak chat masuk dari istri ku, aku pikir dari Group...karna aku biasa nya tidak begitu memperdulikannya.


__ADS_2