
Bidan Murni menjelaskan semua hal yang sempat membuat aku tidak nyaman, mengenai kejanggalan antara KB dan kehamilan nya. satu buku catatan khusus tentang kegiatan Bidan Murni, ada yang Suntik Vitamin, Suntik baylkin biar kulit nya putih dan itu terpisah dengan buku besar yang aku sempat baca dengan Assistent nya bidan Murni....dan akhir nya aku bisa tertawa.
Bahkan di buku itu lengkap dengan ada nya nama Stevanny Leonnydhia dan juga nomor Handphone nya, jadi aku percaya Vanny istri ku tidak KB, Dia miss communication dengan Della saat akan di suntik di Bidan Murni.
" Percaya kan Pih?" Tanya Vanny yang sudah duduk manis di mobil, aku tersenyum dan mencium pipi nya
" Beneran Jadi Papihhhh saya....Ya ampun Makasih yah Bundddd" Aku memeluk nya, mencium cium wajah nya dengan hidung ku dan Vanny terkekeh
" Geli "
" horni an deh" Cibir ku dan Vanny semakin terkekeh saja.
" Kaya yang kagak aja" protes Vanny, matanya tertuju ke lutut lalu ke paha
" Gak Tuh...biasa aja" jawab ku bohong
" Ini apa " Vanny memukul celana jeans ku yang sudah sesak, adik ku meronta, aku tertawa
" Aduuhh sakit Van, saya aja gak pernah pukul pukul dia, awas kalo minta yah" Ucap ku dan Vanny tertawa tawa.
Sepanjang jalan di dalam mobil Vanny menceritakan malam nya sendiri di rumah sakit, sedih sekali mendengar cerita nya, malam ini aku akan menganti malam kemarin, aku akan memeluk nya saat dia tidur nanti.
Aku mengusap perut nya, dia tersenyum dan Vanny menjaga tangan ku agar tetap mengusap perut nya.
" Besok ga boleh pake Rok Jeans gini yah Bund"
" Masih muat Pih"
" Ngeyel deh "
" Iya iya..besok ga pake lagi Jeans lagi" Jawab Vanny dengan senyum di satu sudut pipi nya.
" Gemeass" Ucap ku dan aku bahagia lah...Vanny mau mengikuti saran ku.
" Ngantuk Ih Pih" Vanny menguap dan aku menutup mulut nya, mulut nya terbuka lebar seperti anak kecil saha
" Tidur deh, nanti saya bangunin kalo sampe ruko komplek, takut kamu ada yang mau di beli, saya males keluar lagi"
" Boleh deh...tidur yah pih"
" Hemmmhh" Jawab ku lalu fokus mengendarai mobil ku.
Hasna
__ADS_1
" Bang...Gigi itu anak abang, Ayo Bang...kita jemput ke bogor" Ucap ku merajuk lagi, satu bulan ini aku terus merajuk, menyakinkan Suami ku bahwa Gadis kecil bernama Gigi adalah anak nya. Bagaimana aku tidak yakin, aku ini perempuan, Naluri nya lebih kuat di banding laki laki.
Saat pertama kali Gigi datang ke Bandung saat pernikahan Satria, aku terkejut, Kaget dan rasanya hampir tidak percaya, Aku melihat senyum gigi yang sangat mirip dengan senyum anak ku Vio. Senyum gadis itu begitu menggetarkan hati ku, belum lagi cerita satria mengenai siapa gadis kecil, gadis kecil yang hidup bersama Nenek nya, lalu sang nenek meninggal, semantara ibu nya gigi sudah meninggal saat melahirkannya.
" Kamu yakin?"
" Yakin Bang, 2 hasil test menyatakan 99 % kalian cocok" Ucap ku
" ini dari rumah sakit di singapore, gak akan salah Bang" Ucap ku lagi.
" Maafin Papah, Mah!" ucap suami ku dan aku yang memeluk nya terlebih dahulu.
Cerita ini berawal dari 8 tahun lalu, aku hamil anak ke 2 saat itu, Kondisi drop, aku harus bed rest selama hampir 4 bulan di rumah sakit. satu bulan pertama aku dan Bang Rimba baik baik saja, dan aku merasa sangat bersalah pada suami ku, aku tidak bisa melayani lahir bathin nya, anak ku yang pertama aman di rumah bersama para pekerja, tapi suami ku????
Masuk ke bulan ke dua, kondisi aku masih belum ada perubahan, aku itu tidak sakit seperti orang sakit, aku hanya lemah, aku merasa tubuh ku sangat letih, aku muntah setiap kali makan dan minum, dan sering kali aku pingsan karna tubuh ku terlalu lemah.
Bang Rimba tidak pernah mengeluh sama sekali, dia suami yang sangat baik, ayah yang baik dan aku sangat mencintai nya.
" Abang gimana?" Tanya ku saat sore itu, bang rimba terlihat lelah setelah bertugas nya
" Yah begini, Kamu gimana Mah?" Tanya nya pada ku, lembut...selalu lembut dan aku semakin merasa bersalah saja pada nya,
" Abang cari istri lagi deh...Mama ga apa apa kok, abang kan perlu menyalurkan nya" Ucap ku serius dan Bang Rimba langsung marah saat itu juga.
" Ayo lah Pah...nihaki gadis baik baik, papa perlu itu, dari pada papa kelepasan di jalan" Ucap ku dan Bang Rimba semakin marah
" Kamu pikir saya gak Bisa jaga diri saya?! kamu pikir saya laki laki ga punya Hati?" Jawab Bang Rimba dan mengusap lengan nya
" Maafin saya Pah, saya ga bisa layanin papah, tolong cari gadis buat jadi istri papa" Pinta ku dan Bang Rimba pergi dengan tanpa kata kata.
setiap hari Bang Rimba datang, pagi dan malam, bahkan dia sering menemani ku tidur di rumah sakit, dan aku Terus merasa bersalah, andai aku bisa sehat...andai aku tidak lemah, Tapi pada kenyataannya aku benar benar lemah, dan aku terus merajuk pada Bang Rimba untuk mencari istri lagi.
Hari itu, hari jumat. Bang Rimba membawa gadis cantik,
" Kamu siap di poligami?" Tanya nya pada ku
" Siap Pah!" Jawab ku dengan yakin, suami ku masih muda, usia nya saat itu masih 35 tahun, kebutuhan s*x nya besar dan aku tidak boleh egois.
Pernikahan Bang Rimba di rumah sakit, di ruangan aku di rawat. Gadis cantik itu sudah Yatim dan hanya ada ibu dan juga wali hakim yang akan menjadi Penganti ayah nya saat menikah.
Pernikahan yang cepat, tanpa prosesi ini itu dan aku mengucapkan terima kasih pada gadis bernama Euis. Dia memanggil ku Mbak Hasna dan aku memeluk nya saat itu.
Euis itu gadis yang baik, apalagi ibu nya...Euis dan ibu nya bahkan ikut merawat ku saat aku di rumah sakit, menemani aku saat Bang Rimba bekerja dan rasa nya aku sudah seperti ke adik sendiri saja.
__ADS_1
Setelah menikah dengan Euis, Bang Rimba tidak ada perubahan sikap, aku nilai Bang Rimba itu bisa adil pada kami berdua, Dan menurut ku Euis itu hebat, dia sangat bisa menjaga perasaan ku, dia melayani suami ku dan kami sudah seperti saudara saja.
Kemana Bapak dan adik adik nya Bang Rimba?
Mereka ada...Mereka selalu menjenguk ku, memberikan dukungan untuk ku, dan Untuk Euis aku mengenalkan nya sebagai saudara Sepupu ku, karna Euis hampir setiap hari menemani aku di rumah sakit.
satu bulan pernikahan Bang Rimba dan Euis, kondisi ku sudah mulai membaik, tapi aku masih sesekali pingsan dan untuk makan dan minum, aku sudah mulai bisa makan walau sedikit demi sedikit, Euis lah yang merawat ku dengan sangat telaten nya.
" Kamu belum hamil Is?" Tanya ku dan Euis menutup mulut nya, dia tertawa kecil
" Belum Mbak"
" Gak pake KB kan?"
" Gak pake Mbak, Bang Rimba bilang Boleh" Jawab Euis dan aku tersenyum
" Bang Rimba baik kan Is?"
" Baik Mbak!" Jawab nya dan lagi lagi aku setuju, Bang Rimba memang Baik.
Sudah 4 bulan aku di rumah sakit, aku sudah pulih, dan kandungan ku semakin sehat, walau tidak buncit, tapi perut ku tidak rata lagi.
" Ayo kita pulang ke rumah Is" ajak ku dan Euis tersenyum. aku mengajak nya pulang ke rumah kami, rumah aku dan Bang Rimba, kami sepakat akan tinggal bersama, Bang Rimba akan memberitahu Bapak dan semua adik adik nya tentang perkawinan ke dua nya malam ini.
Saat semua adik adik nya Bang Rimba sudah datang, Bahkan Bapak sudah bermain dengan cucu pertama nya, Euis tidak muncul, Euis tadi pamit untuk kembali rumah nya dulu, rumah yang di belikan Bang Rimba untuk nya, Euis bilang akan membawa pakaian dan Ibu nya, tentu saja aku dan Bang Rimba percaya, tidak ada perubahan sikap dari Euis, Bahkan kami mengantar nya sampai di rumah nya, tapi Euis menolak untuk di tunggu, Euis minta di jemput sore hari saja.
Sore berganti malam, aku dan bang rimba mulai cemas memikirkan Euis, dia dan ibu nya tidak ada saat Bang Rimba menjemput nya sore itu.
Bang Rimba menyusul ke sukabumi, daerah asal nya euis, tapi bang rimba tidak menemukannya di sana, bang rimba menceritakan kondisi rumah euis yang tidak terurus dan tidak ada tanda tanda kedatangan Euis pulang ke rumah nya di sukabumi.
Satu bulan kami mencari nya, dan belum hasil, lalu bang Rimba di mutasi ke Solok dan kami tidak pernah menemukan euis. bahkan saat kami kembali ke Jakarta setelah 4 tahun lama nya berganti ganti daerah dinas, euis belum ada kabar juga.
Kami melupakan Euis, dan malam ini...kami memutuskan untuk ke Bogor, ke rumah Satria, Menjengguk Vanny lagi, Berbicara pada bapak dan adik adik yang sudah menunggu kami di rumah Satria, lalu akan mengajak Gigi tinggal bersama kami, aku berjanji akan merawat nya dengan baik, akan menyayangi nya seperti anak ku sendiri.
Udah dulu yah Beibbb....udah malem cape ngetik na. Di tunggu like dan koment nya,
Ini Cerita halu, maaf kalo ada yang ke singgung dan tidak suka. kalo mau yang rada bener ada cerita saya di Novel Desi Janda 3 anak, ada Bunda Desi dengan cycle nya Dimas, Felix dan Heri.
dan ada saya di cycle nya Boy...ayo sahabat nya si boy siapa aja? Ada Angel, Mitha, Ocha, Vero, Sandri, Juan, Arif dan hendrik. Saya yang mana coba???? hehehe yang bisa nebak juara lahhh.
Yang pasti saya bukan orang sunda, Saya dari sebrang, Tapi karna gaul ama si Bunda, saya bisa bahasa sunda walau kasar, saya biasa menggunakan kata " Mah, Atuh, dan piraku!"
makan sambel terasi plus pete jadi favorit lah, ngeliwet dadakan dan saya sempat kerja di hotel punya nya si Boy, bos gila yang bucin abis,
__ADS_1