My Vanny

My Vanny
Rumah Sakit


__ADS_3

Indah


Aku panik, adik ipar ku Vanny, pingsan di kantor. aku dan Ardhian membawa ke rumah sakit terdekat dari kantor kami, pingsan yang cukup lama, bahkan sampai kami tiba di UGD, adik ipar ku belum sadar kan diri.


Aku terus berada di samping nya, dan yang membuat aku kesal, adik ku Iyan menangis saat ini, air mata nya menetes seperti anak gadis saja.


" Tadi siang Vanny ga makan kata Della" Cuit Iyan dengan isak tangis nya


" Iya...itu dokter lagi periksa yan"


Jawab ku mencoba tenang. aku sendiri sebenarnya takut, takut karna melihat kondisi adik ipar ku, takut juga nanti melihat reaksi suami nya Vanny saat melihat adik ku menangis seperti ini dan juga takut...adik ku melakukan sesuatu pada Vanny yang menyebabkan vanny jatuh pingsan.


Dokter selesai memeriksa Vanny, Infusan sudah di pasang dan dokter meminta kami untuk memesan kamar perawatan.


" Biar iyan yang urus, Mbak jagain Vanny " Ucap Adik ku, dia berjalan cepat begitu mendengar perintah dokter.


Ardhian pergi meninggalkan aku dan Dokter, satu pertanyaan dari ku untuk sang dokter " ada apa dengan adik ipar saya?"


Dokter nya tersenyum dan mengatakan " hanya kelelahan, asam lambung yang naik, membuat nafas nya berat, tapi setelah pasien sadar, kami akan melakukan test urine "


" Test urine?" Tanya ku lagi


" Seperti nya pasien Hamil" Jawab Dokter, lalu pamit meninggalkan aku dan Vanny, aku mengusap kepala nya, aku pegang tangan nya.


" Mbakk" vanny memanggil aku dengan suara yang hampir tidak terdengar oleh ku, untung saja aku fokus memperhatikan nya


" udah bangun sayang?" tanya ku dengan rasa senang, Vanny membuka mata nya lebih lebar, berusaha memaksimalkan kesadaran nya


" Vanny dimana Mbak?"


" Kita masih Di UGD, tadi kamu Pingsan" Jawab ku


" Kamu mau minum Van, Mbak cari dulu yah?" Tanya ku kemudian


" gak Mbak, Ga pengen!" Jawab nya lemah. Vanny hanya tersenyum lalu memindahkan perhatikan nya ke tempat lain.


Ardhian datang dengan selembar kertas di tangan nya. dia langsung memperhatikan kondisi Vanny.


" Van...Gimana? udah Sadar kan?" Tanya adik ku begitu khawatir, dan aku mengeluh dalam hati. "Jangan Over iyan...please"


" Ada kamu juga toh, Jadi repotin yah Ardh" Jawab Vanny lemah dan adik ipar ku itu tersenyum


" Gak ada kamu ngerepotin Saya Van....Gak Ada" Jawab Iyan dengan semangat nya, suara yang tulus dan Vanny tersenyum lebih lebar


" Lebaaayyy ade nya Mbak Indah" Seru nya membuat Adik ku iyan tertawa. tapi kenapa hati ku tidak enak mendengar jawaban Vanny, apakah mereka menjalin hubungan mereka lagi?


Perawat datang dan Vanny akan segera di pindahkan ke ruang perawatan yang sudah iyan pesan,


" Ini VVIP?" Tanya Vanny ketika kami sampai di ruangan perawatan, kamar yang luas bahkan terkesan ekslusif sekali, tapi aku pikir Wajar lah untuk gadis bernama Vanny, Mantu keluarga Bapak Indra Dewantara, Istri dari Satria Putra Dewantara.


" Asuransi saya di kelas 1 " Ucap nya lagi

__ADS_1


" ceeekkk" Ardhian berdecak


" ada saya, saya bayar pribadi Van, ga usah mikir ini itu, Kamu harus sehat pokok nya" Jawab adik ku dan kemudian dia pergi lagi, setelah Vanny terbaring si ranjang pasien.


" Mbak" Vanny memanggil ku lagi


" iya Van"


" jangan kasih tau Satria yah, Please" pinta nya memohon sekali pada ku, aku memegang tangan nya


" Satria suami kamu Van. kenapa ga di kasih tau?" Tanya ku dengan lembut


" Gak Mbak, Please Vanny minta tolong banget"


" Apa ini ada hubungan nya dengan Iyan?" Tanya ku lagi, aku benar benar khawatir dengan masalah ini.


" Gak ada hubungan apa pun dengan Ardhi Mbak, Mbak tenang aja" Jawab Vanny yang selalu memanggil Ardhi untuk adik ku, seperti nya Vanny paham akan kekhawatiran ku


" Bener Van?"


" Bener Mbak!" Jawab Vanny dengan tersenyum


Ardhian datang dengan membawa tas kantong berwarna biru khas nya mini market, membuka isi nya dan menyimpan di atas lemari di dekat tempat tidur Vanny, lalu menyimpan lagi ke lemari Es, memberikan satu botol mineral water untuk ku dan membuka satu botol lagi.


" Minum dulu Van, kamu Pasti haus. Tapi ga pake sedotan...gak ada " ucap Ardhian dan ku lihat Vanny menurut pada Ardhian, ardhian begitu hati hati membantu Vanny untuk meminum, dan lagi lagi aku merasa khawatir.


Aku terus berusaha melihat interaksi mereka berdua, aku tidak ingin mereka melakukan hal hal buruk, itu tidak baik, Vanny sudah menikah, dan adik ku masih terlihat begitu mencintai Vanny.


" Iya Pah"


" Di rumah sakit Pelita"


" Vanny sakit"


" Kecapean kayanya pah"


" Papa mau Jemput?"


" Ya udah, Mama tunggu "


Vanny dan Ardhi menatap ku.


" Bang Yudha, Mbak?" Tanya mereka kebersamaan


" Iya... Bang Yudha mau jemput " Jawab ku, dan ku lihat vanny tersenyum, senyum nya begitu lemah, terkesan memaksakan


" Bukan saya yang hubungi Bang Yudha Van, Sorry....saya ini istri nya Bang Yudha, dan Pasti Setelah ini kakak beradik itu saling memberikan kabar" Ucap ku dan Vanny menganggukan kepalanya


" Iya ga apa apa Mbak" Jawab Vanny


" Kamu mau telphone satria Van? pake hape saya aja!" Tanya Ardhian dengan memberikan handphone milik nya

__ADS_1


" Gak Usah Ardh, lagi Hape saya di meja counter, dan Satria masih sibuk di jam jam ini" Jawab Vanny dan Adik ku terlihat tersenyum.


Benar saja, tidak sampai 10 menit setelah Bang Yudha menghubungi ku, Satria menghubungi ku.


" Waalaikumsalam ya"


" Iya...pingsan tadi di kantor"


" Udah....ini di rumah sakit Pelita"


" Baru masuk ruang perawatan, jadi belum bisa kabarin kamu"


" Orang pingsan masa bawa hape sih ya....ada di kantor deh kayanya"


" Iya...mbak tunggu yah, hati hati di jalan"


" Satria?" Tanya Vanny


" Iya " Jawab ku


" Hemmhhhh" keluh nya lagi, raut muka nya berubah sedih, aku melihat kesedihan di wajah nya, ada apa dengan adik ipar ku ini????.


Perawat datang dan memberitahukan pesan dokter yang tadi, akan ada sample darah dan urine yang di ambil oleh nya, aku dan ardhian keluar dari ruangan dan waktu nya meminta penjelasan pada adik ku.


" Iyannn"


" Yah Mbak" ucap Ardhian adik ku menjawab panggilan ku, namun tangan nya tetap sibuk dengan handphone nya.


" Kalian ga berhubungan lagi kan?" tanya ku to the point, Adik ku langsung menyimpan handphone ke saku celana nya, smirk nya membuat aku semakin pemasaran menunggu jawaban nya.


" Andai itu terjadi...Mbak dukung iyan?"


Aku memukul bahu nya berkali kali, gemas mendengar jawaban nya.


" gak boleh iyan sayang...gak boleh sayang" Ucap ku dan aku memeluk nya, aku menyayangi adik ku...tapi aku harus sadar, aku harus logis, Vanny istri nya Satria.


Ardhian mengusap punggung ku.


" Iyan ga seburuk yang Mbak pikir, Iyan tau diri" Jawab nya dengan terus mengusap punggung ku.


" Mbak gak usah khawatir, sampai dengan saat ini, iyan ga punya hubungan lebih dengan Vanny, tapi iyan berharap takdir berpihak lain pada iyan" Jawab nya dan aku memukul dada adik ku, adik ku tertawa dan aku ikut tertawa, adik ku masih mencintai Vanny, tapi aku percaya... ucapan Ardhian itu jujur.


" Ga salah dong iyan!!!!"


" Gak tau ah...puyeng " Jawab ku dengan tertawa.


Ya ampun susah sekali menjadi aku ini, untung saja perawat keluar dari ruangan, aku masih berdiri dengan Ardhian di depan ruangan ini, perawat keluar dengan Membawa sample darah dan urine nya Vanny, dan beberapa teman teman di kantor ku sudah terlihat datang, aku dan Ardhian menunggu mereka semua dan masuk ke ruangan perawatan Vanny.


Kami masuk bersama, Vanny langsung tersenyum lalu menutup wajah nya malu malu.


" Ih Jadi ngerepotin semua orang deh" Ucap nya dan semua warga kantor ku bersautan menjawab ocehan adik ipar ku.

__ADS_1


Kami mengobrol bersama di ruangan ini, Ramai sekali, sesekali kami tertawa karna joke joke kecil dari kami, untuk Vanny yang hanya bisa berbaring saat ini. anak anak buah ku memang kompak dan solid, kami tidak pernah membeda bedakan satu divisi dengan divisi lain nya.


__ADS_2