
Senin Pagi, Satria mengantar aku ke Kantor, Dia cuti untuk 3 hari ke depan, kami tertawa saat kami duduk manis di mobil yang akan segera berpindah tangan.
" Gak keren yah Van?" Tanya Satria sambil mengemudikan mobil dan memakai kaca mata nya
" Keren Sat " Jawab Ku dengan mengusap lengan nya
" Gak Jadi di jual yah"
" Mau nya kamu...Mau nyari perhatian Dokter Shanti Hah!" Tanya ku dan Satria tertawa
" Saya cukup kamu Van, ga perlu yang lain" Jawab nya dan hati ku berbunga bunga.
Sampai di kantor dengan selamat, Setelah mencium pipi suami ku, aku turun dari mobil dan Sudah ada Della yang menunggu aku di depan pintu masuk sebelah mesin mesin ATM
" Dianter Pak Ardhian Bu?"
" What apa nih?"
" Itu bukannya mobil nya Pak Ardhian?" Tanya Della dan mengandeng tangan ku,
" suami ku Dell, itu mobil dia, tapi udah mau di jual " Cerita ku, aku tidak hapal mobil ardhian seperti apa dan Della langsung cepat berkomentar
" Kirain Pak Ardhian....sama mobil nya Bu" Jawab nya dan kami tertawa.
Pagi yang sibuk, selain menghandle anak anak CS, beberapa kali aku harus ke atas bagian teller, autorisari untuk transaksi nasabah di atas 100 juta, senin itu memang banyak transaksi besar, belum lagi menemui para nasabah prioritas, mereka selalu mendapatkan pelayanan lebih dari kami.
Jam 13.45 aku makan siang bersama Mbak Indah dan Lukman, Mbak Indah sudah biasa lagi padaku, tadi saja sempat menanyakan mobil yang akan di jual.
Dan makan siang kali ini, aku yang membayar nya, Mbak Hasna sudah mentransfer uang jual beli mobil, dan aku menunjukan chat singkat ku dengan Satria pada Mbak Indah.
" mau di beliin apa Van?"
" Satria pengen beli rumah di Bogor Mbak, dia deket ke tempat ngajar Teakwondo nya, Vanny juga ada temen disana" Jawab ku
" Mau nyari rumah Van?" Tanya Lukman dengan cepat
__ADS_1
" Iya...kalo ada jual kasih tau gw yah Man " Jawab ku dan
" Budget berapa?" Tanya lukman serius
" Jangan tanya harga Man, Duit dia banyak banget, kalo kurang Saya yang bayar, kamu tunjukin aja rumah yang cocok buat dia, Dia ini adik ipar nya Suami suami saya" Jawab Mbak Indah dan Lukman yang sedang makan di depan ku kaget seketika
" Serius Bu?"
" Iya...Satria suami nya Vanny, Itu adik nya Suami Saya" Jawab Mbak Indah dan aku hanya tersenyum
" Pantesaaannn Si Ardhi Kekih banget" Jawab Lukman dan Bu Indah tersenyum tipis, aku benar benar tidak enak hati.
" Belum Jodoh Yah Van, Toh...kamu gak nikah dengan Ardhian, tetep jadi Ipar Saya Kok" Jawab Bu Indah Dengan menepuk bahu ku
" Iya Mbak...Maaf, Vanny ga tau kalo Ardhi itu adik nya mbak Indah, dan Vanny tau nya Ardhi itu hilang begitu saja" Jawab Ku jujur, cerita kami berlanjut, belum lagi Lukman sebagai sahabat Ardhi ikut menceritakan semua masalah 4 tahun ini.
" Doain Ardhian yah Van, biar bisa cepet cepet dapet ganti nya kamu"
" Pasti Mbak " Jawab ku dengan tulus, aku pasti mendoakan yang terbaik untuk nya.
Aku dan Istri ku setuju untuk menjual Mobil hadiah pernikahan kami dari Bapak, sebenernya sayang dan ada rasa tidak enak hati pada bapak, tapi bapak sangat paham, aku dan Vanny belum membutuhkan mobil mewah saat ini, rumah yang lebih nyaman dan halaman luas untuk bermain anak anak ku nanti, adalah prioritas ku dan Vanny untuk saat ini. aku menjual nya ke Bang Rimba, dan pembayaran jual beli selesai ketika Mbak Hasna menunjukan beberapa bukti transfer ke rekening istri ku.
" Kalo buat beli rumah kurang, kabarin Mbak Hasna, Ya" ucap Bang Rimba,
" Iya bang, Tapi iya juga masih punya tabungan kok, jadi InsyaAllah bisa kebeli rumah" Jawab ku dengan serius, rasa nya cukup lah membeli rumah besar untuk istriku dengan uang ku sendiri.
" Vanny ga berubah pikiran buat adain Resepsi, ya?" Tanya Bapak dengan melipat koran yang selesai di baca nya
" Gak Pak, Vanny itu orang nya simple banget, gak pengen apa apa" Jawab ku dan Mbak Hasna tertawa.
" Yah sudah, kabari kami saja bila ada perubahan, Bapak siap untuk mengadakan resepsi kalian" ucap Bapak
" Baik Pak" Jawab ku. Selesai makan bersama Bapak dan Bang Rimba di rumah nya, aku pamit untuk menjemput istri ku, Mobil hitam HR-V ku tadi di antar Sopir nya Bapak ke rumah abang ku, Jadi sekarang aku bisa jemput Vanny, tanpa perlu mondar mandir Jakarta - Bogor terlebih dulu lagi.
Rencana nya sore ini aku dan istri ku akan mulai mencari Rumah di Komplek perumahan nya Lukman, Banyak pertimbangan untuk memilih komplek itu, 2 sahabat Vanny sudah tinggal di situ, tempat latihan Taekwondo, lingkungan komplek yang Benar benar Asri dan Bersih jadi anak anak ku bisa bermain dengan udara yang masih Fresh, dan di komplek itu awal pertemuan aku dan Vanny.
__ADS_1
" anak anak ku" Aku bergumam...Ini sudah satu bulan penanaman benih benih kami, seingat ku Vanny belum menstruasi, tapi? Bisa saja kan Mens saat aku seminar? atau memang belum menstruasi karna pembuahan nya berhasil...aku tersenyum sendiri, kita tanya si cantik itu nanti.
Dengan semangat ku kemudikan mobil, aku harus mempersiapkan semua nya, dan yang paling penting adalah Aku dan istri ku harus lebih sering mengkonsumsi makanan sehat dan susu untuk program kehamilan nya. Sudah hampir dekat ke kantor nya Vanny, aku mampir ke mini market untuk mencari susu dan yang lain nya. untung saja walaupun aku bukan dokter kandungan, sedikitnya familiar dengan hal hal seperti nya. Ku banding kan kotak demi kotak susu pra kehamilan yang ada di mini market ini, dan aku memilih Esensis nya Prenagen untuk istri ku, Rasa coklat dan Vanila, di tambah yoghurt, dan semoga saja Vanny bisa cepat hamil.
Tepat jam 5 aku sudah standby di parkiran kantor istri ku, lalu aku chat vanny, mengabarkan aku sudah tiba di kantor nya, 15 menit kemudian Istri ku sudah terlihat berjalan dengan menggandeng tangan nya Mbak Indah, pemandangan yang cantik, 2 wanita dengan tinggi hampir sama, berjalan dengan tertawa tawa kecil, begitu mendekat aku segera mencium tangan Mbak Indah, Mbak Indah seperti biasa, menepuk pipi ku.
" Langsung ya Mbak" pamit ku
" Hati hati" Jawab Mbak Indah, Mbak Indah sudah masuk ke mobil nya, lalu aku menggenggam tangan istri ku, membukakan pintu mobil untuk nya.
" Langsung ke Bogor?" Tanya ku
" Ke Mall dulu yah Sat..." Pinta nya malu malu
" Beli apa Van?"
" Cincin Kawinnnn" Jawab nya dengan ketus, aku tertawa dan mengusap kepala nya
" Iya...kamu ga pake cincin kawin yah Van, Maaf ya Cinta ku" lalu ku kecup pipi nya dan wajah nya seketika saja merona, lucu melihat nya seperti ini, cantik nya berlipat.
" Iya maka nya beliin Sat, Mas Edi tuh masih ga yakin loh kalo saya udah nikah" jawab istri ku dengan mengkerucutkan bibir, " Itu sih dia aja yang genit, Let's go lah..."
Aku mulai mengemudikan mobil, tidak lupa satu kancing kemeja nya aku lepas, istriku tertawa, lalu dia duduk dengan melipatkan kaki nya di jok, duduk menghadap aku dan aku tersenyum karna dia seolah sedang menggoda ku.
Sampai di Mall, aku berjalan di samping nya, Vanny memegang lengan ku, bahkan lengan ini menempel dengan salah satu bukit nya, lagi lagi aku tersenyum. Istri ku sedang " Tinggi" seperti nya.
Vanny memilih satu cincin emas putih dengan berlian kecil yang menghias ditengah nya.
" Kamu ga pake Sat?"
" Say laki laki, ga pake Emas "
" Gitu yah? Terus biar orang lain tau kamu udah nikah gimana?" tanya ny dan aku tersenyum
" Saya jaga sikap saja, dan kamu harus percaya, saya itu sudah cukup dengan kamu " Jawab ku dan Vanny tertawa dengan mencubit pinggang ku.
__ADS_1
Aku membayar cincin dengan card ku, lalu mengandeng nya lagi dan kami langsung menuju Bogor, Mencari rumah walau hari sudah malam.