
"Astaga,mati lah aku,Ziva kau ini benar-benar bodoh ya, mengapa aku bisa melakukan kesalahan seperti ini, ini sangat cangung dan juga melakukan."Umpat Ziva kepada dirinya sendiri sambil berjalan masuk ke kamar dan duduk di tepi ranjang dengan semua penyesalan yang tersisa.
Benar saja, tidak lama kemudian, Zafian pun masuk ke dalam kamar Ziva dengan membawa bag obat yang tadi dari rumah sakit untuk Ziva.
"Ini."Ucap nya sambil meletakkan tas obat tersebut di ranjang di sebelah Ziva.
"Terima, terima kasih tuan, maaf sudah merepotkan."Tutur Ziva dengan gugup.
"Bisa sendiri kan?"Tanya Zafian lagi.
"Em, iya, bisa tuan."jawab Ziva mulai membuka perban yang ada di tangan kiri nya itu.
Lama menatap Ziva yang kelihatan nya kesulitan dengan satu tangan membuka perban itu Zafian pun akhirnya mendekati Ziva kembali mengambil alih untuk membuka perban tersebut.
"Lama."Ucap nya sambil membantu Ziva melepaskan perban yang basah itu.
"Tuan, jangan, saya aku bisa sendiri."Cegah Ziva yang merasa tidak enak.
"Diam."ketus Zafian.
Ziva yang takut pun tidak lagi mau angkat bicara, dia hanya bisa pasrah menahan gugup dan cangung nya ketika Zafian memegang tangan nya untuk melepaskan perban.
Tidak butuh waktu lama, perban itu pun akhirnya di buka oleh Zafian, terlihat bekas gigitan ular yang membiru di lengan Ziva, itu juga sedikit bengkak.
"Astaga mengerikan sekali."Ucap Ziva sesekali menutup mata nya karena takut melihat bekas gigitan ular tersebut.
__ADS_1
"Aku akan mengoleskan salep yang di berikan dokter, kau harus tahan diam dan jangan banyak gerak."Perintah Zafian kepada Ziva.
"Baik tuan."Jawab Ziva dengan wajah takut nya.
Zafian pun mulai mengoles kan salep tersebut mengunakan katembat agar tidak terlalu sakit.
"Astaga! Ini sakit sekali! Tuan jangan terlalu kuat di tekan, ini sama seperti di tusuk jarum!"Ucap Ziva tanpa sadar dirinya mencengkeram tangan Zafian menahan sakit.
"Aku sudah pelan."celetuk Zafian kesal.
Lima menit pun berlalu, setelah selesai mengoles kan salep itu, Zafian langsung membalut kembali tangan Ziva dengan perban.
"Sudah selesai, bisa kah kau melepaskan cengkraman itu dari tangan ku?"Ucap Zafian sambil menatap tangan Ziva yang masih mencengkram tangan nya.
"Huh, maaf-maaf tuan aku sangat tidak bisa menahan rasa sakit ini!"Tutur Ziva melepas tangan nya dari Zafian.
"Huh, dosa apa yang telah aku lakukan sehingga berada di situasi ini?"Batin Ziva sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
Setelah itu, Ziva pun merebahkan tubuhnya di kasur meskipun mata nya kini sudah tidak bisa terpejam karena kejadian tadi.
Keesokan harinya.
Di sisi lain.
Sekolah SMA xxx
__ADS_1
"Permisi buk."Ucap Dani masuk ke dalam kantor kepsek di sekolah nya.
"Dani, silahkan duduk."Ucap kepsek nya dengan wajah datar.
Dani pun duduk berhadapan dengan kepala sekolah nya itu.
"Dani, kamu tau kan kenapa ibu memanggil kamu ke sini?"Tanya kepala sekolah Dani.
"Iya buk, saya tau."Jawab Dani.
"Jadi bagaimana, apa kamu sudah mengatakan kepada orang tua kamu jika kamu sudah menunggak uang SPP selama tiga bulan?"Tanya kepsek tersebut dengan pelan.
"Sudah buk, ini Yanga nya, tapi maaf buk saya belum bisa melunasi langsung tiga bulan, ini baru satu bulan,saya mohon agar di beri kelonggaran ya buk."Jelas Dani sambil mendudukkan kepalanya.
"Hmm, baik lah Dani, ibuk hanya bisa memberi waktu dua Minggu lagi ya, untuk kamu melunasi biayanya SPP nya, jika tidak ibuk terpaksa harus mengeluarkan kamu dari sekolah."Jelas sang guru dengan berat hati.
"Baik buk, saya mengerti, kalau begitu saya permisi dulu."Ucap Dani dengan perasaan sedih dan kemudian berjalan keluar dari ruangan kepsek tersebut.
Mau tidak mau, setelah pulang sekolah Dani akan kembali bekerja, dia harus bisa membayar SPP sekolah nya, karena jika tidak, sekolah nya akan terputus di tengah jalan.
Dani pun dengan langkah gontai nya berjalan masuk ke dalam kelas.
Hari ini dia bahkan tidak sarapan karena semua uang nya sudah dia habiskan untuk membayar SPP.
Saat duduk di bangku kelas nya, Dani merasa sedikit aneh, karena semua teman-teman sekelasnya melirik ke arah nya dengan tatapan aneh, ada juga yang tertawa dan berbisik-bisik.
__ADS_1
Dani yang merasa risih pun akhirnya angkat bicara, karena setau nya dia tidak melakukan kesalahan apapun sehingga menjadi topik pembicaraan hangat di kelas itu.
Bersambung ….