
Zafian terdiam sejenak, dan menatap Ziva dengan tatapan yang tidak bisa di artikan sebagai tatapan apa itu saat ini.
"Ka, kalau tidak bisa, tidak apa-apa tuan, aku tidak memaksa."Ucap Ziva terlihat gugup dan takut.
Namun Zafian masih tidak menjawab nya, dia hanya diam sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana nya.
"Di dalam kartu itu ada lima puluh juta, kau bisa memakai nya."Ucap Zafian terlihat tidak ragu menyerahkan kartu gold itu kepada Ziva.
Seketika Ziva membelalak kan mata nya dengan mulut yang sedikit terbuka, menatap wajah Zafian dengan tatapan tidak percaya.
"Mengapa kau memelototi aku? Tutup mulut mu jika tidak lalat akan masuk dan bersarang di dalam nya."Ucap Zafian sambil melirik kembali ke arah Ziva.
"Tu,tuan, tidak harus seperti ini, aku hanya butuh sedikit,ini terlalu banyak aku mohon jangan berikan ini kepada ku."Ucap Ziva dengan tangan yang gemetar.
"Itu tidak banyak."Jawab Zafian tak habis fikir dengan kepolosan wanita yang ada di samping nya sat ini.
"Tidak mau tuan aku mohon jangan seperti ini."Ucap Ziva gemetar.
"Kau bilang akan membantu adik mu, sisa itu kau juga bisa membantu ibu mu, apa kau tega dengan mereka? Bukan kah kau juga membutuhkan sesuatu?"Jelas Zafian.
Tak di sangka oleh Ziva, jika Zafian juga mempedulikan kondisi keluarga Ziva, dan membiarkan pinjaman sebanyak itu kepada nya.
Mau menolak, Ziva ingat adik nya yang bekerja di pasar demi membayar SPP sekolah,ia juga memikirkan ibu nya yang setiap hari bekerja menjadi tukang cuci baju.
"Kau membutuhkan nya, buka. Kah kau bilang aku harus memotong dari gaji mu, jadi kau tidak perlu khawatir atau merasa berhutang."Jelas Zafian dengan wajah datar nya itu.
__ADS_1
"Ba,baik lah tuan, ini benar-benar membantu ku, aku sangat berterima kasih."Ucap Ziva sambil menahan air matanya yang hendak menetes.
"Sudah lah, ini sudah pukul lima, aku harus membawa Nikel kembali ke villa."Ucap Zafian kepada Ziva.
"Baik lah tuan, oh iya,aku belum tau sandi pintu apertemen nya."Jelas Ziva kepada Zafian karena dia tidak tau sandi apertemen tersebut.
"Sandinya, Nikel Muner."jawab Zafian singkat.
Jika saja Ziva lupa menanyakan soal sandi kepada Zafian bisa-bisa dia tidak akan bisa masuk ke dalam apertemen sementara ponsel nya ada di dalam sana.
" Terima kasih tuan ini sudah sore ya, baik lah tuan, hati-hati."Ucap Ziva lagi.
"Apa kau sedang peduli dan khawatir kepada ku?"Ucap Zafian melontarkan pertanyaan yang begitu aneh.
"Em, maksud ku hati-hati membawa Nikel."Ucap Ziva mengubah kalimat nya.
"Aunty, kami pulang dulu, sampai besok!"Ucap Nikel kepada Ziva sambil melambai kan tangan nya.
Ziva tidak menjawab nya, dia hanya membalas lambaian tangan Nikel sambil tersenyum.
Setelah Zafian dan Nike pergi dari sana, Ziva pun kembali ke apertemen nya.
"Huh, mengapa tuan Zafian begitu baik kepada ku? Dia sudah meruntuhkan hati ku yang bentengan nya hanya sebesar kulit kacang ini. Astaga Ziva,apa yang kau pikirkan dia adalah orang kaya, dan hal seperti ini mungkin hanya biasa bagi nya, huh, sebaiknya sekarang aku pergi ke rumah ibu,dan setelah itu ke apertemen Rita untuk mengambil pakaian."ucap ziva berbicara dengan dirinya sendiri.
Ziva pun buru-buru masuk ke dalam apartemen, setelah beberapa menit ia kembali keluar dengan tas kecil yang berisi ponsel nya.
__ADS_1
Setelah keluar dari apartemen nya, Ziva memesan sebuah taxi untuk menuju rumah ibu nya.
Tidak butuh waktu lama, taxi itu pun sampai dan Ziva pun segera masuk ke dalam taxi.
"Sore-sore seperti ini, mau kemana nona?"Tanya sopir taxi terlihat aneh.
"Ke jalan, anggrek nomer 08 pak."Ucap Ziva menjawab nya dengan sopan.
"Ohh."Jawab nya lagi.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun tiba di jalan itu, suasana sudah semakin gelap dan Ziva pun turun dari taxi tersebut dan hendak membayar nya.
Namun apa yang terjadi, saat dia ingin membayar ongkos taxi tersebut, sang sopir menarik tas nya yang berisi ponsel dan juga ATM yang di berikan Zafian tadi.
"Lepaskan!"Ucap Ziva menarik tas nya dengan sekuat tenaga dan kemudian berlari cepat.
"Kurang ajar!"Ucap sopir taxi tersebut turut dari mobil nya dan mengejar Ziva.
"Tolong! Tolong ada copet!"Teriak Ziva.
Ya, sopir taxi tersebut adalah seorang copet yang menyamar.
"Paman, lihat itu!"Ucap Lisa kepada paman nya.
Kebetulan sekali saat itu Lisa dan juga paman nya, sedang berada di jalan itu dan mereka melihat Ziva yang di kejar oleh sopir taxi yang ternyata maling.
__ADS_1
Bersambung ….