Nona Pengasuh

Nona Pengasuh
Episode #45


__ADS_3

"Astaga, mengapa aku sampai lupa, aku ada janji dengan Nikel untuk mengantarkan bekal nya? Jam segini pasti dia sudah bernagkat sekolah, ya tuhan mengapa aku sampai lupa seperti ini?"Batin Ziva gelisah menatap jam yang tertera di layar ponsel nya.


"Kita sudah sampai nona."Ucap sopir taxi itu memberhentikan mobilnya tepat di depan apartemen Ziva.


"Ah,iya, terima kasih banyak pak."Ucap Ziva turun dari taxi itu dan kemudian membayar ongkos perjalanan setelah itu mengambil koper nya.


Ziva pun berjalan masuk ke dalam gerbang apartemen dan masuk ke dalam nya.


Terlihat pintu yang sudah terbuka, seperti ada orang di dalam nya.


"Siapa ya? Aku tidak melihat mobil tuan Zafian di depan?"Batin Ziva sambil menarik koper nya masuk ke dalam apertemen.


"Dari mana saja kau?"Tanya Zafian yang sudah duduk di sofa ruang tengah apertemen dengan tatapan tajam.


"Tuan Zafian, mengapa anda tiba-tiba ada di sini?"Tanya Ziva kaget.


"Mengapa? Apa kah pertanyaan itu harus kau lontarkan untuk ku?"Tutur Zafian yang terlihat marah.


"Ma,maaf tuan, aku dari apartemen Rita, aku mengambil pakaian ku di sana."Ucap Ziva berkata jujur.


"Mengapa harus sepagi ini?"Tanya Zafian lagi.


"Aku sudah pergi dari sore semalam dan aku tidak sempat pulang karena beberapa hal jadi aku menginap di sana dulu dan memutuskan untuk pulang pagi saja."Jelas Ziva lagi.


Namun saat ini tatapan Zafian terlihat semakin dingin, seperti yang di duga Ziva, pagi ini Zafian terlihat benar-benar marah kepada nya.

__ADS_1


"Tuan, aku tau aku salah, aku juga melupakan janji ku kepada tuan muda Nikel,tapi ini semua di luar dugaan ku,aku berfikir akan pulang tapi ada hal yang terjadi kepada ku,jadi aku tidak bisa kembali tadi malam juga."jelas Ziva sambil mendudukkan kepalanya.


"Aku tidak mu mendengar apapun lagi, pergi lah antar kan koper itu ke kamar mu dan ambil kan aku minum."Ucap Zafian dengan suara dingin yang mampu membuat beku satu ruangan.


Seperti film Hana dan Elsa saja ya tuan Zafian ini.


"Baik lah tuan, aku akan segera membawakan minuman."Ucap Ziva yang kemudian berjalan melewati Zafian dengan kaki pincang sambil menarik koper nya.


"Tunggu! Ada apa dengan kaki mu?"tanya Zafian refleks melihat hansaplast yang ada di lutut Ziva.


"Tidak ada apa-apa tuan, aku hanya terpeleset dan jatuh."Ucap Ziva kepada Zafian dengan senyum hambar nya.


"Berhenti di sana."Ucap Zafian berdiri dari duduknya dan mengambil koper dari tangan Ziva.


"Tuan, apa yang anda lakukan?"Tanya Ziva menggenggam erat koper nya.


"Tidak tuan, aku bisa sendiri, jangan."Ucap Ziva Merasa tidak enak.


"Aku akan membawa koper ini serta dirimu ke dalam kamar jika kau tidak melepaskan sekarang."Tutur Zafian.


Sontak Ziva melepas kan koper itu mendengar ucapan Zafian barusan.


Sementara itu Zafian berlalu pergi.


"Apa maksud nya? Mengapa tuan Zafian mengatakan hal seperti itu kepada ku? Membuat aku membayangkan hal yang tidak-tidak saja, mengerikan!"Ucap Ziva dengan suara pelan dan mulai duduk di sofa sambil mencoba melihat luka di kaki nya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Zafian pun kembali dengan segelas air dan juga kotak p3k di tangan nya.


"Tuan, itu untuk apa?"Tanya Ziva kepada Zafian.


Namun Zafian tidak menjawab nya, melainkan berjalan mendekati Ziva dan duduk di sebelah nya.


Ziva yang saat itu memakai celana jeans pendek dengan atasan sedikit terbuka merasa sedikit cangung.


"Siapa yang menempel kan hansaplast ini?"Tanya Zafian sambil menaruh benda yang tadi dia bawa di atas meja depan sofa yang mereka duduki.


"Em,aku."Bohong Ziva.


"Mengapa kau begitu bodoh? Luka seperti ini tidak boleh di tempelkan dengan hansaplast, ini akan membuat infeksi dan rasa sakit saat mencopot nya."Tutur Zafian sudah seperti seorang dokter.


"Aku, aku tidak tau tuan."Jawab Ziva benar-benar serba salah.


Tidak pernah terpikirkan oleh Ziva, seorang Zafian Muner yang tadi nya marah-marah seperti orang kesurupan es batu, sekarang malah perhatian kepada nya dan berubah menjadi matahari yang hangat.


"Biar aku bantu melepaskan nya dan menggantikan dengan perban."Tutur Zafian yang hendak memegang lutut Ziva.


"Jangan."Cegah Ziva memegang tangan Zafian yang hendak memegang lutut nya.


"Mengapa? Apa kau tidak menerima kebaikan ku?"Tutur Zafian dengan tatapan aneh.


"Bukan, bukan begitu tuan, tapi ini sangat sakit,aku takut."Tutur Ziva dengan ekspresi wajah takut nya.

__ADS_1


Zafian pun diam, dia tidak mempedulikan Ziva, dia malah mengambil kaki Ziva yang lutut nya sakit dan menaruh nya di atas paha nya.


Bersambung ….


__ADS_2