Nona Pengasuh

Nona Pengasuh
Episode #30


__ADS_3

"Cepat!"Ucap Zafian menghempaskan tangan Ziva. Wajah nya memerah entah karena marah atau apa itu yang jelas seperti nya dia sekarang sedang balik memberikan pelajaran untuk Ziva yang sedari pagi sudah membuat nya stres.


Terlihat wajah Ziva yang seperti nya tertekan karena di bentak oleh Zafian.


Ziva pun dengan tangan yang sedikit gemetar meraih tisu itu dan mengambil nya beberapa lembar.


Tidak ada lagi kata yang keluar dari mulut nya, ia juga merasa takut akan tatapan Zafian yang begitu tajam bak sebuah keris.


Tangan mungil itu kini menggenggam tisu dengan sangat erat dan mulai mengelap wajah Zafian yang masih sedikit basah.


Karena Zafian yang tinggi, terpasa Ziva sedikit mendongak kan kepala nya, mau tidak mau Ziva juga harus menatap wajah tampan itu dengan jarak yang cukup dekat sampai-sampai hembusan nafas Zafian yang hangat mengenai pucuk rambut Ziva yang selalu di gerai cantik.


Saat itu lah keempat bola mata indah itu saling adu pandang.


Suasana menjadi hening dan seperti nya ruang tengah juga tidak terlihat ada siapapun di sana kecuali Ziva dan Zafian.


"Kenapa berhenti,di sini juga basah."Ucap Zafian memindahkan tangan Ziva yang memegang tisu ke arah leher nya.


"Astaga, mulus dan sangat jenjang."Batin Ziva menatap leher hingga dada Zafian.


"Aku harap kau tidak berfikiran kotor."Lirih Zafian yang berbisik di telinga Ziva.


Setetika bulu kuduk Ziva merinding karena ucapan Zafian barusan. Ia yang awalnya takut karena di marahi kini malah takut karena suara lirih Zafian barusan.


"Sudah, sudah selesai tuan."Ucap Ziva buru-buru kembali mundur dari hadapan Zafian beberapa langkah.


"Hmm."Gumam Zafian sambil memegang leher nya.

__ADS_1


"Ap-apakah aku boleh pergi sekarang?"Tanya Ziva lagi.


"Tidak."Tegas Zafian.


"Apa lagi?"Tanya Ziva kebingungan.


"Sudah jam sepuluh, ayo ikut aku jemput Nikel."Tutur Zafian sambil melirik jam tangannya dan kemudian berjalan menuju pintu keluar vila.


"Huh! Huh! Aku kira ada apa lagi."Leguh Ziva lega karena akhirnya tidak ada perbuatan yang hampir mencopot jantung lagi.


Ia yang lega pun buru-buru mengikuti Zafian dari belakang karena khawatir jika ia membuat masalah lagi ia akan langsung di pecat.


Mereka pun masuk ke dalam mobil Zafian kemudian melaju meningal kan vila untuk menjemput Nikel di sekolah nya.


"Tuan."Lirih Ziva.


"Tuan Zafian."Lirih Ziva lagi.


"Apa."Dingin nya.


"Aku minta maaf atas semua kekacauan yang telah ku buat hari ini, tolong maaf kan aku dan jangan pecat aku, aku benar-benar membutuhkan uang."Ucap Ziva dengan wajah sedih nya, ia Khawatir Zafian akan memecat nya karena satu hari ini saja dia sudah membuat begitu banyak kesalahan.


"Hmm."Gumam Zafian singkat.


"Tuan berjanji tidak akan memecat ku?"Tanya ziva lagi.


"Mengapa kau sangat berisik?"Ucap Zafian tiba-tiba memberhentikan mobilnya.

__ADS_1


"A,aku hanya, hanya takut kehilangan pekerjaan ini, hikss,hikss."Ucap Ziva menutup wajah nya dengan kedua tangan lalu menangis.


Entah kenapa Zafian jadi merasa bersalah karena sudah terlalu galak kepada Ziva, sebelum nya dia tidak pernah memikirkan orang yang sudah dia marahi bahkan jika mereka menangis sekali pun.


Namun rasanya berbeda ketika dia membentak dan memarahi Ziva hari ini, dia benar-benar merasakan rasa bersalah.


"Mengapa kau sangat takut kehilangan pekerjaan ini?"Tanya Zafian.


"Hikss, aku tidak tau harus bagaimana, adik ku sedang sekolah dan membutuhkan uang, aku juga hidup sendiri harus membiayai kebutuhan ku sendiri, dan sekarang mendapatkan pekerjaan sangat susah, aku juga ingin mencari kontrakan sendiri agar tidak menyusahkan orang lain."Ucap Ziva di sela-sela Isak tangis nya.


Rasanya ingin sekali Zafian mengelus rambut lurus nan lembut milik Ziva itu,di saat Ziva sedang menyembunyikan air mata nya di kedua tangan yang di tutup ke wajah nya.


Namun ia mengurungkan niat nya karena Ziva tiba-tiba menatap nya dengan tatapan penuh harap.


"Tuan, aku mohon,aku berjanji tidak akan membuat kekacauan lagi."Ungkap Ziva dengan mata sembab nya sambil memegang tangan Zafian.


"Jangan menagis, kau sangat jelek ketika menangis."Ucap Zafian sambil menatap iba wajah Ziva.


"Tidak mau, aku hanya akan berhenti menagis jika tuan memaafkan aku."Bawel Ziva tidak ada habis-habisnya.


"Astaga, aku bahkan sudah melupakan masalah itu, cepat hapus air mata mu, kita akan menjemput Nikel, setelah itu aku akan membawa mu ke suatu tempat."Ucap Zafian lagi.


"Benar kah? Tuan sudah memaafkan aku?"Ucap Ziva bersemangat dan menghapus air mata nya.


"Hmm."Jawab Zafian yang kemudian kembali menyala kan mesin mobil dan melaju pelan menuju sekolah Nikel.


Ziva yang merasa bahagia karena mendapat kan maaf dari Zafian pun buru-buru membenarkan rambut dan mata nya yang sedikit semabab itu.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2