Nona Pengasuh

Nona Pengasuh
Episode #72


__ADS_3

"Aunty, tidak boleh sakit, jika aunty sakit,aku akan sedih, aku sama Tante Monica saja, aunty juga sudah menjaga ku sepanjang hari."Jelas Nikel pintar.


"Sayang, maaf kan aunty."Lirih Ziva.


"Kak, tidak apa-apa,ayo berikan Nikel kepada ku."Ucap Monica yang kemudian mengambil alih mengendong Nikel.


"Nikel, baik-baik ya dengan Tante."Ucap Ziva terlihat cemas.


"Baik aunty. Daddy jaga aunty ya."Pesan Nikel.


"Baik lah sayang, Monica jaga Nikel dengan baik."Tutur Zafian yang kemudian masuk ke dalam mobil nya.


Setelah mengecup sekilas pipi Nikel,Ziva lun ikut masuk ke dalam mobil Zafian.


Sementara itu Monica membawa Nikel masuk ke dalam mobil nya dengan kepala pelayan.


Nikel, kepala pelayan dan Monica kembali ke villa, sementara Zafian mengantarkan Ziva.


Hari semakin gelap, jam pun sudah menujukkan pukul 06:50, tingal sepuluh menit lagi sudah menujukkan jam 07 malam.


"Kau kenapa?"Tanya Zafian melihat wajah Ziva yang seperti nya menahan sakit sambil memegang perutnya.


"Emm, tidak ada aku baik-baik saja tuan."Ucap Ziva berbohong.


"Jujur, lah."Ucap Zafian yang kemudian memberhentikan mobilnya.


"Aku benar-benar tidak apa-apa."Jawab Ziva dengan tangan yang masih memegangi perutnya.


"Apa kau lapar?"Tanya Zafian lagi.


"Tidak."Jawab Ziva sambil menggelengkan kepalanya.


"Lalu?"


"Mana mungkin aku mengatakan jika sekarang aku sedang datang bulan."Batin Ziva.


"Tidak apa-apa tuan, sebaiknya kita pulang saja ke apartemen."Tutur Ziva semakin kesakitan.


"Apa kau datang bulan?"Tutur Zafian lagi.


Ziva melongo menatap Zafian, tak di sangka Zafian akan menebak itu dengan tepat.

__ADS_1


"Tu,tuan, tau dari mana?"Tanya Ziva dengan wajah memerah menahan mu.


"Wajah mu tidak bisa berbohong."Tutur Zafian yang kemudian kembali melanjutkan perjalanan pulang.


Sementara Ziva hanya diam dengan seribu rasa malu.


Namun mobil itu kembali berhenti tepat di depan sebuah mall.


"Tuan, apa yang kita lakukan di sini?"Tanya Ziva kebingungan.


"Ayo turun."Ucap Zafian tampa menjawab pertanyaan Ziva yang tadi.


"Tapi tuan."Malu Ziva.


"Cepat."Ketus Zafian yang kelas karena Ziva terus melawan ucapan nya.


Mau tidak mau Ziva lun turun dari mobil itu dan mendekati Zafian.


Zafian pun membuka jas yang dia gunakan dan memakai nya di pinggang Yuri.


"Tuan, apa yang anda lakukan? Jas ini mahal, ini akan kotor."Tutur Ziva khawatir.


"Ayo masuk ke dalam."Ucap Zafian lagi yang kemudian mengandeng tangan Yuri masuk ke dalam mall.


"Pilih lah, sepuas mu, aku tidak tau kau pakai pembalut yang mana."Tutur Zafian yang ternyata membawa Ziva ke tempat bagaian pembalut.


Seketika Ziva tersenyum sambil menutup mulut nya.


"Apa yang kau tertawa kan?"Ucap Zafian yang sebenarnya sedang menahan malu ketika orang-orang melihat nya.


"Tidak ada, yasudah aku pilih dulu."Ucap Ziva mengambil beberapa pembalut yang biasa dia gunakan.


"Sudah selesai?"Tanya Zafian.


"Hmm, iya sudah, ayo ke kasir."Tutur Ziva.


Mereka pun pergi ke kasir untuk membayar pembalut tersebut.


"Tuan, ayo langsung pulang."Ucap Ziva setelah mereka membayar belanjaan itu.


"Kau tidak mau cemilan atau yang lain?"Tanya Zafian menujuk ke arah cemilan yang begitu banyak.

__ADS_1


"Bolehkah?"Tanya Ziva yang saat itu benar-benar tergoda.


"Sepuas nya."Tutur Zafian.


Tampa basa-basi lagi, Ziva pun mengambil keranjang belanjaan dan segera memungut semua cemilan kesukaan nya.


"Seperti anak kecil."Gumam Zafian dengan senyum tipis di bibir nya.


Namun siapa sangka saat Ziva meraih satu cemilan kesukaan nya, ada tangan seseorang juga yang memegang cemilan tersebut.


"Ziva."Ucap orang itu dengan tatapan berbeda kepada Ziva.


"Mas Evan."Ucap Ziva tak menyangka akan bertemu dengan Evan di mall itu.


Sementara itu Zafian menatap mereka dengan tatapan tajam.


"Buat mu saja."Tutur Evan memberikan cemilan yang kebetulan tingal satu itu kepada Ziva.


"Tidak apa, buat mas Evan saja, mas Evan ternyata suka cemilan juga?"Tanya Ziva seketika melupakan Zafian yang ada di belakang nya.


"Tidak, aku ingin membeli untuk Lisa."Jawab Evan lagi.


"Oh, aku pikir, kalau begitu ambil saja."Ucap Ziva kembali menyerahkan cemilan tersebut kepada Evan.


"Tidak, tidak usah,masih banyak lagi yang lain."Tutur Evan.


"Untuk ku saja!"Ketus Zafian sambil merebut cemilan tersebut.


"Tuan!"Geram Ziva melihat tingkah Zafian.


"Dia?"Ucap Evan seolah meminta penjelasan Ziva.


"Oh, dia boss saya."Ucap Ziva dengan jujur nya.


"Calon suaminya!"Jawab Zafian enteng.


"Tuaan!"Geram Ziva.


"Yang mana yang benar?"Tanya Evan kebingungan.


"Aku yang benar."Ucap Zafian sambil merangkul pundak Ziva agar lebih menempel dengan nya.

__ADS_1


Sontak hal ini pun membuat Evan sedikit tidak nyaman, karena dari awal dia sudah menaruh rasa suka terhadap Ziva.


Bersambung ....


__ADS_2