Nona Pengasuh

Nona Pengasuh
Episode #46


__ADS_3

Zafian pun diam, dia tidak mempedulikan Ziva, dia malah mengambil kaki Ziva yang lutut nya sakit dan menaruh nya di atas paha nya.


"Tuan, apa yang kau lakukan?"Ucap Ziva kaget dan merasa tidak sopan.


"Diam lah, aku akan mencoba melupakannya dengan pelan,kau tidak perlu khawatir."Tutur Zafian penuh hati-hati mulai memegang ujung hansaplast yang menutupi luza Ziva dan hendak mencabut nya.


"Astaga,ini sakit sekali tolong!"Teriak Ziva menggema di ruang tengah apartemen itu.


Sementara hansaplast itu baru terbuka separo saja. Namun Ziva sudah berkeringat dingin dengan rasa sakit dan perih itu.


"Tahan lah, sedikit lagi."Ucap Zafian yang kemudian kembali melanjutkan membuka yang tinggal separuh tadi.


"Astaga tuan, ini benar-benar sakit."Ucap Ziva hampir menjerit namun siapa sangka Zafian memasukkan jari nya ke mulut Ziva.


Sontak Ziva yang tidak tahan akan rasa sakit lutut nya pun menggigit tangan Zafian dengan sukarela.


"Sudah selesai."Ucap Zafian yang kemudian menyadarkan Ziva yang masih mengigit tangan nya itu.


"Huh,huh!"Leguh Ziva sambil membuka mata nya yang tadi dia pejam kan karena menahan sakit.


"Apa tangan ku cukup untuk membuat rasa sakit mu berkurang?"Tanya Zafian sambil menatap tangan nya yang berbekas gigi Ziva.


"Ya tuhan,apa lagi yang aku lakukan?"Batin Ziva.


"Tunggu, ini bukan salah ku, siapa suruh tuan meletakkan tangan di mulut ku yang sedang menahan sakit, sontak saja aku bisa menggigit nya dengan sukarela."Ziva membela dirinya dengan sangat angkuh.


"Ck, kau ini, tidak tau berterima kasih ya."Gumam Zafian.


"Hehe, maaf kan aku, tapi terima kasih."Ucap Ziva sambil tersenyum manis.


"Manis sekali."batin Zafian lalu kemudian mengalihkan pandangannya dari Ziva.

__ADS_1


"Tuan, jika sudah selesai,aku bisa mengobati nya sendiri."Ucap Ziva lagi.


"Aku akan membantu mu."Ucap Zafian tampa melepaskan kaki Ziva yang ada di atas pangkuan nya.


"Tapi … "Lirih Ziva yang kemudian mendapat kan tatapan tajam dari Zafian yang membuat nya mati kutu tak bisa berkata apa-apa lagi.


Mau tidak mau Ziva kembali merelakan Zafian mengobati kaki nya.


Meskipun ini benar-benar canggung, tetapi menolak juga rasanya tidak mungkin karena Zafian bukan lah orang yang suka di tolak keinginan nya.


Sementara itu di sisi lain.


"Dani, Lo dari mana aja? Gue dari tadi nyariin Lo."Ucap Lisa sambil membawa dua botol minuman segar di tangan nya.


"Dari ruang kepsek."Jawab Dani singkat.


"Apa lo di panggil lagi gara-gara belum bayar uang SPP sekolah?"Tanya Lisa sambil berjalan beriringan dengan Dani.


"Engak, gue udah bayar semuanya."Ucap Dani lagi.


"Makasih."Jawab Dani sambil menerima air itu.


"Udah sarapan belum?"Tanya Lisa lagi.


Dani tidak menjawab nya, hanya menggeleng kepala pelan.


"Gimana kalau gue traktir Lo sarapan di kantin? Mau gak?"Tanya Lisa sambil tersenyum.


"Buat apa? Gue gak lapar."Singkat saja sebenarnya Dani sangat lapar tapi dia tidak ingin makan bersama dengan Lisa karna rasanya begitu canggung.


"Ayo dong, sekali ini aja, anggap aja ini sebagai tanda permintaan maaf gue ke Lo."Tegas Lisa yang kini berhenti melangkah.

__ADS_1


Dani pun tidak tega karena melihat wajah sedih Lisa.


"Baik lah, sekali ini saja."Tutur Dani.


Lisa pun terlihat sangat senang sampai-sampai dia melompat hampir saja terjatuh, untungnya Dani sigap menarik tangan nya.


"Lo ngapain sih? Yaudah ayo makan."Ucap Dani kembali menegang tangan Lisa dan membawa nya ke kantin sekolah.


"Hehe,maaf!"Ucap Lisa terlihat seorang anak kecil saja.


Sementara itu tampa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedang menatap kesal ke arah mereka.


"Kok bisa sih mereka baikaan, gak bisa, ini gak bisa di biarin, Dani cuma milik gue!"Batin Ria.


Ya seperti nya Lisa ada saingan nya ya.


Dani dan lisa pun berjalan menuju kantin sekolah untuk sarapan bersama.


Sementara itu di sisi lain tepat nya di kantor cabang Zafian.


"Maria! Kamu kan, yang sudah menukar kan rencana kerja ku dengan milik mu?!"Tanya Rita kepada Maria.


Saat ini Rita dan Maria sedang berada di toilet yang sama di kantor mereka.


"Eh, Rita, apa yang kau maksud?"Tanya Maria dengan wajah sinis nya.


"Tidak perlu basa basi, kau sudah menukar rencana kerja ku dan naik jabatan karena itu kan, dasar tidak tau malu."Ucap Rita dengan emosi yang sudah meluap-luap.


"Hmm, seperti nya di sini tidak ada orang lain selain kita ya?"tanya Maria telinga celinguk.


Maria mengarahkan pandangan nya ke segala arah, memastikan bahwa tidak b

__ADS_1


ada orang yang akan mendengar kan pembicaraan mereka.


Bersambung ….


__ADS_2