
Dua pekan sudah Yuki tidak memberikan kabar ada Erico. padahal setiap harinya pemuda tersebut selalu mengiri pesan dan mencoba menghubungi Yuki. kesal dengan sikap Erico yang menurutnya itu adalah pengecut. meminta ijin pernikahan dengan alasan jika pria itu telah menghamilinya, cukup memalukan.
Apa tanggapan orang tua Erico? pasti mereka berpikir jika Yuki adalah gadis yang dengan begitu mudahnya memberikan harga dirinya sendiri pada seorang pria. Yuki tidak menginginkan hal itu.
Cleakkk... seorang wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda menekan pintu utama kediaman Yuki. Lina menatap setiap titik ruangan yang dimasukinya. rumah sederhana, tidak terlalu luas namun terlihat sangat rapih.
Yuki menelan salivanya setelah melihat Lina ada didalam rumahnya, "Bagaimana kau bisa masuk." tanya gadis tersebut.
Lina tersenyum tipis, "Aku sudah berulang kai mengetuk dan menekan bel rumahmu, tetapi tidak ada jawaban. maaf jika aku lancang, aku hanya ingin tahu bagaimana keadan calon menantuku."
Yuki membulatkan matanya. "Menantu..."
Lina mendekati gadis tersebut, ia menyentuj sejumput anak rambut Yuki dengan mata yang menatap lekat padanya. "Apa kau menolak anakku?"
Yuki menggelengkan kepala, "Erico... itu, itu semua tidak benar. kami sama sekali belum melakukan apapun."
Lina terkekeh, terlihat jelas kecemasan diraut wajah Yuki yang cukup membuatnya kegelian. "Aku tau, anakku memang bodoh."
__ADS_1
Yuki tertunduk diam, ia tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk membalas ucapan Lina.
"Jadi bagaimana?"
Yuki perlahan mendongakan wajahnya, menatap sendu wanita yang berdiri di hadapannya. "Apanya yang bagaimana?" tanya Yuki terbata.
"Kau menolak lamaranku?"
"Lamaran?" sahut Yuki spontan dengan ekpresi terkejut.
Bibir Yuki bergetar dengan mata yang mengembun. "Tapi aku... aku hanya..."
"Aku menerima segalanya, aku tidak akan mempermasalahkan keadaanmu sekarang."
Setetes air mata Yuki mengalir, dua pekan baginya bukan waktu yang singkat. selama itu Yuki hanya menghabiskan waktu untuk berkaca diri. tidak seharusnya ia berharap menjadi pendamping dari seorang anak dari keluarga terpandang seperti Erico.
"Kemasi barangmu, hari ini kau akan tinggal bersamaku." ucap Lina mengajak.
__ADS_1
Rasanya Yuki ingin meledak, bukan hanya semudah dan secepat ini ia diterima. bahkan mereka belum menggelar pernikahan tapi Lina sudah ingin membawa calon menantunya saja.
"Tidak bisa, aku belum menikah. tidak mungkin aku tinggal satu atap bersama Erico."
Luar biasa, jawaban yang Lina inginkan. Yuki bukan tipekal wanita yang terburu-buru, Lina berpikir jika seorang wanita rendahan mungkin akan langsung mengiyakan ajakannya tersebut. akan tetapi Yuki berbeda, ia benar-benar menjaga harga dirinya dengan baik dihadapan Lina calon mertuanya.
"Minggu depan adalah hari pernikahanmu, kau harus ikut denganku untuk menyiapkan gaun dan pesta pernikahanmu dengan Erico."
Yuki menganga, ternyata selama dua pekan ini mereka sudah merencanakannya. gadis itu merasa dirinya sedang tertimpa durian runtuh.
Lina melirik kearah Arlojinya, kemudia berkata. "Aku akan menyebarkan undangan, bersiaplah. Erico akan menjemputmu."
Yuki mengangguk pasrah, dan Lina berlalu keluar rumah itu dengan begitu santai. setelah Lina benar-benar pergi Yuki menepuk-nepuk wajahnya.
Plak... "Apa ini mimpi? Erico dan aku? menikah..."
Gadis itu kemudian meraih ponsel yang tergeletak diatas soffa, ia membaca ribuan pesan-pesan yang Erico kirimkan. dan salah satunya ada sebuah kalimat yang membuat Yuki kegirangan. "Calon istriku" ditambah lima emoticon hati setelahnya.
__ADS_1