
Sudah sebulan lamanya Heliand bekerja di perusahaan sang papa, Namun pagi ini entah apa yang terjadi, Heliand sering merasakan pusing di bagian kepalanya, hal itu tentu membuat Mayyu sang istri khawatir, takut jika luka bekas kecelakaan itu masih datang kembali, Mayyu takut jika akan terjadi sesuatu pada Heliand.
"Sayang sebaiknya hari ini cuti saja, kau terlihat buruk" ujar Mayyu dengan penuh kecemasan.
Wajah Heliand memang terlihat sangat pucat, sudah beberapa hari ini pria itu juga kehilangan napsu makannya, Mayyu sudah membawa Heliand ke dokter, namun dokter mengatakan jika Heliand hanya kelelahan, tapi bagimana mungkin sampai berhari-hari Heliand tersiksa oleh rasa nyeri di kepalanya.
Mayyu menatap wajah Heliand, ia merasa tidak tega pada suaminya tersebut, namun pria itu tetap memaksa untuk pergi ke kantor, hingga membuat Mayyu harus menyembunyikan kunci kamarnya, Hal yang di rasakan Heliand benar-benar mengganggu, pernah suatu hari Heliand tidak jadi melampiaskan Hasratnya karna rasa nyeri di kepala beecampur mual tiba-tiba menghampirinya.
Beberapa waktu sebelumnya, saat dimana Heliand sedang menjamah tubuh sang istri dengan penuh kelembutan, pria itu sedang menghentakan tubuhnya, mendorong dengan dengan tempo lambat menyentuh titik terdalam bagian tersebut.
"Mayyu kepalaku berat."
Sontak Mayyu yang sedang berada di bawah tubuh Heliand pun terkejut, bagaimana tidak, Heliand baru saja pulih, menurut Mayyu hal ini bisa terjadi.
"Apa kau baik-baik saja?"
Heliand mengerjapkan matanya, guna mengumpulkan kesadaran dengan posisi tubuhnya yang masih menyatu dengan tubuh sang istri.
"Sayang sebaiknya hentikan saja dulu jika kau merasa pusing." tegas Mayyu.
Gadis itu bersusah payah menahan erangannya, entah apa yang ada dalam pikiran Heliand, ia bilang jika dirinya merasa pusing, tetapi ia tidak menghentikan penyatuan tersebut dan terus saja menghentaknya.
Penglihatan Heliand berkunang-kunang, rasa nyeri itu benar-benar mengganggu, belum sampai pada puncaknya, Heliand melepaskan dirinya dari Mayyu, pria jangkung itu berlari dengan keadaan telanjang menuju kamar mandi.
__ADS_1
Sangat mengkhawatirkan bagi Mayyu jika Heliand seperti ini, gadis itu terus mengetuk pintu kamar mandi untuk melihat keadaan sang suami.
"Sayang apa kau baik-baik saja?"
Tidak ada suara dari dalam, entah apa yang sedang dilakukan Heliand, setela pemuda itu keluar wajahnya terlihat sangat pucat, tubuhnya sangat lemah.
"Biarkan aku tidur sejenak."
Akhirnya Mayyu mengiyakan hal tersebut, membiarkan Heliand tertidur malam itu, meskipun Heliand belum mencapai titik kepuasan, tapi sepertinya ia benar-benar merasa sakit, karna jika tidak pasti Heliand akan terus memaksa hal tersebut tanpa memperdulikan kondisi tubuhnya.
Keesokan harinya, pagi dimana waktu masih menunjukan pukul setengah 6, Mayyu menatap wajah Heliand yang masih terlihat tampan meskipun sedang tertidur, Mayyu menyentuh dahi Heliand yang saat itu memang terasa hangat, padahal saat itu tangan Mayyu yang terasa dingin akibat dirinya telah membersihkan tubuhnya.
"Sayang,"
"Ayo bangun, hari ini kau kekantor atau tidak?"
Bukannya bangun, Heliand malah memiringkan senyumnya menarik tangan sang istri, hingga Mayyu terjatuh tepat di atas tubuhnya, Heliand menghirup aroma tubuh Mayyu yang sudah wangi sabun khas buah-buahan, hal itu menambah ketertarikan Heliand pada gadis itu membuat gairahnya kembali bangkit setelah semalaman tertunda.
"Aku ingin menyelesaikannya." Ucap Heliand menatap wajah cantik istrinya.
Mayyu yang saat itu juga sedang menatap wajah Heliand, ia benar-benar di buat terkejut, matanya membulat sempurna.
"Tapi aku-"
__ADS_1
Belum sempat Mayyu menyelesaikan ucapannya, namun pria itu sudah lebih dulu mengunci bibir sang istri dengan lum*atan lembutnya.
Api gairah Heliand di pagi hari benar-benar sedang memuncak, pria itu mengubah posisi tubuhnya, yang awalnya Mayyu berada di atas sekarang sudah pasrah di bawah tubuhnya, dengan cepat Heliand menarik tali piyama yang melingkar di perut ratanya, pria itu menyingkabnya sehingga sudah sangat jelas terlihat tubuh polos Mayyu tanpa sehelai benangpun.
Setiap jengkal gadis itu Heliand kecup, ia bahkan terus memainkan dua benda kesayangan Heliand, yang ada di tubuh Mayyu.
Mayyu melenguh kenikmatan ketika pemuda itu menggigit bagian kecil yang monjol di dadanya, cengkraman Mayyu menguat ketika Heliand berhasil memasukan kepemilikannya menembus bagian pribadi sang istri.
Suara jeritan yang khas terdengar sangat merdu di daun telinga Heliand, pria itu semakin mempercepat gerakan tubuhnya ketika suara indah sang istri sudah tidak terkontrol.
Dipotong
Heliand berjalan dengan sisa-sisa tenaganya melangkah menuju kamar mandi, Mayyu yang terlihat lemahpun hanya memainkan ponselnya di atas ranjang sambil menunggu Heliand membersihkan dirinya.
Baru saja Mayyu meletakan ponselnya, Pemuda itu sudah ambruk di bawah dengan keadaan yang masih telanjang, Heliand pingsan di hadapan Mayyu.
Mayyu yang terkejut langsung meraih tubuh Heliand mencoba menyadarkannya.
"Heliand? sayang apa yang terjadi?."
Wajah Mayyu di rundung kecemasan, entah apa yang harus Mayyu lakukan, tidak mungkin ia meminta pertolongan dengan keadaan tubuh Heliand tanpa busana.
Gadis itu mengangkat tubuh Heliand bersusah payah membawanya ke atas tempat tidur, Heliand benar-benar pucat membuat Mayyu semakin khawatir padanya, lalu gadis itu memutuskan untuk memanggil dokter.
__ADS_1
NEXT NEXT NEXT, LIKE KOMEN DAN VOTEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE🙄