
Terlihat jelas perjuangan Mayyu menahan sakit, bahkan dokter sampai memasang alt bantu pernapasan di hidungnya, ingin rasanya Heliand menggenggam tangan sang istri, yang sedang berusaha mengeluarkan calon anaknya, namun apa daya, Mayyu malah mengusirnya akibat tingkah tidak warasnya sendiri.
Tetesan keringat terlihat jelas bercucuran di dahi Mayyu, Heliand sampai meringis ketika suara jeritan Mayyu melintas di daun telinganya.
"Sayang bertahanlah." gumam Heliand dalam batinnya
Dari arah lain terlihat Lia Chan sudah datang membawa begitu besar bingkisan untuk calon cucu pertamanya.
"Sayang kenapa kau disini?"
Heliand membisu, tentu bukan ide yang bagus jika ia harus mengatakan apa yang terjadi pada sang mama sebenarnya.
"Itu aku, aku tidak tega melihat Mayyu kesakitan."
Heliand berbohong, ia hanya malu jika harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Lia Chan.
"Mah sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah, kita akan menambah satu anggota keluarga baru-"
Belum sempat pemuda itu menyelesaikan ucapannya, namun Dokter yang keluar langsung menyekanya.
"Kenapa hanya satu, jika kau biaa mendapatkan dua." ucap dokter
Pernyataan dokter itu benar-benar membut Heliand kebingungan.
"Apa itu artinya?"
"Iya nyonya, bayi tuan muda Heliand kembar, masing-masing jenisnya, laki-laki dan perempuan."
Hal itu cukup mengejutkan bagi Lia Chan dan juga Heliand, keduanya berekspresi berbeda-beda, Heliand yan terkejut dengan wajah datar, sedangkan sang mama terkejut dengan wajah penuh kebahahiaan.
"Apa aku boleh melihatnya?" ucap Lia Chan
"Tentu boleh."
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu berlalu, sedangkan Heliand masih diam mematung seakan tidak percaya mendengar pernyataan sang dokter.
"Apa ini? aku harus membagi istriku dengan dua anak sekaligus." Gumam Heliand dalam batinnya
Raut wajahnya memelas, Heliand bahagia namun rasanya tidak rela membagi kasih sayang sang istri dengan kedua anaknya, di tambah dua benda milik sang istri kesayangan Heliand itu tidak boleh di bagi dengan siapapun, hal ini mungkin akan membuat Mayyu membagi asi dan susu formula untuk kedua bayinya tersebut.
Mayyu yang masih terlihat lemah hanya menatap lirih kedua bayinya, yang sedang di pandang oleh Lia Chan.
"Heliand, dia sangat mirip denganmu waktu kecil."
Heliand menghela napasnya, ia mendekati sang istri dan menyeka butiran keringat di dahi Mayyu.
"Maafkan aku." Ucap Heliand
"Hmmm." Mayyu hanya bergeming
"Sayang cepat hubungi papamu, dia pasti sangat senang jika tahu dirinya mendapat dua cucu sekaligus."
"I-iya mah."
"Sayang cepat beri bayimu asi." ucap Lia Chan
Bibir Heliand langsung mengerucut, wanita itu menggendong salah satu cucunya, untuk ia berikan pada Mayyu.
"Mah asinya belum keluar."
Pernyataan Mayyu tersebut sukses membuat Heliand terkejut.
"Baiklah mama akan panggilkan dokter, untuk memompa asimu."
Lia Chan berlalu keluar, dengan ceepat Heliand mendekati sang istri dengan wajah yang menyeringhai.
"Apa asinya tidak keluar?"
__ADS_1
"Bukan tidak, tapi belum."
"Boleh aku bantu?"
Mata Mayyu membulat sempurna, bagaimana mungkin Heliand bisa membantunya.
"Dengan cara apa?"
Heliand memiringkan senyum piciknya pada sang istri.
"Bersiaplah sayang."
Heliand mengerucutkan bibirnya, seolah sedang menggoda sang istri, pemuda itu benar-benar tidak waras, sudah beranak pun ia masih bersikap kekanak-kanakan.
"Dasar ayah kejam, tidak waras." Celetuk Mayyu pada Heliand
Dengan santai Mayyu membuka kancing bajunya, ia memijat-mijat dadanya sendiri, guna mengeluarkan asinya di depan Heliand, pemuda itu malah tidak kuat melihatnya, ia sampai terkejut dengan mata yang membulat ketika Mayyu dengan santai melakukan hal itu di hadapannya.
"Kau? apa yang kau lakukan?"
"Tentu memijat asiku, supaya keluar dan anakmu bisa memimumnya." Tegas Mayyu
"Astaga sayang, jika tidak keluar jangan di paksa, aku akan membantumu melakukannya di rumah dengan senang hati." Ucap Heliand, maksud hatinya ia benar-benar akan melalukan hal itu, namun Mayyu malah mengaggap hal itu hanya keserakahan Heliand, agar pemuda itu menguasai bagian tersebut, dan hanya memberi anaknya susu formula.
"Yang benar saja, aku pasti ada maksud lain."
"Aku keluar, aku tidak sanggup melihatnya." Celetuk Heliand
Pemuda itu benar-benar keluar dan pergi hadapan Mayyu, hal itu membuat Mayyu ragu, apa Heliand akan menyayangi anaknya, atau malah mungkin akan hanya membuatnya tambah kerepotan.
"Dasar ayah tidak waras." Celetuk Mayyu.
**HOLLAAA, JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN BANTU VOTENYA😍
__ADS_1
YU MAMPIR KE KARYA TEMEN AKU, JUDULNYA "Mengagumimu" KARYA DARI AUTHOR AMEL😍 RAMAIKAN YA GUYSSS**😍