
LIKE DULU, VOTE DULU YANGBANYAK, TRUS KOMENNYA DONGGG, KECEOATAN TERGANTUNG ANTUSIASME KALIAN..
***
"Jangan katakan apapun, aku membencimu." tegas Mayyu.
Gadis itu langsung membanting pintu kamarnya, dan menguncinya dari dalam, agar Heliand tidak bisa masuk.
"Mayyu ayolah, jarang sekali ada wanita paruh baya, yang mau meluangkan waktunya untuk hal ini."
Heliand terus mengetuk pintu kamar tersebut, pertengkaran itu terjadi karna Heliand membawa pulang seorang gadis muda dan berpenampilan yang tidak wajar, hanya untuk pekerjaan mengurus kedua bayinya.
Padahal sebelumnya Heliand sendiri yang mengatakan, jika dirinya tidak akan membawa wanita muda berpenampilan menarik untuk merawat bayinya.
Heliand menghela nafasnya dengan kasar, ia melangkah dengan penuh rasa lelah menuju lantai dasar, menghampiri wanita tersebut.
"Maaf, kau tidak masuk dalam kriteria istriku, kau boleh pergi sekarang." ucap Heliand
"Saya mohon tuan, biarkan saya yang membujuk Nyonya, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini."
Wanita itu memohon dengan wajah memelas pada Heliand, ia bahkan bersimpuh di hadapan Heliand dengan penuh harapan.
"Istriku sudah bilang tidak, kau boleh pergi." tegas Heliand
Sepertinya emosi Heliand sedikit terpancing, bagaimana tidak, sepulangnya dari kantor ia langsung mencari seseorang yang bersedia merawat bayinya dalam paruh waktu, dan setelah bersusah payah ia mendapatkannya Mayyu malah memakinya, bahkan langsung mengklaim jika Heliand akan mencari kesempatan jika ia mempekerjakan wanita muda.
Memang benar, wanita akan memaafkan kesalahan seorang laki-laki, tapi tidak dengan melupakannya, begitupun Mayyu, meskipun ia sudah memaafkan Heliand, tapi setiap bertengkar ia selalu mengungkit masalah tersebut hingga membuat Heliand tidka bisa berkutik, dan pasrah.
Wanita itu sudah meninggalkan rumah Heliand, pria jangkung itu nampak sangat lesuh, ia menjatuhkan dirinya di atas sofa, sesekali Heliand mnghela nafasnya dengan kasar, melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya.
"Hari ini tidak ada pijatan, tidak ada senyuman, tidak ada manjaan dari Mayyu." Gumam Heliand
__ADS_1
Pria jangkung itu terbaring, ia menopang kepalanya dengan kedua tangan, menatap ke arah langit-langit ruangan tersebut.
"Semua biro jasa sudah aku hubungi, wanita berumur jarang sekali ingin merawat bayi, sudah pasti mereka sedang berleha-leha menikmati masa tuanya."
Huuuhhhhh.. Heliand menghembuskan nafasnya perlahan, ia memijat pelipisnya yang tidak pusing, harapannya setelah pulang bekerja adalah mendapat belaian dari sang istri seperti biasanya, akan tetapi sekarang Mayyu malah tidak mengijinkannya masuk.
"Ini, Papamu menyuruhku memberikan ini padamu."
Erico melempar sekotak popok pada Heliand.
"Kau? kenapa kau bisa masuk?"
Erico terkekeh, ia berpikir betapa bodohnya sodara sepupunya tersebut.
"Pintu utamamu terbuka sangat lebar, apa kau pikir aku harus mengetuknya terlebih dahulu?" ucap Erico
Helind terduduk, ia meraih beberapa popok tersebut dan meletakannya di atas meja.
"Dimana Sean dan Siera? apa dia sudah terlelap?"
"Apa yang harus aku lakukan? Mayyu tidak mengijinkan aku masuk kedalam kamar, karna aku mmebawa pulang seorang gadis?"
"Gadis?" Mata Erico membulat dan terkeju mendengar pernyataan Heliand, "Kau selingkuh lagi?"
"Bodoh, tidak mungkin."
Heliand mencoba mengatakan segala permasalahannya pada Erico, ia bahkan mengatakan alasan, kenapa Mayyu sampai tidak memberinya pintu.
"Oh jadi itu masalahnya." ucap Erico, ia begitu kegelian melihat ekspresi Heliand dengan raut wajah yang memelas, baru kali ini Erico melihat Heliand ketakutan setengah mati menghadapi seorang wanita, yang tidak lain adalah istrinya.
"Sudah puas kau menertawakanku?"
__ADS_1
"Hahaa, okey aku bisa membantumu."
"Benarkah? tolong jangan bawa seorang gadis muda, atau tidak Mayyu akan membunuhku."
Erico merangkul Heliand dengan keadaan yang masih terus tertawa kegelian.
"Dia masih muda, tapi tenang saja aku yakin istrimu sangat menyukainya?"
"Apa dia seorang pria?" ucap Heliand, mengerutkan dahinya
"Bodohhhh!!! mana mungkin seorang pria bisa merawat bayi."
Heliand melebarkan senyumnya menyeringhai pada Erico.
"Lalu siapa dia?"
"Yuki."
Heliand menatap Erico dengan tajam.
"Siapa dia?"
"Gadis yang pernah membantu Mayyu menguntitmu saat bersama wanita lain dihotel." ucap Erico dengan santai
Heliand mengerutkan dahinya, ia berpikit keras, Yuki adalah gadis yang pernah menolong Mayyu, tentu Heliand mengingatnya.
"Kau yakin dia?"
"Tentu saja aku yakin." tegas Erico
Heliand menelan salivanya, ia sedikit ragu dalam hal ini, "Tapi bagaimana jika kedua wanita itu masih menyimpan dendam padaku?"
__ADS_1
"Itu deritamu." tegas Erico melebarkan senyumnya.
Entah Heliand harus senang ataupun bersedih, tapi yang jelas ia sangat membutuhkan bantuan Erico, dan Heliand akan mencoba saran dari sodara sepupumya tersebut.