
Mayyu benar-benar tidak tega melihat Heliand sangat kerepotan, setiap pagi Heliand selau bergelut dengan rasa mual dan kamar mandinya, ia sampai harus mengambil cuti sesekali, karna mual, pusing yang Heliand derita benar-benar sangat mengganggu.
Mayyu memijat mijat bahu Heliand di depan wastafel, ia menepuk punggung suaminya karna Heliand saat itu terus memuntahkan cairan bening kekentalannya.
Mau bagaimana lagi, setiap pria itu mengisi perutnya ia pasti akan mengelurkannya kembali, badan Heliand sering demam, tetapi pria itu malah 100 kali lebih manja dari biasanya.
"Kenapa ini sangat merepotkan,"
Heliand mengerucutkan bibirnya prustasi, pria itu menyandarkan kepalanya di atas dada sang istri, Heliand benar-benar memanfatkan hal ini dengan baik, Mayyu yang terlihat tidak seperti orang hamil, hal itu memudahkannya untuk beraktifitas.
"Apa setelah ini perutku akan membuncit."
Haliand mendongakan wajahnya menatap kedua bola mata Mayyu yang berbinar, gadis itu terlihat sangat memanjakan Heliand, ia mengelus pucuk kepala Heliand dengan penuh kasih sayang.
"Tidak masalah, setelah perutmu membuncit aku akan pergi bersama teman-temanku, dan menghabiskan waktuku dengan begitu banyak laki-laki, itu pasti sangat menyenangkan." ucap Mayyu dengan santai, memiringkan senyumnya
Heliand mengerutkan dahinya, Mayyu samgat sering menyentil sang suami dengan membahas masa lalunya, pria itu langsung mengerucutkan bibirnya dengan amat jengkel.
"Silahkan saja kalau kau berani."
"Tentu saja aku berani."
"Yasudah, sana pergi, cari pria lain." tegas Heliand, pemuda itu bahkan memalingkan tubuhnya membelakangi sang istri
"Oke baiklah."
Ucapan Mayyu benar-benar seolah tidak seperti bercanda, pria itu terus saja mengerucutkan bibirnya tidak menggubris ucapan sang istri
"Baru mengatakannya saja kau sudah tersinggung, bagaimana jika aku benar-benar melakukannya."
Mayyu tertawa kegelian melihat ekspresi Heliand yang seolah mempercayai ucapannya.
"Jika kau benar-benar melalukannya aku akan-"
Mayyu mengerutkan dahinya
"Akan apa?" tegas Mayyu
"Aku akan-"
__ADS_1
"Akan apa.?"
Mayyu mencubit perut rata sang suami hingga Heliand menggelinjang kegelian.
"Aku akan-,"
Heliand menatap wajah Mayyu yang sangat penasaran dengan apa yang akan Heliand katakan.
"Tentu saja aku akan menikah lagi." Tegas Heliand
Pria itu melebarkan tawanya, ia benar-benar kegelian melihat ekspresi istrinya yang kini berbalik jengkel.
"Apa kau berani? kau akan menikah lagi?"
Mayyu memukul-mukul bantal ke tubuh Heliand, ia benar-benar sanat kesal mendengar pernyataan Heliand yang akan menikah lagi jika Mayyu melakukan kesalahan, tentu saja itu sangat tidak adil, karna selama Heliand melakukan kesalahan, ia tidak pernah membalasnya ataupun memiliki rencana untuk menikah lagi.
"Hahahaa, hentikan sayang aku hanya bercanda, kau mohon hentikan."
Mayyu menghentikan hal tersebut, dengan keadaan wajahnya yang masih ditekuk, Pria itu mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri, kehamilan Mayyu yang baru beberapa minggu Heliand manfaatkan untuk memuaskan dirinya, karna setelah perut sang istri membesar tentu saja Heliand harus kembali menahan hasratnya sampai bayi mereka lahir.
"Aku sepertinya ingin sesuatu."
Heliand terkekeh mendengar ucapan Mayyu, bagaimana tidak, Mayyu sudah sangat yakin jika Heliand akan meminta hal itu lagi padanya.
"Haha sejak kapan istriku menjadi so tau seperti ini?"
"Mayyu apa kau tahu? aku sangat membenci buah pepaya."
"Iya lalu?"
"Aku ingin mencobanya."
Mata Mayyu membulat sempurna, bagaimana tidak, Heliand sangat tidak suka pada buah itu, menurut Heliand itu adalah buah yang sangat menjijikan, teksturnya yang lembek berair, juga lengket membuatnya sangat jiji jika melihat buah itu.
Namun entah mengapa pria itu ingin mencobanya sekarang.
"Kau yakin? pepaya? Heliand bukankah itu adalah buah yang sangat menjijikan menurutmu?"
"Tapi aku ingin mencobanya, apalagi jika aku memakannya dari tanganmu langsung."
__ADS_1
Mayyu mengerti, hal ini adalah bawaan si jabang bayi, selera seseorang bisa berubah 100% jika menyangkut persoalan kehamilan, atau bisa di bilang Heliand sedang mengidam.
Siang itu Mayyu sudah mengupas beberapa buah pepaya untuk sang suami, Heliand terlihat sedang duduk manis menunggu kedatangan sang isti yang sedang menyiapkan buah keinginan Heliand tersebut.
Gadis itu membawa beberapa potongan pepaya dengan piring, ia terduduk di samping Heliand sambil terus memancarkan senyumnya yang berbinar.
"Ini."
Mayyu menyerahkan potongan buah tersebut pada Heliand
"Apa ini? tentu saja kau yang harus menyuapiku." Tegas Heliand
Astaga Heliand benar-benar seperti anak kecil, bahkan hanya tinggal memakan buah tersebut saja harus Mayyu sendiri yang melakulan.
Terdengar suara ketukan pintu dan bel dari luar, membuat Mayyu kembali meletakan sendok garpu tersebut di atas piring.
Heliand menghela nafasnya kesal, seolah tidak terima jika dirinya bersama Mayyu harus terganggu.
"Kenapa orang-orang sangat menyebalkan, mengganggu saja." Tegas Heliand
Pria itu menyeret piring tersebut di hadapannya, ia langsung memakan buah pepaya itu sendiri, dengan bibir yang mengerucut
Terlihat Lia chan datang, Mama dari Heliand tersebut sampai tidak percaya dengan apa yang ia lihat, anaknya yang ia ketahui sangat membenci buah pepaya, bahkan menurut Heliand buah itu sangatlah menjijikan.
"Heliand kau? ini? kau menyukainya? apa.kau benar-benar memakannya?."
"Tentu saja aku memakannya, bayiku yang menginginkannya."
Lia chan keheranan ia mengalihkan pandangannya ke arah Mayyu.
"Iya mah, Aku sedang hamil, dan Heliand yang terkena morning sickness."
Mayyu melebarkan senyumnya yang berbinar, sedangkan Lia chan masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Kau hamil? apa itu tidak terlalu cepat?."
"Bukannya jika lebih cepat, itu lebih baik." ucap Heliand sambil menyantap buah tersebut
Tidak berubah, Heliand masih saja seperti putra kecil Lia chan, yang memudahkan segala hal denfan santainya.
__ADS_1
NEXT LIKE KOMEN DAN BNATU VOTEEEðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜