
Mayyu sudah berdiri di ruangan dokter dengan raut wjaah yang kesal, bagaimana tidak, domter terus menyangkal jika Heliand baik-baik saja, padahal itu tidak mungkin, tidak mungkin seseorang yang baik-baik saja akan merasakan pusing secara terus menerus, keadaan Heliand tidak menandakan jika pria itu baik-baik saja.
"Dokter sebenarnya apa yang trrjadinpada Heliand, ia tidak mungkin baik-baik saja," tegas Mayyu dengan raut wajah kesal
"Sebaiknya kita lupakan masalah tentang tuan muda Heliand."
"Apa maksdudmu?."
"Nyonya aku sudah memeriksanya, tekanan darah normal, syaraf otak juga tidak ada masalah,"
Mayyu semakin tidak mengerti mendengar ucapan dokter yang menurutnya sangat bertele-tele.
"Mungkin saja penyakitnya ada pada diri Nyonya sendiri."
Dokter itu benar-benar sangat membingungkan, Mayyu bahkan tidak tahu ia harus menjawab apa, dengan santai dokter itu memberikan benda kecil yang tidak lain sebuah alat tes kehamilan pada Mayyu.
"Dokter ini?"
"Kau bisa mencobanya di kamar mandi."
Akhirnya dengan berat hati Mayyu mengikuti apa yang dokter katakan, menurut Mayyu ia tidak mungkin hamil, karna selama ini ia tidak merasakan apapun, ia merasa sehat-sehat saja, tidak ada tanda-tanda jika ia hamil, seperti apa yang pernah ia rasakan di kehamilan pertamanya dulu.
Heliand yang tadinya berada di ruangan lain pun datang untuk menemui sang istri dan dokter yang memeriksanya.
"Dokter bagaimana? apa yang terjadi padaku sebenarnya?" ucap Heliand
"Kita akan mengetahui jawabannya setelah istrimu keluar dari toilet."
Dokter itu terlihat memiringkan senyumnya, tentu saja ia sanga yakin jika masalahnya ada pada Mayyu, bukan pada Heliand.
Setelah beberapa menit lamanya, Mayyu keluar dari dalam toilet, dengan raut wajah gugup.
"Bagaimana? dugaan ku benar bukan? boleh aku lihat hasilnya?."
Mayyu menelan salivanya, ia mengalihkan pandangannya pada wajah sang suami sambil menyerahkan hasil tes tersebut pada dokter di hadapannya.
__ADS_1
"Mayyu apa yang terjadi? apa aku baik-baik saja?"
Mayyu mengerucutkan bibirnya dengan wajah datar.
"Selamat tuan Heliand, kau akan menjadi seorang ayah."
Mata Heliand membulat sempurna, seolah terkejut mendengar ucapan dokter tersebut.
"Dokter jadi?-"
"Aku sudah mengatakannya pada istrimu, masalahnya ada dalam dirinya, tapi dia tidak percaya."
Heliand melirik ke arah Mayyu yang tidak memancarkan ekspresi apapun, tentu saja Heliand sangat bahagia, setelah kepergian bayinya Mayyu dengan mudah bisa mengandung kembali tanpa ada masalah.
"Jadi istriku hamil? tapi kenapa lebih tepatnya seperti aku yang hamil?." tegas Heliand
Dokter itu tertawa kegelian, wajar saja, psangan muda seperti Mayyu dan Heliand mungkin memang belum mengerti akan hal ini.
"Tuan Heliand, hal ini biasa terjadi pada calon ayah sepertimu, Sekali lagi selamat, masalahnya sudah ditemukan, tolong jaga baik-baik istrimu."
Dokter itu menjabatkan tangannya pada Heliand, Mayyu yang terlihat kaku pun meninggalkan ruangan dokter tersebut dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi.
"Mayyu tunggu."
"Mayyu tunggu." teriak Heliand yang langsung menghentikan langkah sang istri.
Pria itu menatap mata sendu istrinya, begitu banyak pertanyaan di dalam otak Heliand ketika Mayyu memancarkan ekspresi seolah tidak bahagia atas kehamilannya.
"Apa kau tidak menginginkan kehamilan ini?"
Mayyu terdiam, bibirnya mengerucut, dengan mata yang menggenang, Heliand mendongakan wajah Mayyu, agar gadis itu menatap kembali dirinya.
"Katakan, apa ada masalah?"
Mayyu masih terdiam, ia tidak mengatakan apapun, sejujurnya Mayyu belum siap untuk hamil kembali, bagaimana tidak, dukanya belum hilang, bahkan hubungannya dengan Heliand baru saja membaik, Mayyu hanya ingin menunda hal ini agar sang suami bisa lebih dewasa.
__ADS_1
"Katakan saja, aku mengerti ini terlalu cepat."
Heliand memeluk tubuh sang istri, ia benar-benar memberikan ketenangan pada Mayyu saat itu.
"Aku belum siap." ucap Mayyu dengan suara ynag bergetar.
Heliand mengecup pucuk kepala gadis itu, ia tentu mengerti bagaimana perasaan istrinya sekarang.
"Percayalah, aku tidak akan pernah mengulangi kesalahanku untuk yang kedua kalinya, aku mencintaimu."
"Bukan, aku percaya padamu, tapi-"
"Tapi apa?"
"Tapi-"
Mayyu tidak mengatakan sebuah alasan yang cukup jelas, ia hanya terus menekuk wajahnya dengan sangat menggemaskan, ingin rasanya Heliand merengkuh bibir sang istri jika gadisnya sedang dalam kegelisahan, dan hal itu benar-benar Heliand lakukan, padahal saat itu ia dan Mayyu masih berada di lingkungan rumah sakit, entah apa yang ada dalam pikiran Heliand ketika bibirnya merengkuh bibir sang istri, namun saat itu Mayyu benar-benar terkejut tidak membalas ciuman Heliand, matanya membulat sempurna ketika Heliand melakukan itu dengan santai, tanpa memikirkan tempat sekitar.
"Mmmmmm,"
Mayyu memukul bahu Heliand, mendorong sidikit tubuh pria itu agar Haliand melepaskan ciumannya.
"Apa kau tidak waras, ini rumah sakit."
"Memangnya kenapa? aku bebas melakukannya dimanapun, kau kan istriku, tidak ada alasan untuk menolak."
Ingin rasanya Mayyu memukul pria itu dengan amat keras, bagaimana tidak, semua orang di sekitarnya sedang menatap kearah mereka berdua.
"Bodoh, semua orang sedang menatap kita."
Mayyu terus menggerutu, pria itu melihat ke sekeliling yang ternyata memang benar, semua orang di sana sedang menatap.ke arahnya dan sang istri. Namun pria itu trrlihat tidak perduli, ia dengan santai mengangkat tubuh sang istri dan membawanya berlalu dari tempat tersebut.
Mayyu benar-benar semakin terkejut, Heliand memanjakannya di hadapan semua orang, dan itu tentu suatu kebahagiaan baginya, semua orang di sana sampai terkagum-kagum melihat perlakuan manis Heliand pada sang istri, Haliand sukes membuat mereka menjerit melihat tingkah romantisnya bersama sang istri.
**NEXT GUYS, LIKE KOMEN DAN BANTU VOTENYA
__ADS_1
RAMEIN JUSEL JUGA DONG, UDAH SAMPE KONFLIK JUGA LOH JUDULNYA "Why Fall In Love" TINGGALIN JEJAK KALIAN YA GUYSS, JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA.
SAMA SATU LAGI NIH YANG GAK KALAH BIKIN MEWEK "Just 1 Years" HAYU BURUAN RAMEINš¤©**