Not Wrong Destiny 2

Not Wrong Destiny 2
Chapter 91


__ADS_3

Mayyu selalu menjaga penampilannya, dalam kesibukannya mengurus dua buah hati, ia selalu memperhatikan hal tersebut, agar tetap terlihat cantik, dan segar. Saat itu ia sedang mengecap kuku cantiknya dengan begitu telanten, tapi ada saja yang membuat Mayyu kesal ketika melihat Heliand, pria jangkung itu selalu saja mengganggu momen santainya, padahal Mayyu sendiri masih menyimpan kesal akibat ulahnya, yang telah membawa seorang gadis tadi malam.


"Sayang, tolong dengarkan aku, maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu."


Heliand terus saja mengoceh, meskipun sedari tadi Mayyu tidak mendengarkannya.


"Erico bisa membantu, tolong dengarkan aku."


Mayyu mengerutkan dahinya, ia melirik ke arah Heliand dengan garang dan berkata, "Jadi kau meminta bantuan pada Erico untuk membujukku? dasar tidak tahu malu aku membencimu."


Mayyu memukul tubuh Heliand dengan bantal soffa, saat itu ia benar-benar sudah amat merasa jengkel, dengan kelakuan Heliand yang tidak pernah masuk akal.


"Mayyu."


Gadis itu menghentikan aksinya, ia melirik kesumber saura yang memanggil namanya.


"Oh jadi kau sudah datang, apa Heliand memberimu kompensasi untuk membujukku?" celetuk Mayyu. Ia pun menatap Erico dengan tatapan kejam, sampai Erico berpikir, wajar saja Heliand seeing ketakutan setengah mati jika menghadapi sang istri.


"Aku bahkan sudah membawa orangnya." ucap Erico.


Entah kenapa nyali Erico pun sedikit menciut, padahal sebelumnya ia sangat percaya diri, dan begitu yakin.


"Apa? kau sudah membawanya?"


Mayyu kembali memukul Heliand dengan bantal, ia begitu terlihat sangat kesal dan marah pada sang suami, yang menurutnya sedang mencari kesempatan untuk mengulangi kesalahannya.


"Dasar tidak tahu malu, aku membencimu, lebih baik kau ceraikan aku dari pada aku harus menerima kesalahanmu untuk yang kedua kalinya." jerit Mayyu


Heliand sampai kewalahan, hal ini wajar, mungkin saja Mayyu trauma, jika harus mengingat apa yang pernah Heliand lakukan padanya.


"Nyonya"


Seketika semua orang melirik ke arah Yuki, yang telah datang bersama Erico, gadis itu sengaja menunggu diluar, karna begitu dirinya dan Erico datang, Mayyu terlihat sedang bertengkar dengan Heliand.

__ADS_1


Beberapa waktu sebelumnya...


Yuki menganga begitu mendengar ucapan Erico, yang menyuruhnya untuk menjadi pengurus bayi.


"Tidak, bagaimana mungkin? aku belum menikah, aku belum punya anak."


Erico menyeruput kopi hangat yabg telah Yuki suguhka, ia menghembuskan nafasnya pelan lalu meletakan kembali secangkir kopi tersebut.


"Semua itu akan terjadi, kenapa harus buru-buru?"


Yuki membulatkan matanya menatap wajah Erico, "A-apa maksudmu?"


"Lagi pula syarat untuk menjadi pengurus bayi tidak diwajibkan harus sudah memiliki anak." ucap Erico dengan santai.


"Tidak, apa maksudmu?"


Yuki kembali melempar pertanyaannya, karna ia belum mendapat jawaban dari Erico atas pertanyaan.


"Ucapanmu barusan!"


"Syarat menjadi perawat tidak harus memiliki anak?"


"Bukan itu, sebelumnya!"


"Apa?"


"Lupakan." Tegas Yuki dengan raut wajah datar.


Wajah Yuki memelas menatapnya, disisi lain ia sangat membutuhkan pekerjaan, karna sudah beberapa bulan lamanya, Erico yang terus membantu Yuki, melunasi tagihan tempat tinggalnya.


"Bagaimana? kau bersedia?"


"Mmm, bagaimana ya?"

__ADS_1


Erico terkekeh, ia menatap Yuki dengan tatapan penuh arti.


"Atau sebaiknya kita membuat anak saja, agar kau bersedia mengurus seorang bayi."


Mulut Yuki terbuka lebar, bahkan segerombolan lalat saja bisa masuk kedalam mulutnya tersebut. semakin hari Erico malah semakin berani kepada Yuki, entah apa maksud dan tujuan Erico, yang jelas Yuki pun cukup tahu diri, di dunia ini mana ada orang yang ingin membantu tanpa mengharapkan imbalan.


"Bagaimana?"


Erico memiringkan senyum piciknya, ia mendekatkan wajahnya menatap mata gadis itu dengan sorot yang berbinar. jarak keduanya hanya beberapa senti, Yuki sampai memundurkan kepalanya dengan mata yang membulat, membalas sorot mata Erico.


"A-aku bersedia." ucap Yuki terbata-bata.


"Bagus, kau penurut juga."


Sorot mata Erico benar-benar membuat Yuki tidak karuan, ia masih saja mendekatkan wajahnya menatap Yuki semakin dalam, hingga rasanya detak jantung Yuki berdebar berlipat-lipat kali lebih cepat dari biasanya.


"Tu-tuan, bisakah aku-aku ke toilet."


Yuki sampai di buat gugup, padahal saat itu Yuki tidak ingin melakukan apapun, toilet hanya alasannya saja, agar dia bisa terlepas dari Erico saat ini.


"Gadis bodoh."


Erico menarik dirinya, menjauh dari Yuki, gadis itu sampai bernapas dengan lega, saat Erico membuat jarak atas kedekatannya dengan Yuki barusan.


"Kenapa kau diam?" ucap Erico


"Lalu aku harus apa?" tegas Yuki


"Kua bilang, kau ingin ke toilet."


Astaga, Yuki melupakan sendiri alasannya, matany kembali membulat, ia langsung beranjak dan berlalu dari hadapan Erico dengan tergesa-gesa.


LIKE KOMEN DAN BANTU VOTENYA DONGGG...

__ADS_1


__ADS_2