
"Jeniffer, anakku sayang." ucap Mami langsung menghambur memeluk anaknya satu-satunya.
"Mami, Jeni sangat merindukan kalian berdua." jawab Jeniffer melirik kedua orang .
"Mami dan papi sangat kesepian dirunah besar ini, sampai-sampai ingin rasanya Mami menjemput mu kekampungnya Zein" terang Mami.
"Ah Mami bisa saja." Gumam Jeniffer manja.
"Kamu terlihat begitu cantik dengan pakaian tertutup dan hijab ini nak, ternyata Zein benar-benar mampu merubah mu. sehingga menjadi lebih baik lagi. meskipun mami sempat khawatir dengan apa yang menimpa mu selepas dari pulau itu." terang Mami mersa lega karena Zein memberitahu jika Jeniffer sekarang sudah tidak pernah mengalami kejadian aneh lagi setelah dirukiah oleh ustadz Usman.
***Sebulan berlalu.
Zein dan Jeniffer memulai kehidupan mereka yang baru, atas permintaan Arya, Zein akirnya kembali bekerja di perusahaan Arya yang berpusat di negara Meksiko, perusahaan yang dulu nya pernah tercoreng nama baiknya oleh keegoisan dan ambisi Jeniffer yang dulunya tergila-gila terhadap Arya.
Jeniffer lebih fokus mengurus keluarga kecil nya, dan mulai ikut program hamil. mengingat Jeni anak tunggal, sehingga kedua orang tuanya sangat menginginkan kehadiran seorang cucu ditengah-tengah kebahagiaan Rumah tangga anaknya.
__ADS_1
Pagi ini Zein terlihat sangat rapi, selepas sarapan bareng. dia bersiap untuk berangkat kerja.
"Sayang, Uda berangkat kerja dulu ya." ucap Zein mencium kening Jeniffer yang mengantarkan sampai halaman depan.
"Iya Uda, hati-hati ya." balas Jeniffer sambil melambaikan tangan, dia menatap mobil Zein yang sudah menghilang dari gerbang utama, setelah itu Jeni baru masuk kedalam Rumah.
"Bau apai ini?"
Jeniffer langsung berlari menuju Wastafel, rasanya dia ingin memuntahkan isi perut, ketika mencium aroma masa sang mami, yang biasanya begitu disukai Jeni.
"Kepala Jeni pusing mi, dan aroma masakan ini membuat Jeni mual." keringat dingin membasahi wajah cantik nya.
"Saya, tidak biasanya kamu seperti ini, kita periksa ke dokter yanak? biar Mami yang nganterin." Mami berusaha untuk membujuk Jeniffer, sekalian untuk memastikan praduga nya yang berharap Sekai jika Jeni hamil.
Jeniffer tidak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi, dia mengganggukan pelan kepalanya, dan mengikuti langkah Mami yang memapah tubuhnya menuju Rumah sakit terdekat.
__ADS_1
"Bagaimana dok, kondisi anak saya?" tanya Mami pada dokter yang memeriksa kondisi Jenifer.
"Anak ibu sedang memasuki masa kehamilan semester pertama, tapi kondisi nya terlihat lemah, saya akan memberikan beberapa vitamin untuk nya, serta obat untuk mengurangi rasa mual dan ingin muntah-muntah yang dirasakan nya." terang dokter.
"Apa dokter, jadi Putri ku hamil." Mami mengulangi pertanyaannya, dengan mata berbinar-binar bahagia, tanpa sadar air mata membasahi wajah nya yang tidak lagi muda.
"Benar Nyonya, dan kondisi bayinya sangat sehat, dengan detak jantung yang sangat normal." terang dokter.
Mami dan Jeniffer saling peluk, karena sangat bahagia dan beruntung, mami langsung menghubungi ponsel Zein. untuk memberi tahu kan berita yang sangat menggembirakan ini, dia lupa akan permintaan Jeniffer yang ingin memberi kejutan pada suaminya itu.
"Apa mi, Jeniffer hamil anakku?" ucap Zein.
"Iya Zein." balas Mami lagi.
"Alhamdulillah, aku benar-benar bahagia mendengar kabar itu i mi." ucap Zein terlihat antusias dan sangat bahagia. Zein pun memberitahu langsung keluarga nya yang berada dipadang, yang ikut memberikan selamat pada Zein dan Jeniffer.
__ADS_1