
Arden merasa lega, seolah-olah beban berat dipikiran nya berkurang setelah mendapatkan dukungan dari ibu tercinta, siti Hayati. malam ini Arden berniat untuk kabur dari istana, tekatnya sudah bulat untuk menyusul wanita yang dicintainya.
"Pangeran tunggu." Arden langsung menoleh begitu mendengar suara Rembo.
"Ada apa Rembo?" ucap Arden berusaha mengecilkan nada suaranya, dan memberi kode agar Rembo mengikuti nya ketempat yang lebih aman.
"Pangeran Anda mau kemana?"
"Aku akan pergi meninggalkan istana ini, Rembo."
"Apa pangeran ingin menyusul anak manusia itu?" ucap Rembo.
"Iya, aku tidak bisa berdiam diri dan tinggal di istana terus-menerus, sementara hati dan pikiranku tertuju terus pada wanita ku." ucap Arden bersiap-siap pergi.
"Pangeran aku ingin ikut dengan mu." ucap Rembo mantap.
"Tidak usah Rembo, perjalanan ku nanti pasti akan penuh dengan tantangan, aku tidak mau melibatkan mu dalam masalah ku." balas Arden.
"Aku siap dengan segala resiko nya pangeran, aku akan membantu dan berusaha untuk melindungi mu." ucap Rembo meyakinkan.
"Baiklah, kamu memang pengawalku yang paling setia Rembo." Arden tersenyum senang. mereka berdua melambaikan tangan perpisahan pada permaisuri Hayati yang menatap sedih kepergian anak kesayangannya.
"Semoga kamu menemukan cinta sejati mu nak." Gumam Hayati mengusap air mata dikedua pipinya.
Arden dan Rembo harus menempuh perjalanan panjang, karena mereka harus menembus ruang ghaib yang terdapat tujuh pintu gerbang, agar mereka bisa langsung terhubung dengan Dunia manusia. sang raja sengaja membuat benteng keamanan untuk wilayah nya termasuk dari serangan musuh-musuh kerajaan mereka.
Paula yang baru sembuh, langsung mengepalkan tangannya geram saat mendengar kabar jika Arden akan kabur dari istana, dia dibantu seorang Tabit pun membuat suatu siasat untuk mengelabui Arden.
"Tabit aku masih sakit hati atas penghinaan dan perilaku Arden." ucap Paula dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan untuk membantu mu Putri?" ucap Tabit setia Paula.
"Aku ingin kami merubah bentukku wajah ku, menjadi wanita yang dicintai Arden. sehingga dengan begitu mudah bagi kita membalaskan dendam pada pria sok tampan itu....ha ....ha aku ingin dia menyesal karena telah memperlakukan ku seburuk ini." ucap Paula penuh dendam dan kemarahan. sehingga taring dan kukunya langsung memanjang menggambarkan suasana hatinya yang sangat memburuk.
"Bisa Putri, tapi kita harus mendapatkan tujuh darah perawan gadis bangsa manusia untuk memulai ritual ini. sehingga dengan darah perawan itu wajah Putri akan terlihat semakin cantik dan bersinar." jawab Tabit.
"Tidak masalah, cepat perintahkan prajurit kita untuk pergi ke alam manusia sekarang." ucap Paula tersenyum jahat.
Tidak butuh waktu lama bagi prajurit Paula, mereka berhasil mendapatkan tujuh darah perawan dari hubungan pergaulan remaja yang terlarang.
"Bagus....bagus.... dengan darah ini, khasiat dari mantra akan cepat bekerja." ucap Tabit sambil mengolesi wajah Paula dengan darah tersebut, yang digunakan sebagai masker untuk Paul, sambil komat-kamit Tabit membacakan mantra.
Sinar langsung terpancar dari wajah cantik Paula, dia terlihat begitu cantik layaknya manusia sungguhan dan sama persis dengan Jeniffer. Paula !eraba wajah nya yang jauh terasa halus dan lembut, dia seakan-akan tidak percaya jika pantulan wajah cantik yang terpancar dari air telaga itu adalah dirinya sendiri.
"Apakah ini benar diriku?" Gumam Paula.
"Benar putri, sekarang Putri sudah berubah menjadi bagitu cantik, dengan darah perawan anak bangsa manusia." ucap Tabit ikut senang karena berhasil memvuat tuan putri nya bahagia.
"Apapun akan saya lakukan untuk putri, sekarang apa langkah kita selanjutnya Putri?" ucap Tabit.
"Buat Arden menyesal, aku ingin wajah tampan nya itu berubah. jika perlu buat dia seburuk-buruknya ibarat monyet jantan yang terlihat sangat bodoh." ucap Paula.
"Baik Putri, aku akan segera menyiapkan mantra, dan bubuk yang terbuat dari kotoran monyet-moyet. setelah Arden terperdaya Nona lempar kan bubuk ini kewajahnya, sehingga dengan begitu Arden akan langsung berubah menjadi seekor monyet, yang tidak bisa berfikir cepat alias bodoh." jawab Tabit.
"Ha....ha...hi...hi....rasain kamu Arden. makanya kamu jangan coba-coba melawan ku yang selalu bertindak cepat dibandingkan dengan mu." teriak Paula penuh kemenangan, rasa cintanya yang besar terhadap Arden sekarang sudah berubah menjadi rasa dendam dan kebencian.
***
Dialam Manusia, Zein tidak memperdulikan sebuah mobil hitam mewah berhenti disamping nya, karena dia begitu cemas dengan keadaan Jeniffer saat ini.
__ADS_1
“Zein, Jeniffer....ya Allah ternyata ini benar-benar kalian berdua,” Ucap Arya dengan suara yang keras, yang seolah-olah tidak percaya dengan penglinya saat ini, serta rasa bahagia yang teramat melihat asisten sekaligus sepupunya.
Zein terlonjak kaget, dan langsung menoleh kearah Arya dan Sanum.
mulutnya ternganga.
“Tuan Arya, Nyonya Sanum? Benarkah ini kalian berdua.” Ucap Zein antusias, tanpa sadar air mata menetes karena terharu.
Tanpa menjawab, Arya langsung menarik tubuh Zein kedam pelukannya.
“ Kenapa kalian berdua tiba-tiba menghilang, tiba-tiba muncul kembali , dan lihatlah bentuk kalian berdua pun sekarang sudah berubah. seperti orang jalanan.” Ucap Arya.
“Cerita nya panjang Tuan, yang terpenting kita harus menyelamatkan Jeniffer dahulu.” Ucap Zein panik.
“Jenifer kamu kenapa sampai seperti ini dek.” Gumam Arya membantu Jeniffer dan memasukkan kedam mobil.
Kepala Jeniffer ditidurkan diatas paha Sanum, yang menatap iba melihat kondisi Jeniffer yang terlihat sangat pucat. Sanum membantu merapikan dan mengikat rambut Jeniffer yang berantakan, Sanum Merasa Jeniffer sudah seperti layaknya adik kandungnya sendiri. Arya langsung melaju kan mobil nya menuju Rumah sakit terdekat, agar Jeniffer segera mendapatkan pertolongan.
Banyak pertanyaan yang ingin diajukan oleh Arya, tapi dia masih mencoba meredamnya sampai kedua sudah siap untuk menceritakan semuanya.
Kedua orang tua Jeniffer langsung menuju Rumah sakit tempat Jeniffer dirawat, mereka sangat bahagia begitu mengetahui Putri mereka satu-satunya sudah ditemukan, meskipun kondisi kurang baik.
“Jenifer anakku sayang.” Mami dan papinya langsung menghambur memeluk tubuh Jeniffer yang sudah terpasang selang infus.
“Mami...Papi... maaf kan Jeni hu..hu,” tangis Jeniffer pecah dalam pelukan kedua orang tuanya.
“Iya nak, semoga kejadian ini bisa membuat mu menjadi lebih baik lagi.” Ucap maminya.
“Iya mi, Jeniffer Janji akan berubah, mungkin ini Hukuman untuk Jeniffer yang selalu egois dan keras kepala.” Ucap Jeniffer.
__ADS_1
"Kak Arya, kakak ipar tolong maafkan kesalahan Jeniffer ya." ucap Jeniffer disela-sela tangisan.
"Tentu Jeniffer, kakak selalu memaafkan mu." balas Arya yang diikuti Sanum. mereka kembali berpelukan penuh haru dan rasa bahagia. tanpa ada dendam lagi diantara mereka.