
"Uda, bagaimana ini? apa keputusan kita untuk menjodohkan Safira dengan tuan Husein tidak salah?" tanya Jeniffer.
"Bukan tuan Husein, tapi anaknya Alexander." ralat Zein.
"Oooya, Mama lupa. Alexander maksudnya." Jeniffer tersenyum dengan ucapan nya sendiri.
"Ma, ini yang terbaik, apa Mama lupa bagaimana kita bisa lepas dari makhluk itu dulunya. pak ustadz Usman juga menyarankan agar Safira segera menikah saja. agar dia aman kedepan nya. dan Alexander adalah laki-laki yang tepat." terang Zein membulatkan tekad dan keputusan nya.
Jeniffer akirnya menarik nafas pasrah, dan berdoa semoga keputusan ini, terbaik untuk keluarga dan anaknya Safira.
Dikamar, tangis Safira langsung membanjiri wajah cantik nya, seiring dengan deras air hujan yang turun membasahi bumi. gadis itu berdiri didepan jendela kamar, memperhatikan rintik-rintik air hujan yang turun memecah keheningan di kegelapan malam.
"Zerzio, kenapa aku tiba-tiba merindukan mu. ingin rasanya aku bertemu kembali dengan mu Ze, menceritakan bagaimana sedih dan kecewanya aku yang dijodohkan dengan laki-laki yang sama sekali tidak aku cintai, aku tidak peduli siapa? dan bagaimana asal usul mu Ze, tanpa aku sadari aku mulai jatuh cinta, aku percaya kamu tidak seburuk yang mereka pikirkan."
Kata hati Safira langsung memberi sinyal pada Arden, laki-laki itu langsung bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Pangeran Anda kenapa?"
"Entahlah Rembo, tapi aku merasa wanita ku memangil-mangil dan menyebut namaku. aku merasakan kesedihannya, sama persis dengan kesedihan yang aku rasakan saat ini Rembo." ujar Arden tanpa sadar mengusap air matanya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang pangeran, bagaimana pun. aku sebagai pengawal mu, juga tidak rela jika melihat pangeran menderita dan menerima perjodohan dengan wanita yang tidak pangeran cintai." ujar Rembo ikut sedih.
"Aku bingung Rembo, tidak mudah untukku membuka hati pada sembarang wanita. apalagi aku harus menikahi wanita tersebut." ujar Arden.
"Aku punya ide, bagaimana jika pangeran kabur saja kebukit Savana, sekalian culik dan bawa kabur Safira kesana." ujar Rembo antusias.
"Aku yakin tidak akan ada yang terluka, aku akan minta bantuan permaisuri Hayati." ujar Rembo yang langsung melakukan panggilan darurat.
Gumpalan asap dan tiupan angin kencang, merupakan pertanda jika kendaraan kerajaan yang mengantarkan permaisuri Hayati sudah sampai. Rembo dan Arden langsung tersenyum menyambut kedatangan Ratu Hayati dihadapan mereka.
"Anakku Arden." Hayati langsung menekuk Arden penih kerinduan.
__ADS_1
"Ibunda." balas Arden.
"Ibu ikut senang melihat kebahagiaanmu nak, apalagi setelah kamu mengetahui jati dirimu yang sesungguhnya." ucap Hayati memperhatikan kamar Arden, yang luas dan mewah, tidak jauh beda dengan kehidupan di kerajaan nya.
"Ya bu, aku bahagia telah mengetahui kebenarannya. tapi dibalik semua itu aku sangat sedih dan dihadapkan pada pilihan dan situasi yang sulit ibu." terang Arden.
"Apa maksudmu nak?"
"Papa menjodohkan aku. dengan wanita yang tidak aku kenal dan cintai ibu, aku harus bagaimana sekarang?" Arden terlihat galau dan gusar.
"Permaisuri aku ada Ide, dan minta bantuan dan kerjasamanya Ratu." ujar Rembo.
"Bagaimana caranya?" ujar Hayati bingung.
"Semenjak kejadian penyatuan batu mustika yang terjadi di dasar lautan, aku sekarang bisa hidup dan berbaur dengan bangsa manusia. jadi dengan begini aku bisa menggantikan posisi pangeran Arden dengan menyamar mengunakan wajahnya."terang Rembo.
__ADS_1
"Wah ide yang sangat cemerlang." jawab Ratu dengan mata berbinar-binar bahagia.