
Sampai di Villa, Arden mengajak dua gadis cantik itu untuk singgah di Villa milik pribadi nya, yang terlihat lebih mewah dan indah dibandingkan Villa milik keluarga Safira.
Bagian belakang Villa, terdapat peternakan kuda dan hamparan Padang rumput yang sangat luas. sehingga Safira dan Stevani menatap takjub.
"Ngak nyangka ya disini ternyata juga ! memiliki Padang rumput yang sangat indah dan menghijau." ucap Safira.
"Ya, perasaan kita dari kemaren tidak melihat hal ini?" ucap Stevani mengaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Kalian mau nyoba menunggangi kuda-kuda ini ngak?" tanya Zerzio sambil mengelus kuda putih kesayangannya. yang membuat Safira tiba-tiba mersa pusing, saat melihat kedatangannya seolah-olah kuda tersebut menundukkan kepalanya hormat pada Safira, yang juga mendengar kuda itu seperti menyapa diri nya.
"Selamat bertemu kembali tuan Putri Safira yang terhormat," Ucap kuda putih, namun saat melirik Stevani dan Zerzio, mereka terlihat tidak mendengar ucapan kuda putih tersebut.
"Kuda ini sama persis dengan yang ada di mimpi ku, apa ini kebetulan saja?" berbagai pertanyaan berkecamuk dibenak Safira, sehingga gadis itu tiba-tiba pingsan.
__ADS_1
"Safira....Fira, bangun...kamu kenapa." Stevani mengguncang pelan tubuh Safira, sedang kan Zerzio melipat lengan kemejanya. dan bersiap mengangkat tubuh gadis yang dicintainya menuju Villa.
Dengan perlahan dan penuh kasih sayang, dia merebahkan tubuh Safira diatas sofa empuk, sementara Stevani sibuk mengolesi tubuh Safira dan hidungnya mengunakan Minyak kayu putih, meskipun Arden sangat tidak menyukai wangi tersebut, namun dia berusaha untuk menahan rasa mualnya.
"Dimana aku?" terdengar suara Safira yang lembut karena baru siuman dari pingsannya, perlahan gadis itu mengedarkan pandangannya.
"Kamu berada di Villa ku cantik." jawab Zerzio tersenyum. yang membuat Safira kembali terlena melihat ketampanan Pangeran kerajaan bukit Savana itu.
"Iya Fira, kamu tiba-tiba pingsan sewaktu Om Zerzio ini mengajak kita naik kuda. padahal semula aku begitu antusias ingin merasakan bagaimana menunggangi kuda putih itu."
"Aku berharap pangeran bisa menjadi manusia seutuhnya kembali, dengan menyatukan batu mustika yang terpecah itu, bagaimana pun permaisuri dan Baginda raja membuat pangeran Arden menjadi bangsa mereka, dan menjadikanya raja penerus bangsa Bukit Savana tidak akan pernah terwujud jika jiwa yang dimiliki pangeran masih jiwa manusia." Gumam Rembo sedih.
"***Rembo teringat akan kejadian beberapa tahun silam, seorang anak kecil yang berumur tiga tahun menangis sendirian di tepi hutan Savana, (Arden kecil yang dibuang oleh ibu tirinya yang serakah) di perbatasan alam manusia dan bangsa jin Savana. saat itu sang raja dan permaisuri yang juga belum memiliki keturunan langsung jatuh hati pada anak manusia itu. mengingat sang raja yang mandul.
__ADS_1
Mereka memanfaatkan anak yang mereka temui tersebut untuk menggantikan posisi kerajaan mereka suatu saat, dengan menanamkan separuh bagian batu mustika milik raja ditubuh Arden, sehingga pangeran bisa hidup di alam jin. meski dialam manusia umur Arden sudah tiga puluh lima tahun, namun dialam jin bisa mencapai ratusan. perbedaan yang tidak masuk akal bagi bangsa manusia***.
Namun rahasia besar itu, hanya sang Baginda Raja, permaisuri dan Rembo lah yang mengetahuinya. bahkan Arden sama sekali tidak mengetahui asal-usul nya sedikit pun. termasuk rakyatnya.
"Aku tidak bisa membantu mu pangeran ku yang malang, mengingat belahan batu mustika yang asli sudah tertanam didasar lautan Antartik yang dijaga ribuan siluman laut, banyak yang selalu berebut ingin mendapatkan batu yang memiliki kekuatan super dahsyat itu tapi selalu gagal."
"Rembo kamu kenapa melamun.?"
Rembo terlonjak kaget, berusaha bersikap wajar kembali agar Arden tidak membaca pikirannya barusan.
"Aku cuma membayangkan kecantikan Stevani dan membandingkannya dengan gadis-gadis di alam kita." jawab Rembo asal.
"Dan cantikan mana,manusia atau gadis alam kita?" tanya Arden.
__ADS_1
"Cantik-cantik alam kita lah, ada gendoruwo, dedemit....si kuntilini yang suaranya begitu merdu, mengalahkan artis-artis bangsa manusia." balas Rembo kesal, hingga membuat Arden tertawa lepas.