One Night Love Presdir 2 (CEO Is Not A Human)

One Night Love Presdir 2 (CEO Is Not A Human)
Alexander kecilku


__ADS_3

Perlahan Arden membuka mata, hal pertama yang dilihat nya laki-laki tua yang menatap sambil tersenyum. perlahan tangan keriput itu mengusap lengan Arden.


"Alexander kecilku, tidak pernah terbayangkan jika aku akirnya bisa bertemu lagi denganmu nak. meskipun diusia ku yang sudah tua ini akirnya aku bisa menemukannya buah hatiku yang hilang dulu." ucap tuan Husein.


Arden yang baru sadar, terlihat masih kebingungan dengan keadaan disekitarnya yang terasa asing. perlahan dia berusaha untuk bangkit, namun Rembo langsung mencegat pergerakan pangerannya.


"Pangeran kondisi mu masih belum stabil, tenang dan gunakan waktumu dengan banyak istrahat." bujuk Rembo. Arden yang merasa masih lemas kembali berbaring, sambil menatap laki-laki tua, yang balik menatap nya dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Rembo dimanakah kita sekarang? dan siapa bapak tua ini?" tanya Arden.


"Pangeran ku, mungkin sudah saatnya bagi dirimu. untuk mengetahui kebenaran ini." terang Rembo.


"Kebenaran, seperti apa maksudmu?"


Rembo terdiam beberapa saat, dia melirik Tuan Husein yang mengganggukan kepala. seolah-olah memberikan izin pada Rembo untuk menjelaskan semuanya pada anaknya Alexander.

__ADS_1


"Cepatlah katakan Rembo."


"Baiklah pangeran, hal pertama yang ingin aku jelaskan bahwa sesungguhnya engkau bukanlah pangeran kerajaan kami yang sesungguhnya. karena engkau murni manusia biasa." terang Rembo.


"Apa?"


"Ya, karena kamu adalah Alexander ku, yang hilang beberapa tahun silam. karena keserakahan istri mudaku yang membuang mu ke perbatasan bukit Savana, gerbang pembatas alam bangsa jin dan manusia." terang tuan Husein ikut menjelaskan.


"Bagaimana ini bisa terjadi, dan aku bisa hidup di dua alam yang jauh mempunyai perbedaan." Arden masih mencoba menelaah penjelasan Rembo dan laki-laki yang mengaku sebagai ayah kandungnya.


"Percayalah nak, aku adalah ayah mu, dan kamu Alexander kecilku dulu." terang tuan Husein.


Arden ikut terhanyut, melihat kesungguhan dan tatapan tuan Husein yang menyimpan begitu banyak kesedihan dari pancaran matanya teduh. perlahan Arden merentangkan tangannya, yang langsung disambut hangat oleh tuan Husein.


"Anakku, Alexander kecilku." ucap nya merangkul tubuh Arden.

__ADS_1


"Papa." tanpa sadar Arden mengucapkan perkataan yang membuat tuan Husein menitikkan air matanya penuh haru dan rasa bahagia yang teramat sangat.


Beberapa hari dirawat dirumah sakit, kondisi Arden sudah berangsur membaik. bahkan dia sudah mampu untuk bergerak dan berjalan normal layaknya manusia biasa.


Tim dokter, yang menangani Arden pun sudah memperbolehkan laki-laki tampan itu untuk pulang kerumah, yang tentunya pulang kerumah tuan Husein yang tidak ingin kehilangan Arden lagi.


"Mulai sekarang aku ingin memanggilmu dengan sebutan, Alexander. bagaimana apa kamu setuju dengan panggilan itu anak ku?"


"Baiklah papa." jawab Alexander tersenyum hangat.


"Karena kondisi mu sudah stabil, mari sekarang kita pulang kerumah yang sudah lama sekali kamu tinggal kan."


"Rumah kita?"


"Ya, rumah impian almarhum Mamamu dulu. yang dibangun untuk menyambut kelahiran mu. namun sayang, Mama mu tidak bisa menemanimu lebih lama, Karena dia sudah terlebih dahulu berpulang. papa menikah lagi, dengan harapan kamu ada yang mengasuh dan merawat, sehingga kamu tidak kehilangan sosok dan kasih sayang seorang ibu. tapi papa malah memilih orang yang salah. yang membuat penyesalan yang mendalam seumur hidup papa, yaitu kehilangan mu." terang tuan Husein sedih teringat luka lamanya dulu.

__ADS_1


__ADS_2