
"Siapa itu Rembo? atau jangan-jangan makhluk halus yang masih mengikuti mu itu ya....ayo, jangan-jangan kamu suka sama dia." goda Safira yang membuat wajah Stevani langsung bersemu merah.
"Ngak lah, mana mungkin aku suka sama dia...iiiihhh amit-amit." ucap Stevani berusaha untuk tidak mengakui jika sesungguhnya dia mersa kehilangan.
"Wajahnya gimana, menyeramkan apa tidak?" tanya Safira penasaran.
"Ngak, lumayan tampan juga sih. meskipun dia terlihat pucat dibandingkan manusia biasa yang terlihat lebih hidup." ucap Stevani.
"Ya iyalah, kalau masalah itu." balas Safira duduk disebelah Stevani.
"Tapi anehnya, aku hanya mampu melihat Rembo saja, bukan makhluk-makhluk astral lainya, yang berwajah jauh lebih menyeramkan." ucap Stevani.
"Jadi kamu pengen melihat, makhluk yang lainya?"
__ADS_1
"Tidak....tidak mau, kalau boleh sih Rembo doang. kare selain tampan dia juga baik." puji Stevani.
"Kalau aku sih ngak mau berhubungan yang namanya makhluk halus, ngeri. mending berhubungan dengan manusia biasa, yang jauh lebih nyata." ucap Safira.
"Kok gitu amat, memangnya kamu punya pengalaman buruk ya tentang mereka?"
"Kalau aku sih enggak, tapi berdasarkan cerita Oma. mamaku dulunya sangat cantik, saking cantiknya membuat makhluk tak kasat mata jatuh cinta, sehingga mamaku dirukiah dan dibawa kembali pulang ke negara asalnya." terang Safira.
"Masa sih, ngeri amat." ucap Stevani.
"Apa Mama mu sekarang masih diikuti makhluk gaib itu?" Stevani masih penasaran dengan cerita saya sahabatnya.
"Ngak, dari yang aku dengar. memori ingatan makhluk halus itu sudah dihapuskan tentang Mama, jadi jika seandainya dia bertemu dengan Mama ku lagi. dia tidak akan ingat jika itu adalah wanita yang pernah dicintainya." terang Safira panjang lebar.
__ADS_1
Stevani magut-magut mendengar cerita Safira, meski sulit baginya untuk melupakan Rembo yang baik.
"Tapi jika sekedar bersahabat boleh la ya." ucap Stevani yang tidak ingin kehilangan sosok Rembo. Safira hanya mengangkat bahu nya bingung.
"Jalan-jalan yuk."
"Okey, aku beres-beres dulu." balas Stevani.
Minggu yang cerah itu, mereka menghabiskan waktu dengan jalan-jalan dan berbelanja kebutuhan pribadi mereka masing-masing. saat memasuki lift hendak menuju restoran untuk makan, tiba-tiba Safira melihat bapak-bapak yang wajahnya begitu mirip dengan Zerzio, yang membedakan mungkin umur mereka saja.
Safira sesekali melirik kearah bapak tersebut sambil tersenyum menyapanya.
Dia adalah bapak Husein, ayah kandung dari Zerzio. semenjak kehilangan putra satu-satunya tiga puluh lima tahun yang silam. dia memilih hidup sendiri, meskipun dia sudah menghabiskan uang yang banyak untuk mencari putranya itu namun hasilnya selalu gagal dan sia-sia belaka.
__ADS_1
Meskipun, istri mudanya yang membuangnya anaknya itu sudah di ceraikan nya, dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. dan menyerahkan tim SAR dan orang-orang untuk mencari ketempat dia membuang anaknya yang masih berusia tiga tahun itu. namun hasilnya tetap sama. Hingga dia menyerah, dan putus asa dengan pencarian nya tersebut.
"Bruuuaggkk." Safira dan Stevani langsung terlonjak kaget, begitu melihat bapak barusan pingsan. mereka segera berinisiatif untuk menolong dan membawanya kerumah sakit terdekat.