
"Ayo Safira kita berangkat, ntar ketinggalan pesawat lho." ajak Stevani meminta Safira untuk segera berkemas.
"Aku merasa berat meninggalkan Villa ini." ucap Safira berbicara sambil terus larut dalam lamunan nya.
"Bukan meninggalkan Villa, tapi lebih tepatnya kamu berat meninggalkan Zerzio Khan?" ucap Stevani menebak jalan pikiran Safira.
"Ngak lah ya." melempar Stevani dengan bantalan sofa, wajah Safira memerah karena Stevani sudahberhasil menebak jalan pikiran nya saat ini.
"Kamu tenang aja Safira, nanti di kota tempat kuliah kita. pasti banyak cowok-cowok tampan bertebaran, atau seperti Om Zerzio itu juga banyak, yang jelas-jelas umurnya lebih tua dari kita." ledek Stevani.
"Tapi aku lebih suka cowok matang kayak Om Zerzio juga sih." ucap Stevani mengulum senyum.
"Hu...hu...dasar ya kamu." ucap Safira lalu mereka berdua tertawa. sambil mengemasi barang-barang mereka, untuk segera menuju bandara.
Safira ingin sekali Zerzio muncul untuk terakhir kalinya sebelum mereka berpisah, atau sekedar mengantarkannya, tapi yang diharap-harapkan Safira tidak muncul-muncul juga. sehingga dia sepanjang perjalanan menuju Bandara Safira terlihat sedih dan lebih banyak diam.
"Kenapa dengan ku sekarang, aku begitu merindukan Zerzio. meski pertemuan kami baru beberapa kali. tidak...tidak... perasaan ini salah, Karena aku belum banyak mengenal laki-laki itu, sapa tahu saja dia bukan laki-laki baik. tapi perasaan ini mengalir indah begitu saja tanpa aku sadari, Zerzio sudah mulai mengisi hatiku yang kosong." Gumam Safira.
__ADS_1
Diruang kerjanya, Zerzio meremas rambutnya kesal. karena dia mendapatkan panggilan dari permaisuri yang meminta nya untuk segera pulang ke istana. padahal dia sangat ingin bertemu kembali dengan Safira.
"Remboooo..., " teriak Arden.
"Ada apa pangeran?" ucap Rembo yang langsung muncul dihadapan Arden.
"Aku harus pulang ke bukit Savana, Ibu memanggilku katanya ada urusan penting dari ayahanda Raja." ucap Arden bersiap.
"Jadi hari ini kita berdua juga akan pulang," balas Rembo.
"Dua gadis cantik itu juga sudah pergi mereka tengah menuju bandara, sedangkan kita juga akan pergi menuju alam kita." ucap Rembo bersiap.
"Apa? tidak bisa, aku tidak ingin kehilangan jejak wanita ku." ucap Arden, bertepatan dengan kendaraan kerajaan yang sudah sampai untuk menjemput Arden.
"Tapi kita tidak punya waktu lagi pangeran, jemputan kerajaan sudah menunggu kita." ucap Rembo.
"Aku punya ide, aku akan pulang karena kerajaan sedang membutuhkan kehadiran ku. sedangkan kamu... tolong ikuti kedua gadis itu kemanapun mereka pergi." ucap Arden.
__ADS_1
"Kenapa harus aku pangeran.?"
"Karena kamu pengawal ku, dan harus menuruti apa yang aku tugaskan tanpa ada bantahan." ucap Arden.
"Bukan masalah itu pangeran, tapi aku sudah berusaha sebisa ku untuk tidak ikut-ikutan jatuh cinta pada bangsa manusia." ucap Rembo nyengir kuda.
"Jadi kamu juga jatuh cinta pada manusia?" ucap Arden Seolah-olah tidak percaya.
"Iya pangeran, aku sebisa mungkin untuk tidak terlalu larut dalam perasaan ku itu."
Ha...Ha....Ha...kejar dia Rembo, untuk apa kita memikirkan perbedaan, yang penting kita bahagia dengan pilihan kita." ucap Arden menyemangati Rembo.
"Benarkah pangeran?"
"Benar, cepat kejar mereka. sebelum kita kehilangan mereka untuk selamanya." bujuk Arden menyemangati Rembo.
"Baiklah pangeran aku pergi dulu," Ucap Rembo dengan semangat yang membara, dia akan mendekati Stevani dengan caranya sendiri.
__ADS_1