One Night Love Presdir 2 (CEO Is Not A Human)

One Night Love Presdir 2 (CEO Is Not A Human)
Kecemburuan Paula


__ADS_3

Jauh di bukit Savana, Paula baru tersadar dari koma panjangnya. gadis bangsa keturunan astral itu langsung kembali droup, begitu mendengar berita tentang mantan tunangan yang sangat dicintainya Arden, ternyata sudah menikah dengan bangsa manusia.


Pancaran mata Paula merah menyala, taring pangan dan kuku-kuku dijemari nya langsung memanjang, menandakan betapa marah dan terluka nya dia saat ini. meskipun dengan tubuh yang masih terbaring.


"Ratu Paula, Syukurlah kamu sudah sadar kembali."


Tim Tabit yang membantu proses penyembuhan Paula langsung berkumpul, lalu mereka memeriksa kondisi Paula. meskipun mereka tahu jika saat ini Paula tengah sedang marah, melalui ekspresi dan bentuk fisiknya sekarang.


"Arden.... Arden...mana Arden." teriak Paula begitu nyaring.


Semua membisu, tidak ada satupun yang berani menjawab pertanyaan Paula yang tengah marah.


"Arden hanya milikku...milikku selamanya."

__ADS_1


Kedua orang tua Paula, langsung mendatangi Putri mereka yang baru saja tersadar.


"Putriku Paula."


Sang Mama langsung mengelus sayang rambut Paula, yang sudah tidak terurus lagi pasca pingsan dan terbaring cukup lama.


"Mana Arden ku?"


Semua saling pandang, karena mereka yakin jika Paula sendiri sudah tahu Jawabannya. karena terbukti dari pancaran mata nya yang masih merah menyala. menandakan jika dia tengah marah dan terbakar api cemburu saat ini.


"Aku harus menemui Arden."


Paula berusaha untuk kembali bangkit, dan seketika tubuhnya kembali ambruk. ditempat tidur.

__ADS_1


"Paula, dengar ibu nak. kondisi mu belum sepenuhnya stabil. istrahat lah." bujuk ibunya yang kembali membantu Paula berbaring dengan benar.


"Tunggu Arden, setelah kondisi ku sembuh. aku akan mencari dirimu kembali, apapun cara dan resiko nya nanti. karena pantang bagi seorang Paula menyerah pada anak manusia yang lemah seperti mu Arden...Ha..Ha....'" Paula tertawa panjang.


Melihat tawa Paula yang berlebihan, kedua orang tuanya mulai cemas, bahkan sempat menghebohkan seluruh penghuni pusat perkotaan bukit Savana.


Dengan bahasa isyarat, ibu menyuruh tabib untuk mengirim totok tubuh Paula, agar gadis itu bisa menghentikan tawanya, yang berlebihan, sudah membuat banyak gendang telinga orang-orang disekitar mereka rusak dan kesakitan.


Tubuh Paula langsung terdiam, dengan Mata yang masih merah menyala. kini mata itu melotot dengan kemarahan, namun dia hanya bisa terdiam tanpa bisa melakukan perlawanan terhadap orang-orang dihadapannya yang telah membuat hobi nya tertawa keras untuk meluapkan emosinya itu harus terhenti seketika.


"Awas kalian semua, aku berjanji akan mencari Arden sendiri, meskipun tanpa dukungan dari kalian semua." gumam Paula.


Sementara tabib, yang merupakan ajudan setia yang selalu siap membantu dan mendukung apapun keinginan Paula, mengulum senyum kearah Paula, seakan-akan sudah menemukan ide yang menarik yang akan membantu tuan putri nya.

__ADS_1


"Tenanglah Putri, aku akan ada untuk dirimu, aku berjanji akan selalu mendukung mu. asalkan engkau bahagia, aku juga bahagia Putri." Gumam tabib.


Paula yang bisa membaca isi pikiran tabib setianya, mulai lega dan kembali untuk bersikap tenang. karena dia yakin mereka berdua akan menjadi lebih kuat, untuk melawan Arden sekarang.


__ADS_2