One Night Love Presdir 2 (CEO Is Not A Human)

One Night Love Presdir 2 (CEO Is Not A Human)
Rencana Kepulangan Zein


__ADS_3

"Benarkah, papa ngak boongkan?" ucap Safira begitu antusias dan sangat bahagia mendengar berita jika papanya akan datang keindonesia bersama sang Mama Jeniffer.


"Memangnya kami pernah membohongi mu nak?" tanya Zein menggoda sang putri yang sudah lama dirindukan nya, semenjak Safira memutuskan untuk tinggal dan pindah pulang ke Indonesia.


"Bukan begitu pa, cuma Safira ingin memastikan saja. jika pendengaran Safira ini tidak salah." ucap gadis itu berbinar-binar bahagia mendengar penuturan papanya.


"Selain karena merindukan mu, papa juga ingin bertemu dengan kolega bisnis sekaligus teman lama papa. namanya Om Husein," ujar Zein.


"Om Husein? apa dia orang yang sama dengan Opa yang pernah aku temui dulu?" Gumam Safira penasaran.


"Hallo nak, kok diam?"


"Ngak pa, cuma Safira sempat mikir. apa dia orang yang sama dengan Opa Husein yang pernah ketemu sama Safira dulu." ujar nya.


"Papa juga sudah menyediakan Rumah yang nyaman untuk kita tempati nantinya." ujar Zein.


"Jadi nantinya, kita tidak tinggal diapartemen?"


"Tidak nak."

__ADS_1


Setelah ngobrol-ngobrol panjang dengan kedua orang tuanya, Safira menutup telpon dengan perasaan senang. senyum bahagia terpancar dari bibir mungilnya.


Malam itu, Safira menceritakan tentang rencana kedua orang tuanya yang akan kembali ketanah Air, termasuk tentang kepindahan Safira kerumah yang baru.


"Jadi nanti kamu tidak tinggal diapartemen ini lagi?" tanya Ratu dan Stevani berbarengan.


"Iya, tapi Ratu dan Stevani tidak perlu khawatir. kita akan terus bareng termasuk tinggal dirumah baru ku nanti." ucap Safira antusias.


"Safira, aku boleh minta sesuatu ngak?"


"Maksud Ratu, dan minta apa?"


"Apa kamu mengizinkan, aku untuk tetap tinggal di apartemen ini?" ucap Ratu Diana.


"Bukan begitu, tapi Ratu tidak ingin banyak orang yang mengetahui jati diri Ratu yang sesungguhnya. dan aku juga sudah mulai nyaman untuk tinggal di apartemen mu ini." ucap Ratu Diana.


"Begitu juga aku, Safira." Stevani ikut menimpali.


"Jadi, kamu juga memilih tinggal berdua. dengan Ratu di apartemen ini?" tanya Safira.

__ADS_1


" Iya Safira."


Safira hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, pasrah mendengar keputusan dari sahabatnya, Ratu duyung dan Stevani.


***


Keesokan harinya,


"Emang tempat nya masih jauh ya, kenapa harus jalan kaki segala sih Tante duyung?" rengek Stevani dan Safira yang kembali menemani ratu Diana yang ingin pergi ke tepian karang.


"Aku merindukan dan berharap suamiku memanggilku dengan kalung permata duyung yang pernah aku berikan padanya." ucap Ratu Diana sedih, sementara dia juga tidak bisa kembali kedasar lautan. karena kesalahan nya yang melanggar hukum dan peraturan perduyungan. karena telah membantu Rembo untuk mendapatkan batu pecahan mustika, yang mestinya semua penghuni laut, harus ikut melindungi hal itu.


"Sabarlah Putri, aku yakin cepat atau lambat. suami mu pasti akan menemukan keberadaanmu didaratan." bujuk Stevani ikut prihatin melihat Ratu yang sering menangis karena merindukan suaminya.


"Aku takut dia telah melupakan aku hu...hu..." Ratu Diana mengusap air mata sedih.


"Bersabar lah putri." Safira memeluk Ratu Diana.


Kedua gadis baik hati itu, duduk disebelah Ratu Diana yang menatap sedih lautan lepas. mereka seakan-akan ikut terhanyut oleh perasaan ratu duyung yang sudah menjadi sahabat mereka dan saling berbagi satu sama lain. cukup lama mereka menghabiskan waktu duduk ditepi pantai, hingga sore menjelang.

__ADS_1


"Putri sudah sangat sore, bagaimama jika kita kembali pulang ke apartemen." bujuk Safira.


"Baiklah, terimakasih atas kebaikan kalian berdua." mengusap air mata, dan tersenyum kearah Safira dan Stevani.


__ADS_2