
Langkah Arden seiring dengan langkah kaki Safira, berjalan turun menapaki satu persatu anak tangga Mentions yang cukup mewah, menurut ukuran Mentions milik manusia dialam nyata.
Zein langsung menatap tajam kearah tangga, Putri kesayangannya nampak berjalan sambil menunduk kan kepala ketakutan bercampur malu untuk sekedar membalas tatapan sang papa, yang saat ini telah terlanjur kecewa terhadap sikap Safira.
"Papa, maafkan Safira."
Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Safira, setelah itu dia mundur berdiri tepat dibelakang Arden.
"Safira, cepat berdiri dibelakang papa." terdengar suara lantang Zein, dengan wajah geram melirik kearah Arden, laki-laki yang tidak jelas, yang sudah berani jatuh cinta terhadap anak dan istri nya, menurut pemikiran Zein yang masih terbawa emosi.
Safira mulai ragu dan was-was, perasaan takut akan dipisahkan dari Arden, namun dia tidak berani juga menantang perintah papa, gadis itu melangkah berdiri dibelakang papanya, melepaskan perlahan pegangan tangan Arden.
Melihat wajah kesal dan marah Zein, ustadz Usman bingung sekaligus heran, mengingat sebelumnya Zein sudah memberikan restu, namun sekarang dia terlihat mulai berubah. sehingga ustad Usman mengambil tindakan dengan mengajak Zein berbicara empat mata terlebih dahulu.
__ADS_1
"Zein, apa masih ada yang mengganjal di hatimu?" tanya ustadz Usman.
"Perasaan kesal, dan tidak rela menyerahkan Putri ku. setelah melihat sendiri wajah laki-laki yang akan menikahi Safira, membuatku berfikir ingin membatalkan saja pernikahan mereka yang sudah kita tetap kan." terang Zein.
Pak ustad Usman tersenyum, dia paham apa yang dirasakan Zein saat ini.
"Zein cobalah untuk ikhlas, biarkan Putri mu bahagia dengan pilihan hatinya, aku juga yakin Arden tidak akan jatuh cinta lagi pada istri mu Jeniffer, karena ingatan serta perasaan nya yang dulu pernah ada, sudah benar-benar dihapuskan. sekarang dia murni Manusia seperti kita." ucap pak ustadz Usman bijak.
"Bagaimana Zein?" ulang pak ustadz Usman.
"Baiklah, tapi aku ingin pernikahan mereka dilakukan dialam manusia seperti kita." ucap Zein pasrah.
Mereka kembali berkumpul dan berembuk, mencari jalan dan solusi terbaiknya. Raja dan permaisuri Hayati setuju pernikahan Arden dan Safira dilakukan di alam manusia.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terimakasih ya pa karena sudah merestui hubungan kami, Safira juga minta maaf karena sudah membuat papa dan Mama kecewa dengan sikap Safira ini. Safira sangat menyesal karena tidak menyelidiki terlebih dahulu calon suami Safira, Safira tidak akan kabur. jika seandainya Safira tahu jika calon suami Safira anak Opa Husein itu ternyata Zerzio." ucap Safira.
"Ya sayang, papa juga minta maaf karena tidak mempertemukan kalian berdua terlipebih dahulu." terang Zein.
"Om, eeh pa. maaf kan aku karena telah membawa pergi Safira." ucap Arden.
"Om, pa. kamu tidak sadar ya, setua apa dirimu. aku rasa kamu jauh lebih tua dibandingkan aku yang akan menjadi calon mertuamu." balas Zein, ketika Arden ikut meminta maaf padanya.
Sontak membuat semua yang semula tegang, langsung tertawa lepas melihat mimik wajah Arden dan Zein.
"Iya ya, menantu sama mertua seperti nya seumuran ya." goda ustad Usman membuat Zein berusa untuk menahan kekesalan nya.
"Sudahlah pa, yang penting kami saling mencintai. dan papa juga sudah memberikan kami restu, sudah cukup untuk Safira." ucap Putri kecilnya dulu, yang sudah membulat kan tekadnya untuk menerima Arden sebagai suaminya.
__ADS_1