
Rembo mulai menikmati peran sebagai pengganti Arden, bahkan timbul niatnya untuk menjadi manusia sejati seperti pangeran nya itu, jalan-jalan dengan mobil mewah atau sekedar memasuki Club malam berkelas, meskipun sekedar cuci mata dan menikmati pergantian peran mereka yang sesaat.
Hari ini Rembo sengaja melewati pusat perbelanjaan, entah apa yang menggiring langkah nya, tiba-tiba saja dia ingin melewati tempat itu. yang juga bertepatan dengan Stevani dan ratu Diana, dua wanita cantik ini melangkah keluar, dengan menenteng barang-barang belanjaan nya. namun tiba-tiba dua orang berbadan tegap mengadang langkah Stevani dan ratu Diana.
“Jangan berteriak Nona, jika tidak terpaksa kami menyakiti, dan merusak tubuh cantik mu dengan pisau ini.” Ucap laki-laki yang berbadan besar dan tegap.
Stevani ketakutan dan kebingungan, dia dan Ratu Diana saling rangkul. meskipun tempat nya lumayan ramai, namun orang-orang sibuk dengan diri mereka masing-masing. Penodong ini juga cukup profesional dia seolah-olah tidak sedang menodong. Orang-orang yang melihat pasti mengira hanya ngobrol biasa.
“Tolong jangan sakiti aku,” Stevani mencoba membuka tasnya dan memberikan sejumlah uang pada mereka.
Rembo yang melihat gelagat aneh itu, segera menghadang mereka. ditambah lagi dia melihat sang pujaan hatinya Stevani. Perkelahian pun terjadi. Rembo mampu dengan mudah melumpuhkan kedua penodong itu. namun naas saat dia hendak menyerah kan kembali tas Stevani, dari arah belakang penodong berhasil meraih pistol nya kembali dan mengarahkan pada Stevani.
Semua berteriak histeris, termasuk Stevani menutup matanya dengan kedua tangannya, membayangkan kehidupan nya di dunia akan segera berakhir.
“Dooooorrrrttt,”
__ADS_1
Semua berkerumun, Stevani masih berteriak dia benar-benar tidak berani membuka matanya. menggigil ketakutan.
begitu juga dengan Ratu duyung.
"Cantik, kamu ngak papa Khan?"
Perlahan Stevani membuka matanya,
"Zerzio."
Stevani membulat kan mata nya, melihat laki-laki yang sama sekali tidak kesakitan, padahal sebelumnya. Stevani dengan jelas melihat jika pria yang dikira nya Zerzio itu sempat tertembak peluru, karena menolong dirinya dari para perampok yang menghadang nya. Stevani memegangi sebelah lengan Zerzio, yang dipikirnya banyak mengeluarkan darah. namun dia tidak melihat bekas apa pun disana. sementara kedua penjahat itu sudah berhasil diamankan oleh pihak yang berwajib.
"Stevani, Ayo berdiri dek." Ratu duyung membantu Stevani berdiri kembali.
"Om Zerzio, terimakasih banyak karena sudah membantu kami berdua." ucap Stevani, pada laki-laki yang dipikirnya telah berkorban nyawa untuk dirinya.
__ADS_1
padahal kondisi Rembo baik-baik saja.
" Ya cantik, ngak nyangka kita bertemu kembali, padahal aku sudah berusaha keras mencari- cari dirimu selama ini." terang Rembo.
"Mencari diriku?" Stevani bingung, berbagai pertanyaan berkecamuk, bukankah selama ini Zerzio dekat dengan Safira, dan untuk apa laki-laki tampan itu mencari nya.
"Maaf, untuk apa Om mencari-cari diriku?"
"Aku...aku... hanya ingin dekat dengan mu." Rembo bingung harus menjelaskan bagaimana, mengingat tubuhnya seperti Zerzio sekarang, sehingga tidak mungkin Stevani mengenalinya.
"Ooo begitu, Oya Om. perkenalkan ini temanku. namanya tante Diana." terang Stevani.
Rembo dan ratu Diana saling bersalaman, memperkenalkan diri mereka. namun saat tangan mereka bersentuhan, Rembo merasakan getar yang aneh, yang membuat nya merasa hangat, nyaman. begitu juga dengan apa yang dirasakan oleh Ratu Diana.
"Kenapa dengan ku, aku mersa detak jantung ku berdebar-debar. bahkan tatapan mata laki-laki ini mengingat kankunpada suamiku Rembo. suamiku....kamu dimana? aku merindukan mu sayang.." Gumam ratu Diana sedih.
__ADS_1