
"Mama....papa...." Safira menghambur memeluk kedua orang tua nya, meluapkan kerinduan.
"Aduh kesayangan Mama, tambah cantik ya sekarang?" mencubit kedua pipi Safira.
"Tentu dong ma, anak siapa dulu." celetuknya manja.
Mereka tertawa bahagia, Zein ikut senang menatap Putri nya yang sangat cantik dan mandiri.
"Stevani mana, kok ngak ikut?"
"Tugas kuliah nya lagi numpuk ma, sehingga dia tidak ikut." ujar Safira, yang berencana tidak ingin membahas keberadaan Ratu duyung yang tinggal diapartemen mereka.
"Sekarang kita langsung kerumah baru kita ya." ujar papa langsung membelokkan mobilnya dengan arah yang berlawanan dengan apartemen.
"Siap pa, Fira juga udah ngak sabaran lagi untuk segera sampai disana."
Safira menarik nafas lega, paling tidak untuk sementara posisi Ratu Diana aman.
Mobil yang dikendarai Zein, berhenti di sebuah perkarangan Rumah yang terlihat asri dan nyaman, Safira dan mamanya saling rangkul menatap kemewahan Rumah baru mereka.
__ADS_1
"Bagaimana apa kalian menyukai rumah baru kita, ini Om Arya yang pilihan untuk kita." ucap Zein mersa bangga dan bersyukur.
"Suka, suka banget pa." Jawab Safira dan Jeniffer antusias.
Mereka berkeliling memutari Rumah, hingga sampai ke teras belakang tempat yang langsung menghadap kolam renang dan taman beraneka ragam Bunga.
"Benar-benar tempat yang sang nyaman." Safira merentangkan kedua tangannya.
"Sayang ini kamar mu, dan sebelahnya untuk Stevani." ujar Jeniffer.
"Ma, semalam Safira sudah memberi tahukan Stevani. dan dia memutuskan untuk tetap tinggal diapartemen, katanya lebih nyaman aja disana." ucap Safira.
"Ooo..gitu, ngak papa sih, tapi jika dia pengen tinggal bareng kita disini juga boleh." terang Jeniffer.
"Selamat datang Zein, di Villa ku yang nyaman ini ha..ha...." ucap tuan Husein menyambut hangat, kedatangan kolega bisnis sekaligus orang yang sudah dianggap saudara baginya itu.
"Tuan Husein, ternyata Anda masih tetap bugar dan sehat. tidak ada yang berubah meskipun kita sudah lama tidak bertemu." balas Zein menyalami koleganya nya tersebut, mereka sengaja mengadakan pertemuan di Villa.
"Kamu bisa saja Zein."
__ADS_1
"Perkenalkan ini istriku Jeniffer dan Putriku Safira." ujar Zein.
Jeniffer ikut mengalami tuan Husein, sedangkan Safira dan tuan Husein sama-sama kaget. kemudian tersenyum.
"Jadi gadis cantik dan baik hati ini adalah putri mu?"
"Betul sekali Tuan, apa kalian sudah saling mengenal terlebih dahulu?"
"Sudah, dia yang pernah menolong ku. ya kan Safira." ucap tuan Husein menatap Safira yang mengganggukan kepala nya.
"Betul sekali Opa."
"Wah kebetulan banget ya?" tutup Jeniffer.
"Kalian beruntung memiliki Putri seperti Safira, selain cantik ternyata dia juga wanita yang tulus dan sangat baik hati." puji Tuan Husein.
"Terimakasih, Tuan. atas pujiannya ini. meskipun sesungguhnya kami juga merasa sangat bersyukur memiliki anak seperti Safira." ucap Zein merangkul sang putri mengikuti langkah tuan Husein menuju ruang keluarga, obrolan hangat pun berlangsung. satu sama lain terlibat obrolan seru mengingat mereka sudah lama tidak bertemu.
"Sebenarnya, tujuan utama ku mengundang kalian untuk datang kesini sekalian silaturahmi, aku juga ingin memperkenalkan putra ku yang sudah hilang. dan aku sangat bersyukur karena di usia tuaku ini, aku menemukan nya kembali." terang tuan Husein mengusap air mata haru.
__ADS_1
"Alhamdulillah, aku ikut senang mendengar kabar ini." ucap Zein yang dulunya ikut prihatin saat mendengar kesedihan tuan Husein yang masih mencari-cari putranya yang hilang.
"Aku juga sangat berharap, untuk memperkenalkan Alexander pada kalian. tapi karena sedang terjadi permasalahan disalah satu cabang perusahaan, sehingga Alexander tidak bisa datang ke sini." ucap nya.