
"Rembo, katanya kamu mengetahui letak apartemen mereka. tapi sudah sau jam kita mutar-mutar ngak jelas, tapi belum juga menemukan letak posisi apartemen wanita ku." ucap Arden mulai resah.
"Iya juga, padahal seingat ku dekat-dekat sini sih." ujar Rembo yang berusaha untuk mengingat-ingat, namun dia begitu kesulitan. meskipun bayangan tempat itu kembali melintas tapi dia selalu salah menunjukkan posisi tepatnya pada Arden.
"Rembo, kenapa ingatanmu sekarang bermasalah. apa perlu kamu, saya bawa kembali kerumah sakit di alam bukit Savana, agar kamu mendapatkan pengobatan terbaik disana." ucap Arden khawatir melihat pengawal nya yang tiba-tiba pelupa. karena Arden tidak mengetahui penyebab Rembo yang seperti ini.
"Ucapan pangeran ada benarnya juga, tapi untuk sementara waktu. kita cari waktu yang tepat dulu untuk kembali ke istana." terang Rembo.
"Iya, aku setuju."
Ponsel Arden berdering, dia langsung mengangkat panggilan dari asisten papanya tersebut.
"Hallo tuan muda, Anda sekarang dimana?" terdengar langsung suara Asisten papanya yang menggebu, sehingga Arden menjauh kan ponsel dari telinga nya.
__ADS_1
"Aku sedang berada di suatu tempat, ada apa?" balas Arden.
"Tuan Husein, meminta tuan muda Alexander untuk segera pulang. dia sedang menunggu kedatangan tuan muda diruangan keluarga. ada yang penting ingin dia sampaikan." terang asisten setia tuan Husein.
"Baik lah."
Arden dan Rembo, akirnya membatalkan niat mereka untuk mencari Safira. dan kembali pulang. langkah kaki Arden terayun cepat menuju ruangan keluarga, nampak sang papa tengah duduk bersantai di atas kursi goyang sambil menghadap taman. yang juga terdapat kolam renang yang berukuran luas dihadapannya.
"Met sore pa." sapa Arden ramah, sambil ikut duduk disebelah papanya.
Tuan Husein menatap anaknya, dengan wajah yang sulit diartikan. sesekali dia batuk-batuk. melihat hal itu Arden segera mengusap pelan punggung papanya yang sudah tidak lagi muda itu.
"Alexander, mulai sekarang. nasip puluhan ribu karyawan perusahaan ada ditangan mu nak." lanjut tuan Husein.
__ADS_1
"Maksud papa."
"Ya Alex, mulai sekarang semua aset yang papa miliki, Rumah, Villa, perkebunan dan beberapa perusahaan. sekarang papa serahkan sepenuhnya ketanganmu nak, jadilah pemimpin yang amanah nantinya. karena papa merasa tidak sanggup lagi untuk mengurus semua ini lagi, dan papa begitu bersyukur bisa dipertemukan kembali dengan mu disaat seperti ini." kembali terbatuk-batuk.
"Tentu pa, Alex akan menjalan kan amanat dari papa ini." meskipun Arden hanya ingin mencari Safira, tapi dia tidak tega menolak keinginan papanya, yang menaruh harapan besar terhadap Alexander nya.
"Terimakasih nak." merangkul Alexander dengan penuh haru.
"Kamu tidak perlu risau, asisten papa Hamid akan membantu mu. dia sudah hafal dan berpengalaman tentang perkembangan dan mengurus perusahaan kita."
"Iya pa, Alex paham." mengangguk mantap.
Setelah menyerahkan semuanya, Tuan Husein menarik nafas nya lega. dia sangat bahagia sekali. sesuatu yang selama ini masih sangat mengganjal di hati dan pikiran nya sekarang sudah terselesaikan. sekarang dia sudah bisa bersantai dirumahnya dengan tenang.
__ADS_1
"Alexander anakku, masih ada satu lagi keinginan terbesarku, yaitu melihat mu menikah dan memberikan ku seorang cucu, tapi aku tidak minta sekarang. aku takut kamu tersinggung jika dihari yang bersamaan aku mengajukan begitu banyak permintaan padamu. aku akan menunggu sampai kami sudah merasa nyaman mengurus dan menjalankan perusahaan. baru aku mengajukan kembali permintaan ku yang kedua." Tuan Husein tersenyum, dia membayangkan jika rumahnya yang luas ini, akan ada nantinya suara tangis dan canda tawa anak-anak yang berlarian.