
Rembo tertunduk lesu, dia berhasil melumpuhkan beberapa preman yang telah mengganggu Stevani barusan, tapi secara tidak langsung dia juga telah membuat wanita kesayangan nya itu ikut terluka. karena ketidaksengajaan Rembo yang hilang kendali. tubuh mungil itu ambruk seketika ditepi pasir ditengah-tengah kegelapan malam.
"Sakiiit, aku ngak kuat lagiii." ucap Stevani sebelum kesadaran nya hilang.
"Stevani bangun, maafkan aku yang tidak sengaja dan sudah membuat mu terluka hu...hu...." tangis Rembo pecah sambil mengangkat tubuh Stevani yang sudah tidak sadarkan diri kerumah sakit pusat terdekat.
Rembo yang semula ingin memberi pelajaran pada preman jalanan itu, tidak menyangka jika Stevani ikut terluka. sebilah pisau yang dilayangkan Rembo, meskipun Rembo berniat untuk menakut-nakuti para pereman jalanan itu, tapi tanpa dia sadari, kekuatan yang dimiliki Rembo tiba-tiba hilang kendali, seperti ada kekuatan lain yang mengarah kan pisau tersebut ketubuh Stevani.
Stevani seketika terluka, sementara para preman jalanan itu langsung pergi melarikan diri, meninggalkan Rembo yang panik dan cemas. berusaha untuk membangun wanita yang kehilangan cukup banyak darah nya.
Semua berkumpul dirumah sakit, khawatir dengan kondisi Stevani yang tak kunjung datang, bahkan keluarga Stevani sudah datang dari Meksiko. kedua orang tua gadis cantik itu hanya bisa menangis, menatap Putri mereka yang terbujur koma. meskipun aneh dan tidak bisa diterima logika, mengingat Stevani terluka di bagian tangan. namun membuat kesadaran gadis itu hilang cukup lama.
"Stevani bangun sayang, Mama dan papa sekarang sudah berada disamping mu sayang." memeluk tubuh yang tertidur indah, bahkan dokter juga bingung melihat keganjalan dari Stevani, mengingat kondisi tubuhnya yang juga sudah stabil kembali.
__ADS_1
Rembo yang terluka melihat Stevani, mengayunkan langkah menuju taman Rumah sakit. dia berjalan menuju kursi taman. duduk dengan memeluk lutut dengan pikiran yang kalut.
"Hey, kamu kenapa melamun? hey makhluk astral?"
Rembo langsung mengangkat kepala melirik arah datangnya asal suara yang bagitu dikenalnya selama ini.
"Stevani?"
Stevani duduk disisi sebelah kiri Rembo, dengan tatapan sedih. kemudian perlahan-lahan gadis itu sesunggulkkan dengan bahunya berguncang.
"Stevani. kamu kenapa ada disini, dan apa kamu sudah sembuh." Rembo berusaha menatap dan menyentuh tubuhnya, yang terasa berbeda antara manusia sesungguhnya dengan roh yang sudah terpisah dari raganya.
"Tidak.... tidak mungkin, Stevani kamu tidak mungkin meninggal.?" Rembo seketika panik dan rasa takut sesuatu yang buruk terjadi.
__ADS_1
"Aku tidak tahu Rembo, yang jelas roh ku terjebak disini, dan tidak bisa untuk kembali masuk kedalam raga ku sendiri." terang Stevani.
"Ya Tuhan, kenapa ini harus terjadi. ini kesalahan ku....maafkan aku Stevani hu....hu... maafkan aku.." Rembo sangat terpukul dengan rasa penyesalan yang mendalam.
Dari kejauhan nampak semua terlihat bersedih, Rembo bangkit dan berjalan menuju ruangan perawatan Stevani. dia mendengar percakapan orang-orang disana yang sangat sedih, pasca menurun nya kondisi Stevani.
"Stevani sayang, bertahanlah nak hu...hu...Mama tidak ingin kehilangan mu nak." ucap Mama Stevani, yang tidak pernah berhenti menangis.
Rembo bingung, saat dia ingin berbalik lagi ke taman. Stevani sudah berada disampingnya, dimana semua orang, tidak melihat roh Stevani ikut berdiri diantara mereka, selain Rembo dan Arden yang ikut syok.
Arden segera mengajak Rembo menjauh dari ruangan itu, mencari tempat yang aman untuk berbicara.
"Rembo, cepat katakan, apa yang terjadi?" ucap Arden.
__ADS_1