
Namun, raksasa besar itu bukanlah tandingan yang sepadan dengan mereka berdua. tubuh Rembo dan ratu Diana beberapa kali terpental. akibat tendangan itu Rembo maupun putri muntah darah yang berwarna kehitam-hitaman.
Pertarungan tetus berlanjut, melihat istrinya yang terluka parah Rembo pun terus berteriak agar ratu Diana pergi untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
"Ayo cepat pergi istri ku, ini terlalu bahaya untuk mu."
"Suamiku, aku akan pergi ke daratan. peganglah kalung ku ini untuk membantu mu melawa raksasa itu, suatu saat kalung ini juga akan menjadi penghubung untuk kita bisa bertemu kembali." teriak Ratu memberikan kalung pada Rembo.
"Daratan?"
Rembo mengerutkan keningnya bingung, sambil terus waspada terhadap serangan raksasa dihadapannya itu.
"Banyak rahasia yang tidak kamu ketahui tentang diriku, suatu saat kita akan bertemu kembali, jangan pernah kamu lepaskan kalung itu. karena hanya itu yang bisa menghubungkan kembali." ucap Ratu Diana.
"Istriku.... istriku, lepaskan istri ku raksasa bresengsek," teriak Rembo ketika raksa itu menarik ekor duyung cantik itu dan mengibaskan lalu melemparkannya ke udara. ratu Diana yang terluka parah terpental jauh ke daratan.
Rembo berhasil mendapatkan kalung istrinya, dan menusuk kan ketubuh raksasa, diluar dugaan Rembo. benteng yang semula tidak terlihat perlahan terbuka seiring penampakan pecahan batu mustika. tubuh raksasa' besar itu pun ambruk.
"Batu mustika."
__ADS_1
Rembo menatap takjub Kilauan batu mustika tersebut, dan langsung mengambilnya karena sang pangeran nya tidak mempunyai banyak waktu lagi untuk bertahan.
Sementara ratu Diana yang terluka, terpental ditepian bebatuan karang yang membuat tubuhnya terasa dicabik-cabik oleh rasa sakit yang teramat sangat. doa terus merintih.
Hal itu mengagetkan beberapa mahasiswa yang tengah melakukan penelitian di tepi hamparan luas tepi pantai itu. namun mereka kembali melanjutkan aktivitas mereka yang sempat terhenti, karena tidak melihat apapun.
Tapi tidak dengan Stevani, dia terbelalak kaget melihat wanita cantik yang sedang terluka parah, melambaikan tangannya seolah-olah meminta pertolongan gadis yang tengah melakukan penelitian tersebut.
"Ada apa Stevani?" Safira mendekati sahabatnya yang berjalan ke tepi karang yang sedikit curam.
"Stevani, tempat itu berbahaya. ingat kamu bisa jatuh." teriak Safira memperingatkan sahabatnya yang nekat.
"Astaghfirullah, Stevani ini beneran Putri duyung sungguhan Khan?" Safira ikut mendekat kearah tepian karang tersebut, tempat Putri Diana mengerang kesakitan.
"Syukurlah, kalian berdua bisa melihat ku." ucap Diana.
"Kamu beneran duyung sungguhan?" Stevani dan Safira memperhatikan sirip-sirip yang terlihat seperti ekor ikan itu benar-benar nyata.
"Iya, aku Diana ratu kerajaan duyung dibawah dasar lautan lepas ini, aku dan suamiku diserang. sekarang kekuatan ku juga sudah berkurang dan tidak bisa kembali lagi kelautan dengan keadaan ku yang seperti ini." terang Diana yang berharap sekali kedua gadis itu i mau menolongnya.
__ADS_1
"Apa yang bisa kami lakukan untuk mu?" ucap Safira menata kasihan terhadap duyung cantik itu.
"Bantu keringkan tubuh ku ini, maka aku akan bisa berubah wujud seperti kalian." terang Diana sambil menahan rasa perih ditubuhnya.
"Baiklah."
Stevani dan Safira membuka jaket mereka, dan mengelap perlahan ekor ikan Putri Diana, yang seketika bisa berubah bentuk menjadi kaki putih bersih namun terlihat sangat pucat.
"Kalian berdua begitu baik, siapa nama kalian?" tanya Diana.
"Aku Safira, dan ini sahabat ku Stevani." terang Safira memperkenalkan duri mereka masing-masing.
"Mari Tante, kami bantu untuk mengobati luka-luka Tante yang masih mengalir darah." ucap Safira.
"Maukah kalian membatu ku dan merahasiakan siapa aku yang sesungguhnya." Diana ingin hidup didaratan untuk sementara waktu.
"Baiklah, kami bersedia Tante duyung, eh maaf Tante Dina." ulang Safira kembali.
Dengan hati-hati mereka membawa tubuh ratu Diana kedalam mobil, dan langsung meluncur meninggalkan lokasi tempat mereka melaksanakan tugas kuliah mereka.
__ADS_1