
Suasana Pagi negara Meksiko yang cerah.
"Safira, udah.... stooop, cukup jangan jangan jahilin Mama terus nak." teriak Jeniffer, sambil berkacak pinggang berusaha menahan rasa geli, melihat tingkah sang putri semata wayangnya.
"Ah mama, dikit-dikit geli." jawab Safira, yang sangat suka menjahili sang Mama.
"Kamu kapan berubah nya sih sayang?"
Jeniffer menoel hidung mancung anaknya, yang hampir keseluruhan raut wajah mereka sangat mirip. hanya rambut hitam Safira lah yang membedakan mereka berdua, yang merupakan turunan dari sang ayah Zein.
"Aku akan berubah dan bisa mandiri, jika tinggal sendirian. makanya Mama dan papa, please!! izinkan Jeniffer untuk pulang dan kuliah di indoneia."
Safira berusaha membujuk Mama Jeni, yang tengah membawa segelas kopi hitam untuk suaminya Zein. yang tengah bersantai di taman samping Rumah mereka yang adem dan sangat asri.
__ADS_1
"Safira, kamu ini anak kami satu-satunya. tidak mudah bagi kami berpisah jauh dari mu sayang."
Zein memegangi kedua pipi imut Safira, anak uang sangat mereka sayangi dan begitu dimanja. namun semua itu tidak membuat Safira mudah cengeng dan manja. dia justru sangat ingin mandiri dan bisa mengurus dirinya sendiri, dia merasa kehidupannya yang mewah dan dimanja, membuat nya terbelenggu dan tidak tertantang menghadapi kehidupan di luaran sana.
"Safira janji bakal jaga dirimu dengan sangat baik, lagi pula Safira hanya ingin berkunjung kerumah nenek dikampung halaman ayah, dan tinggal sementara di Villa milik kita." terang Safira.
"Justru itu papa melarang nya, tidak aman kamu tinggal di Villa sendiri nak." terang Zein.
"Aku akan ajak temanku Stevani, dia sudah mendapatkan izin dari orang tuanya." balas Safira ngotot.
"Tidak pernah kosong ma, bahkan Villa itu sering disewakan pada para pengunjung yang ingin menikmati objek wisata disekitar nya." terang Safira.
"Siapa yang mengatakan padamu.?"
__ADS_1
"Bang Ujang penjaga villa, termasuk Oma dan opa yang sering mendapatkan transferan pembayaran sewa villa dari para pengunjung." terang Safira.
Jeniffer terdiam, begitu juga dengan Zein. mereka membenarkan perkataan Safira. Villa itu sekarang sudah direnovasi dan sering disewakan, dari pada dibiarkan kosong.
"Please ya ma, pa." Safira mengatup kedua belah tangannya, sambil mengedipkan mata seimut dan secantik mungkin agar kedua orang tuanya luluh.
"Baiklah, tapi beri Mama dan papa waktu untuk berunding dulu." balas Jeniffer.
"Siip ma." balas Safira dengan mata berbinar-binar, bercampur perasaan harap-harap cemas.
"Bagaimana ini Uda? ini permintaan Safira yang sudah kesekian kalinya." terang Jeniffer pasrah dan tidak tega menolak terus-menerus permintaan Putri kecilnya yang sudah remaja.
"Aku hanya tidak ingin anak kita Safira, mendapatkan gangguan dari makhluk astral tak kasat mata. seperti dirimu dulu sayang." terang Zein memijit pelipisnya.
__ADS_1
"Jeni rasa makhluk itu tidak akan pernah muncul lagi Uda, bahkan ustad Usman bilang dia sudah kembali lagi ke pulau bukit Savana, dan sudah melupakan Jeniffer." terang Jeniffer yakin.
Zein magut- magut memikirkan perkataan Jeniffer, semenjak mereka pindah ke Meksiko dan sudah bertahun-tahun berlalu, Jeniffer tidak pernah mengalami gangguan lagi, bahkan Villa yang dulunya mereka anggap seram, sekarang sudah menjadi tempat objek wisata disekitar nya dan sering disewakan untuk orang-orang yang ingin berlibur di daerah tersebut.