
Kedatangan Safira dan sahabatnya Stevani, disambut hangat oleh sang nenek dan keluarga papanya Zein. mereka memuji kecantikan Safira dan Stevani yang sangat cantik. namun ramah dan baik hati.
Safira membagi-bagikan banyak oleh-oleh untuk saudara-saudara nya, menghabiskan waktu dua hari dirumah nenek. setelah itu mereka memutuskan untuk berlibur di Villa milik nya bersama Stevani.
"Eh Safira, lihatlah alat transportasi itu, sangat lucu dan unik." teriak Stevani antusias dan sangat takjub.
"Apa kalian berdua pengen menaiki delman itu?" tanya bang Ujang yang akan mengantarkan mereka berdua menuju Villa.
"Jadi namanya delman?" ulang Stevani.
"Iya, mereka mengantarkan para turis menuju objek wisata disekitar Villa." terang bang Ujang.
"Kita coba menaikinya yuk." ajak Stevani.
"Okey, aku setuju." balas Safira.
__ADS_1
Bang Ujang memangil salah satu delman, yang sudah didekor sedemikian unik dengan warna-warna mencolok sehingga menarik perhatian orang-orang.
"Bang tolong antarkan ke Villa di puncak ya." ucap bang Ujang seraya memberikan beberapa lembar uang kertas sepuluh ribuan.
"Jadi Uda, terimakasih pitihnyo."
Setelah memastikan Safira dan sahabatnya naik dan duduk dengan benar, delman mulai berjalan dengan pelan menuju puncak.
Tuk...tuk...tuk... tuk, terdengar suara sepatu kuda diiringi dengan suaranya yang nyaring, dari kejauhan sudah terdengar oleh Arden dan Rembo yang tengah berjalan menuju Villa, karena mereka sekarang berwujud manusia, sehingga mereka bisa berbaur dengan masyarakat sekitar.
"Cantik nya...., wajah gadis ini, terasa begitu dekat dan bayangan wajah nya sering muncul meskipun samar, tapi aku yakin dialah gadis itu." ucap Arden menatap dalam wajah Safira yang sempat menundukkan kepalanya sambil tersenyum menyapa ramah, kearah Arden dan Rembo yang dibalas dengan perlakuan yang sama oleh keduanya.
Pikiran Arden sudah terkontaminasi dengan Safira, jiwa muda Arden kembali bergelora. bahkan saat ini dia ingin terbang mengunakan kekuatan nya agar dapat segera menyusul Safira yang sudah menjauh.
"Ondeh rancak nyo," (cantiknya) terdengar dari mulut orang-orang yang memuji kecantikan Safira dan sahabatnya.
__ADS_1
"Bantuaknyo bukan orang awak."
"Iyo, Inyo anak si Zein yang istri nyo utang bule tu." terdengar jawaban dai ibu-ibu yang lain.
Langkah Rembo langsung terhenti, mendengar percakapan ibu-ibu barusan. Rembo kembali mempertajam penglihatan nya, sambil memejamkan mata. dia langsung terlonjak.
"Ternyata benar, dia adalah anak dari wanita yang pernah dicintai oleh pangeran beberapa tahun silam, bagaimana ini. aku takut kejadian buruk itu akan terulang kembali. ya Tuhan.... ternyata mereka dipertemukan kembali dengan generasi yang berbeda, ini semua atas kuasa mu. aku hanya berharap semoga kejadian buruk tidak menimpa pangeran ku lagi...Amin ." Gumam Rembo gusar.
"Rembo kamu terlihat gusar dan galau setelah berpas-pasan dengan kedua gadis cantik barusan, jangan katakan jika kamu juga sudah jatuh cinta pada mereka." ucap Arden yang terlihat tidak seperti orang linglung lagi, bahkan Arden sangat bersemangat.
"Tidak akan pangeran, kita dan mereka berbeda. ingat tujuan kita ketempat ini hanya untuk sekedar jalan-jalan." jawab Rembo.
"Tidak ada salahnya Rembo jika kita jatuh cinta, kamu ingat kan nabi Sulaiman dan ratu Balqis, mereka juga berbeda." ucap Arden mencoba mencari pembelaan. Rembo hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, dan menurut saja ketika Arden mengunakan kekuatan mereka untuk segera sampai di Villa yang tidak terlalu berjauhan dengan Villa milik Safira.
(Teman-teman, cerita ini murni fiksi dan khayalan author semata. jadi jangan berfikir, dan menghayal jika ini nyata. meskipun berdasarkan cerita dari orang ke orang, jika sesungguhnya kehidupan mereka hampir mirip dengan kehidupan kita.)
__ADS_1