
Safira dan Mama Jeni, jalan-jalan mengelilingi Villa mewah dengan pemandangan yang sangat memanjakan mata. Safira mengabadikan dengan camera ponsel foto-foto kebersamaan nya dengan sang Mama.
Sementara tuan Husein dan Zein terlibat obrolan seru, termasuk harapan terbesar tuan Husein yang sangat menginginkan Safira untuk menjadi calon menantunya. menikah dengan anaknya Alexander.
Zein terperanjat kaget, mendengar permintaan sahabat beda usianya yang terpaut jauh dari nya tersebut. namun akirnya dia bisa memaklumi keinginan tuan Husein, mengingat dia sangat menginginkan melihat Alexander menikah dan memberikan nya seorang cucu yang akan menemani hari-hari tuanya ini.
"Aku sangat mengerti tuan Husein, tapi apakah tuan tidak salah memilih Putri ku untuk dijadikan menantu?" ulang Zein.
"Tidak Zein, tekadku sudah bulat untuk memilih Safira. dia gadis yang sangat baik, cocok untuk mendampingi Alexander. aku mohon jangan tolak permintaan terbesarku ini" ujar Husein menatap Zein penuh pengharapan.
"Bukan begitu, tapi Putriku masih terlalu kecil dan mereka juga terpaut usia yang jauh." terang Zein juga dilema, dia tahu Safira dan istri nya Jeniffer pasti menolak keras keputusan nya ini nantinya.
"Aku mohon Zein," tuan Husein yang berkuasa dan kaya raya itu rela merendahkan harga dirinya, meminta pada Zein.
"Baiklah tuan Husein, aku akan mempertimbangkan permintaan mu ini. aku juga akan merundingkan hal ini dengan istri ku terlebih dahulu." ujar Zein.
__ADS_1
"Baiklah Zein, aku sangat berharap sekali mendapatkan jawaban yang memuaskan darimu nantinya." ujar tuan Husein.
Ditengah-tengah perbincangan hangat mereka, pelayan datang untuk memberitahu jika menu makan siang mereka sudah siap. Zein dan keluarga nya dijamu sedemikian baik oleh tuan Husein.
***
Malamnya, saat semua berkumpul. Zein mengutarakan tentang hasil perbincangan yang dibahas nya bersama tuan Husein. semula Safira dan mamanya terlihat biasa-biasa saja menanggapi, namun saat Zein mengatakan tentang niat nya yang ingin menjodohkan Safira dan Alexander sontak membuat Safira dan Jeniffer terlonjak kaget.
"Uda kamu bercanda Khan?" ulang Jeniffer memastikan.
"Safira papa serius dengan perkataan papa jni, dan juga salah satu jalan terbaik agar kamu terhindar dari makhluk Astral yang dulunya juga pernah jatuh cinta pada Mama mu." terang Zein.
"Maksud papa." ucap Safira dan Jeniffer hampir bersamaan, mereka berdua juga kaget dengan ucapan tiba-tiba keluar dari mulut papanya.
"Sewaktu kamu masih tinggal di Villa kita dikampung, bang Ujang sempat menghubungi papa. dia mengatakan jika makhluk yang mengganggu mamamu dulu juga sekarang sering mendatangimu di Villa." terang Zein.
__ADS_1
"Ngak ada kok pa, aku hanya berteman dengan penghuni Villa yang letaknya tidak terlalu jauh dari Villa kita. dan namanya Zerzio. dia juga pengusaha yang baik dan sangat dermawan." jelas Safira.
"Tidak nak, dia pangeran dari bukit Savana dan bukan manusia. papa terlambat mengetahui nya. setelah pak ustadz Usman membuat kesepakatan kembali dengan mereka. Pangeran itu pulang. sehingga kamu terbebas sampai sekarang." ujar Zein.
"Tidak mungkin pa." Safira masih tidak percaya.
"Sadarlah nak, buktinya apa Zerzio itu pernah kembali dan mencari-cari mu sampai sekarang?"
"Mungkin saja dia sekarang sedang sibuk atau ada urusan kain." bela Safira.
"Tidak nak, dia sudah pulang ke alamnya. dan tidak ada lagi di Villa, karena Villa itu sudah papa hancur kan digantikan pesantren yang dipimpin oleh pak ustadz Usman." terang Zein.
Safira tertunduk lesu, air mata tiba-tiba menetes membasahi wajah cantik nya. dia belum bisa mencerna semua ini.
"Terimalah Alexander, nak. dia jodoh yang tepat untuk mu." papa yakin dia bisa melindungi mu dari gangguan makhluk itu lagi." bujuk Zein.
__ADS_1