
"Ini benar-benar menakjubkan." ucap Safira merentangkan kedua tangannya menghadap pemandangan lepas alam perbukitan yang menghijau.
"Udara disini juga sejuk dan sangat bersih, beda dengan sekali dengan kehidupan kita selama ini, yang selalu berhadapan dengan hiruk pikuk kehidupan perkotaan yang ramai." balas Stevani.
"Rasanya begitu damai dan nyaman." perlahan Safira membuka matanya, yang semula sempat dia pejamkan.
"Seperti nya, itu pria yang sempat berpas-pasan dengan kita tadi pagi. sewaktu kita akan pergi ke Villa ini." terang Safira memperjelas penglihatan nya kearah Villa sebelah mereka dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
Arden berdiri didepan balkon kamar nya, menghadap langsung dengan kamar Safira yang juga tengah berdiri di balkon. senyum mengembang dibibir Arden ketika Safira secara tidak langsung juga tengah memandang nya.
Sebelah tangan Arden terangkat, melambai menyapa kedua gadis itu. terutama Safira.
"Seperti nya dia menyapa kita." ucap Stevani sambil membalas lambaian tangan Arden.
"Wanita ku." ucap Arden tanpa sadar, namun terdengar jelas oleh Rembo yang tengah menyaksikan acara televisi.
__ADS_1
"Pangeran apa yang kamu katakan Barusan?"
"Rembo, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. pada gadis anak manusia itu, dia adalah wanita ku sekarang dan selamanya." ucap Arden sambil tersenyum bahagia.
Rembo bingung harus berbuat apa, jika dia mengadukan hal ini i pada pihak kerajaan. kondisi pangeran Arden pasti akan lebih parah lagi dibandingkan dahulu. dia sangat menyayangi pangeran nya, sehingga Rembo memantapkan hatinya untuk melindungi semampunya, bahkan dia akan mendukung apapun keputusan pangeran Arden nantinya.
"Aku akan mendukung mu pangeran, sekarang kebahagiaan mu adalah kebahagiaan ku juga." jawab Rembo.
"Benarkah Rembo?" ucap pangeran Arden memastikan pendengaran saking bahagianya.
"Aku ingin sekali bertemu, dan bermain dengan wanita ku." menunjuk kearah Safira.
"Baiklah pangeran, aku akan membantumu." terang Rembo.
Dengan kekuatan nya, Rembo menyulap halaman luas Villa tiba-tiba berubah menjadi Padang rumput yang menghijau dan sangat luas. dan menyiapkan seekor kuda putih untuk sang pangeran.
__ADS_1
Seperti terhipnotis, Safira menatap kagum keindahan tersebut. dia berjalan turun kebawah tidak menghiraukan teriakan Stevani yang memanggilnya, karena mersa diabaikan. Stevani akirnya memilih untuk tidur saja.
"Mungkin Safira buru-buru, lagian ini Villa milik keluarga nya jadi dia bebas mau ngapain aja." Gumam Stevani.
"Hai cantik, perkenalkan aku Arden penghuni Villa sebelah." ucap Arden menyapa Safira begitu gadis cantik itu sudah berdiri dihadapannya.
”A...aku, namaku Safira." Safira gugup, dengan ketampanan Pangeran Arden, namun dia memberanikan dirinya untuk menerima uluran tangan laki-laki tersebut dengan tangan gemetaran.
"Safira, nama yang sangat cantik. secantik yang punya." puji Arden yang membuat wajah Safira bersemu merah. sambil mencuri-curi pandang pada wajah Arden yang terlihat sangat dewasa, namun tidak mengurangi ketampanan nya. termasuk bentuk tubuh Arden yang sangat atletis.
"Safira, aku yakin kamu pendatang baru di disini. mau tidak aku ajak berkeliling dengan menunggangi kuda putih ini." ucap Arden sambil menaiki kuda siap untuk menjalankannya.
Safira tersenyum, dia mengganggukan kepala nya. menerima uluran tangan Arden yang menarik tubuh nya untuk menaiki kuda putih, seperti pangeran berkuda putih yang pernah dibaca dalam buku dongeng di masa kanak-kanak nya dahulu.
"Berpegangan lah Safira." ucap Arden.
__ADS_1
Tidak ada penolakan yang keluar dari mulut Safira, dia benar-benar menikmati saat kuda mulai berjalan mengelilingi tempat yang tiba-tiba berubah indah, dia tidak menyadari jika Arden sudah mengajaknya berkeliling menuju alamnya, bukit Savana.