
Geovano yang sudah hampir sebulan menetap tinggal dipusat perkotaan Savana, berusaha mencuri-curi kesempatan untuk mengalihkan perhatian Balqis, gadis Savana yang sudah menawan nya. dengan alasan menolong Geovano dari kecelakaan maut.
Bahkan Balqis memanfaatkan keadaan, setiap kali dia memaksa Geovano untuk melayani dan memuaskan nya. jika Geovano menolak, maka dengan kekuatan nya Balqis akan menghipnotis vokalis band tampan tersebut untuk mematuhi dan melayani keinginan nya tersebut.
"Aku harus kabur secepatnya, makhluk ini terus memperkosa ku. bahkan keperjakaan ku, yang selama ini aku banggakan sudah hilang." mengusap wajahnya kasar.
"Sayang kamu kenapa?" Suara Balqis tiba-tiba mengagetkan Geovano. yang terlihat gusar sambil sesekali mencuri-curi pandang melirik Stevani.
"Ng... papa kok, cuma aku ngak suka sama menu yang ini." Geovano menunjuk menu dihadapannya, yang merupakan menu favorit restoran itu. yang seperti Landak panggang.
"Huuuff... gimana dong sayang, masa kamu makan buah-buahan terus." Balqis ikut-ikutan gusar, menghempaskan tubuhnya di sandaran sofa, menatap kasihan Geovano. yang terlihat sudah agak kurusan karena hanya sering mengkonsumsi buah-buahan. meskipun ada makanan lain yang juga seperti dimakan bangsa manusia tapi Geovano terus menolak.
Geovano kembali melirik Stevani, gadis itu nampak menikmati makan daging ayam hutan yang dipanggang. secara tidak langsung membuat selera makan nya ikut-ikutan bangkit.
"Aku mau makan." Ucap Geovano.
Balqis yang menderngar, langsung kembali tersenyum senang. dengan mata berbinar-binar dia menatap sang pujaan hatinya.
__ADS_1
"Kamu mau makan apa Sayang?"
"Ayam bakar."
"Okey, tunggu sebentar ya."
Balqis langsung memesan makanan, mengingat sudah hampir sebulan Geovano tidak makan apa-apa, selain buah-buahan. meskipun monyet-moyet dihutan bertahan hidup dengan hanya memakan buah-buahan juga.
"Untuk lepas dari sini, aku harus kuat dan tidak lemah dan pasrah dengan keadaan lagi, aku harus bersemangat seperti gadis cantik itu.." Gumam Geovano. diluar dugaan, Stevani yang mersa diperhatikan seseorang langsung melirik balik kearah Geovano. yang membuat pria tampan itu refleks terlonjak kaget, seketika pandangan mata mereka berdua bertemu.
"Huck... huck..."
"Sayang, kamu kenapa." mengusap pelan punggung Geovano.
"Ngak papa kok."
Geovano yang sudah kembali tenang, langsung memakan menu yang sudah terhidang dihadapannya.
__ADS_1
"Aku seperti pernah melihat laki-laki ini, tapi dimana?"
Stevani mengusap pelipisnya, berusaha untuk mengingat-ingat wajah pria yang duduk di deretan kursi, yang tidak jauh dari posisi dia duduk sekarang.
"Stevani, kamu kenapa?"
"Rembo, aku sepertinya pernah melihat dan sangat familiar dengan wajah laki-laki disamping ku ini, seperti nya dia manusia seperti diriku." ucap Stevani seperti berbisik pada Rembo yang duduk dihadapannya.
"Iya Stevani, aku juga pernah lihat, tapi Dimana?" Rembo ikutan mengingat-ingat.
"Ooooya Stevani, aku ingat sekarang. foto laki-laki itu pernah ada di spanduk sebuah iklan rokok, yang tengah mengadakan konser besar. grup band terkenal di alam kalian." ucap Rembo, mengingat dia cukup lama juga menetap dan berbaur dengan manusia.
"Tapi ngapain dia disini, apa gadis bangsa kalian berpacaran dengannya?"
"Entahlah, tapi dilihat dari raut wajahnya. dia seperti tertekan dan butuh pertolongan." terang Rembo yang bisa membaca ekspresi yang ditunjukkan Geovano.
"Apa kamu pengen ngobrol dengan laki-laki itu, karena dia terus mencuri-curi pandang kearah mu, sapa tahu dia sedang membutuhkan mu. karena merasa kalian sesama manusia."
__ADS_1
"Iya, tapi bagaimana caranya Rembo. karena seperti wanita didepannya itu sangat berbahaya?"
***