ORANG KE 3

ORANG KE 3
ORANG KE TIGA EPISODE 88


__ADS_3

ORANG KE TIGA EPISODE 88


Keluarga Nugraha mengadakan acara tujuh bulanan dengan penuh bahagia. Kebahagiaan mereka terpancar ketika merayakan tujuh bulanan kehamilannya Raya. Namun terhenti karena Gita mengatakan bahwa Nayla anak tiri Arya dan Raya.


"Nayla, Oma minta kamu jaga Tante Mama dan calon adik tiri kamu yang akan lahir." Ucap Gita kepada Nayla.


"Iya Oma... Nayla pasti akan menjaga Tante Mama dan Adik Nayla." Ucap Nayla dengan polosnya.


"Bu Gita, Maaf Nayla itu cicit saya dan bukan anak Raya dan Bram jadi Nayla tidak akan memanggil Tante Mama." Ucapan Syafira membuat Gita kaget mendengarnya.


"Nayla adalah anak kandung nya Bram dengan Maya. Mereka sudah bercerai dan sudah menikah dengan pasangan masing-masing jadi wajar Nayla ngomong gitu." Ucapan Gita membuat Syafira kaget mendengarnya.


"Dengarkan aku ya Bu, Nayla itu anak kandung nya Maya dan Arya bukan Bram, Bram dan Raya itu adalah Om dan tantenya Nayla. Apalagi Bram itu sepupu Maya dan Nayla sudah menganggap Bram Ayahnya sendiri." Ucapan Syafira membuat Gita kaget mendengarnya.


"Bu Syafira..." Ucap Gita kepada Syafira.


"Nayla, Ayo kita pulang sekarang acaranya kan sudah selesai jadi kita tidak perlu lama-lama di sini. Ayo Ma, kita pulang sekarang karena acaranya sudah selesai dan tidak perlu lama-lama di sini Apalagi Arpen dengan Arnav masih terlalu kecil dan mereka tidak bisa lama-lama berada di tempat yang ramai seperti ini." Ucap Diana sambil mengajak Syafira dan Nayla.


"Baiklah ayo kita pulang, kasihan Arpen dan Arnav. Nayla, Ayo kita pulang sekarang, adik kembar mu Sudah terlalu lama di sini mereka masih kecil, jadi jangan terlalu lama berada di sini di tempat yang rame." Ucap Syafira sambil mengajak Nayla pulang.


"Tunggu sebentar, Mengapa Nayla harus pulang secepat ini, Bu Diana Mengapa buru-buru mengajak Nayla pulang Bukankah acaranya belum selesai?" Tanya Gita kepada Diana.


"Acaranya sudah selesai dari tadi pagi sampai siang ini kami di sini dan sudah terlalu lama, jadi kami tidak mau terlalu lama lagi karena Arpen dan Arnav masih terlalu kecil." Jawab Diana kepada Gita.


"Benar sekali apa kata bu Diana Aku juga mau pulang dan Kasihan Arpen dan Arnav mereka masih terlalu kecil untuk terlalu lama di sini. Nayla, ayo kita pulang." Ucap Rani sambil mengajak Nayla pulang.


Arya dan Maya tiba-tiba mengajak Nayla untuk pulang hingga akhirnya mereka pun pulang dan membuat Gita bertanya-tanya kepada Raya.


"Apa yang terjadi Raya?" Tanya Gita kepada Raya.


"Ma... Ehmmm." Jawab Raya kepada Gita.


"Biar Mama yang mengatakan semuanya." Ucap Lina kepada Gita.


Lina Kemudian menceritakan semuanya kepada Gita tentang apa yang terjadi sebenarnya.


"Seharusnya tidak seperti itu dan Jangan berbohong seperti itu. Jika kita berbohong seperti itu, maka masalahnya akan lebih besar jika nantinya Bu Syafira mengetahuinya dari orang lain bukan dari keluarganya sendiri. Lagi pula apa salahnya berkata jujur seperti itu? Tidak akan terjadi apa-apa aku sangat yakin itu. Tapi jika nanti Bu Syafira mengetahuinya dari orang lain entah siapapun dia pastinya masalah besar akan datang itulah yang akan terjadi." Ucapan Gita membuat semua kaget mendengarnya.


Semua hanya terdiam namun Gita masih terlihat sangat kesal karena mereka tidak mengatakan yang sebenarnya tentang Nayla.


******


Di Rumah Keluarga Reynaldi


Sampainya di rumah Diana meminta Nayla untuk masuk ke kamar dan istirahat. Sementara itu Ria bertanya kepada Diana.


"Kenapa kita cepat pulang Apakah takut ketahuan siapa Nayla yang sebenarnya?" Tanya Ria kepada Diana.


"Kau pasti sudah tahu jawabannya dan jangan bertanya lagi ini adalah keputusan Mama apalagi si kembar masih terlalu kecil dan kita sudah lama di sana." Jawab Diana dengan perasaan kesal.


"Aku mengerti mengapa Mama seperti itu dan aku bisa memahaminya dengan baik." Ucap Ria kepada Diana.


"Tetapi bagaimana jika ketahuan dan Oma mengetahuinya dari orang lain? Pastinya Oma akan sangat marah sekali kepada kita." Tanya Arka kepada Diana.


"Jangan khawatir tentang hal itu jika nanti Oma Kalian mengetahuinya itu sudah Mama siapkan dengan baik." Jawab Diana kepada Arka.


Ria tersenyum setelah mendengar jawaban dari Diana dan berpikir bahwa masalah akan datang setelah Oma Arya dan Arka mengetahui kebenaran tersebut.


******


Di Kamar Nayla


Nayla bertanya kepada Maya dan Arya tentang mengapa nenek Diana berbohong kepada semua orang.


"Ma, Om Papa... Kenapa nenek berkata seperti itu di depan semua orang dan membuat Eyang tidak menyadarinya.?" Tanya Nayla kepada Maya dan Arya.


"Nayla..." Jawab Arya kepada Nayla.


"Nayla... Ada sesuatu yang tidak bisa kau mengerti dan sulit untuk dikatakan. Tapi nanti kau pasti akan mengerti kau jangan khawatir tentang hal itu, semua akan baik-baik saja." Ucap Maya sambil tersenyum kepada Nayla.


"Iya Nayla... Semua akan baik-baik saja kau jangan khawatir tentang hal itu." Ucap Arya kepada Nayla.


"Dulu Mama pernah berkata bahwa tidak baik kita berbohong tetapi Mengapa di saat ini Mama berbohong dan tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Eyang?" Tanya Nayla kepada Maya.


"Sayang... Ada sesuatu yang sulit untuk Mama katakan tapi, nanti Nayla pasti akan mengerti jadi Nayla jangan khawatir semua akan baik-baik saja." Ucap Maya sambil tersenyum kepada Nayla.


"Sekarang Nayla istirahat dulu Om Papa dan Mama Nayla ke kamar dulu." Ucap Arya sambil peluk dan cium kening Nayla.


"Semua akan baik-baik saja Sayang jangan khawatir." Ucap Maya sambil peluk dan cium kening Nayla.

__ADS_1


Arya dengan Maya kemudian keluar dari kamarnya Nayla namun Nayla masih merasa bingung Mengapa Mamanya masih saja berbohong tentang yang sebenarnya.


******


2 Bulan Kemudian


Raya begitu sangat bahagia karena akan segera melahirkan dan berharap ini adalah kebahagiaan yang sesungguhnya. Bram melihat Raya tiba-tiba datang dan memeluknya dari belakang.


"Sayang... Boleh aku mengatakan sesuatu kepadamu?" Tanya Bram kepada Raya.


"Kau ingin mengatakan apa sayang? Katakan saja apa yang ingin kau katakan." Jawab Raya kepada Bram.


"Aku mencintaimu dan aku sangat mencintaimu itu yang ingin aku katakan kepadamu." Ucap Bram sambil cium perut Raya.


"Bram... Aku juga sangat mencintaimu dan tidak akan pernah berubah. Ehmmm Oh iya tiba-tiba aku ngidam sesuatu, aku ingin kamu melakukannya kepadaku tetapi, apakah kamu mau melakukannya?" Tanya Raya kepada Bram.


"Apa itu sayang katakan saja kepadaku dan aku akan mengabulkannya untukmu." Jawab Bram kepada Raya.


"Benarkah kau ingin mengabulkannya meskipun ini sangat sulit?" Tanya Raya kepada Bram.


"Iya sayang katakan saja kepadaku, apa yang kau inginkan aku akan mengabulkannya." Jawab Bram kepada Raya.


"Aku ingin kau berpenampilan mirip seperti Afdal Yushman idola ku seorang aktor yang terkenal di Jakarta ini, aku ingin kau berpenampilan seperti dirinya dan melihat dirimu seperti dirinya." Jawab Raya kepada Bram.


"Tapi sayang bagaimana mungkin aku bisa seperti dirinya? Aku adalah aku dia adalah dia bagaimana bisa seperti itu?" Tanya Bram kepada Raya.


"Aku tidak mau tahu sayang pokoknya kau harus berpenampilan seperti dirinya dan aku ingin melihatmu seperti dirinya itu saja karena aku menginginkan hal itu." Jawab Raya dengan perasaan kesal.


"Ehmmm kau ini ada-ada saja jangan-jangan ini permintaanmu sendiri bukan anak kita." Ucap Bram kepada Raya.


"Ehmm bagaimana mungkin kau berpikir seperti itu ini adalah permintaan anak kita dan aku ingin kau mengabulkannya. Jika tidak, kau sendiri yang akan rugi dan aku akan sangat kecewa sekali." Ucap Raya dengan perasaan kesal.


"Baiklah kalau begitu yang kau inginkan aku akan berpenampilan seperti idola kamu Afdhal Yushman dan aku akan melakukannya sesuai dengan keinginanmu." Ucap Bram kepada Raya.


"Terima kasih sayang Kau sangat baik sekali." Ucap Raya sambil peluk Bram.


"Setampan apa sih Afdhal Yushman itu masih ganteng juga aku." Ucap Bram dalam hati.


Bram terlihat sangat kesal namun Raya senyum-senyum dengan berpikir bahwa Bram akan melakukan sesuai yang dia inginkan.


******


"Nayla... Kamu sedang apa sayang sudah dua bulan kita tidak bertemu Oma sangat merindukanmu." Ucap Lina dalam hati sambil peluk foto Nayla.


Lina masih memeluk foto Nayla dengan harapan Nayla akan segera datang ke rumahnya karena Lina sangat merindukannya.


"Nayla... Oma berharap kita segera bertemu secepatnya karena Oma sangat merindukanmu dan Oma ingin kita selalu bersama Meskipun tidak seperti dulu lagi. Nayla... Oma berharap kau secepatnya datang agar kita bisa bersama-sama lagi. Meskipun hanya beberapa hari itu sudah membuat Oma sangat senang sekali dan bahagia karena Oma sangat merindukan mu." Ucap Lina dalam hati sambil peluk foto Nayla.


Saat Lina memeluk foto Nayla tiba-tiba Roy datang dan melihatnya sedang termenung sambil peluk fotonya Nayla.


"Sayang... Kamu pasti sangat merindukan Nayla dan aku sangat mengerti akan hal itu." Ucap Roy kepada Lina.


"Bagaimana mungkin aku tidak merindukannya sudah dua bulan dia tidak kemari. Aku tidak mengerti dengan Bu Diana mengapa dia melakukan hal seperti itu dan membuat kebohongan besar seperti itu yang tanpa disadari sesuai akan terjadi jika nanti Oma dan Opanya Arya mengetahuinya dari orang lain." Ucap Lina dengan perasaan kesal.


"Kita bisa apa dengan pilihan dari bu Diana Itu adalah pilihannya, aku juga sangat kecewa dan ingin mengatakan yang sebenarnya. Tetapi, saat kita ingin mengatakannya Bu Diana tiba-tiba memotong pembicaraan kita dengan berkata bahwa Nayla bukanlah anak Bram." Ucap Roy kepada Lina.


"Aku tidak habis pikir dengan semua yang telah terjadi dan apa yang telah dilakukan oleh Bu Diana dan hal ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimana jika nanti Omanya Arya mengetahui hal ini dari orang lain, pasti dia akan sangat marah sekali dan berpikir bahwa Maya pernah selingkuh dengan Bram. Tetapi itu terserah Bu Diana, jika dia ingin seperti itu maka sesuatu hal besar akan terjadi." Ucap Lina dengan perasaan kesal.


Lina begitu sangat kesal karena Diana tidak mengizinkan Nayla untuk menginap di rumahnya. Namun Lina masih berharap Nayla segera datang ke rumahnya karena Raya akan segera melahirkan.


******


Di Perusahaan Reynaldi


Di Ruangan Arya


Arya memikirkan Nayla sambil melihat fotonya Nayla dengan mengatakan bahwa dia tidak bisa berbuat apapun untuk saat ini karena Mamanya Arya tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Oma dan Opanya Arya.


"Nayla... Maafkan Om Papa Karena Om Papa tidak bisa melakukan apapun dan mengatakan apapun yang sebenarnya kepada Eyang kamu karena ini adalah permintaan dari nenek kamu. Sebenarnya Om Papa ingin mengatakan semuanya tetapi Om Papa tidak bisa mengatakannya karena Om Papa tidak bisa melakukannya. Maafkan Om Papa Nayla..." Ucap Arya dalam hati.


Arya terlihat sangat sedih sambil memeluk fotonya Nayla dengan mengatakan bahwa dia akan berusaha sebaik mungkin agar Nayla tetap bertemu dengan Bram apapun caranya.


"Hari ini Nayla pasti ingin bertemu dengan Papanya apalagi sudah dua bulan mereka tidak bertemu dan sebentar lagi Raya akan melahirkan. Aku harus melakukan sesuatu agar Nayla berada di samping Raya saat Raya melahirkan dan aku ingin Nayla berada di sana apapun caranya akan aku lakukan untuk kebahagiaan Nayla." Ucap Arya dalam hati.


Arya kemudian menghubungi Bram dengan mengatakan bahwa Nayla akan segera menginap di rumahnya sambil menunggu kelahiran adiknya yang akan segera lahir Hal itu membuat Bram terlihat sangat bahagia dan akan menunggu kedatangan Nayla ke rumahnya.


"Aku akan menunggu kedatangan Nayla bawa saja dia ke rumah dan aku akan siapkan kamar untuknya kau jangan khawatir tentang hal itu." Ucap Bram kepada Arya.


"Kau tunggu saja di sana, besok Nayla pasti akan datang untuk menunggu kelahiran anakmu yaitu adiknya dari Tante Mama." Ucap Arya kepada Bram.

__ADS_1


"Nayla memang ingin sekali melihat adiknya yang akan lahir untuk pertama kali dan hal ini pasti akan terwujud. Aku sangat berterima kasih kepadamu dan sangat bahagia akhirnya kau bisa mengerti perasaan Nayla. Sebentar lagi Raya akan segera melahirkan dan pasti Nayla akan menunggunya dengan baik." Ucap Bram kepada Arya.


"Ya sudah kalau begitu Tunggu saja kedatangan Nayla dan aku akan mengantarnya besok kau jangan khawatir tentang hal itu." Ucap Arya yang kemudian tutup telponnya.


Arya kemudian menutup teleponnya dan berharap ini akan menjadi kabar yang baik untuk Nayla karena Nayla akan segera bertemu dengan Papanya.


******


Di Rumah Keluarga Nugraha


Setelah mendapat telepon dari Arya, Bram terlihat sangat bahagia karena akan bertemu dengan Nayla. Namun sebelum memberitahukan hal tersebut kepada Raya, Bram kemudian berdandan seperti Afdhal Yushman dan langsung menemui Raya.


"Mas Afdhal... Ini kamu kan? Ya Tuhan... Mas Afdhal Aku pengen tanda tangan darimu aku sudah mempersiapkan kertasnya dan aku ingin tanda tangan darimu. Aku ngefans banget sama kamu Mas Afdhal." Ucap Raya sambil peluk Bram.


"Sayang... Ini aku Bram... Coba lihat aku, aku sudah berpenampilan seperti apa yang kau inginkan Kau senang kan, sekarang aku seperti idola mu bahkan kau saja tidak mengenal suamimu sendiri." Ucap Bram kepada Raya.


"Hahaha hahaha ini kamu Sayang... Ya Tuhan... Aku sampai tidak mengenalimu bahkan aku tidak tahu bahwa kau berpenampilan seperti dirinya kau terlihat sangat tampan sekali dan aku menyukainya." Ucap Raya sambil tersenyum kepada Bram.


"Iya kau sangat menyukainya sampai kau lupa kepada suamimu sendiri." Ucap Bram dengan perasaan kesal.


"Kamu cemburu ya sayang sampai-sampai berkata seperti itu, tetapi kamu terlihat tampan kok dan kamu lebih tampan lagi dan aku sangat menyukainya." Ucap Raya sambil peluk Bram.


"Untuk istriku tersayang aku tidak akan cemburu kepadamu tetapi aku akan mengatakan sesuatu yang sangat penting kepadamu yang pastinya akan membuatmu bahagia." Ucap Bram sambil tersenyum kepada Raya.


"Apa itu sayang katakan kepadaku? Aku sudah tidak sabar dengan kejutannya." Tanya sambil tersenyum kepada Bram.


"Nanti saja karena kejutan ini sangat spesial untukmu dan untuk anak kita yang akan segera lahir." Jawab Bram kepada Raya.


"Katanya mau kasih tahu kejutan sekarang malah nanti saja jangan-jangan nggak ada lagi kejutannya." Ucap Raya dengan perasaan kecewa.


"Tapi kali ini benar-benar ada sayang dan kau tunggu saja kejutannya karena ini sangat spesial untukmu dan juga untuk anak kita." Ucap Bram sambil peluk Raya dari belakang.


"Baiklah kalau begitu aku akan menunggu kejutannya dan aku harap kejutannya ini adalah spesial untukku dan membuat aku bahagia. Tapi sekarang aku ingin kita jalan-jalan dengan penampilanmu seperti ini kalau bisa kita bertemu dengan Afdal karena aku ingin minta tanda tangan darinya." Ucap Raya sambil tersenyum kepada Bram.


"Kau ini jangan aneh-aneh tadi kau meminta aku berpenampilan seperti Afdal sekarang Kau ingin apa kita bertemu dengannya bagaimana mungkin kita bisa bertemu dengannya apa mau dia bertemu dengan kita?" Tanya Bram kepada Raya.


"Tentu saja dia mau sayang apalagi ini kan ngidam keinginan seorang ibu hamil pasti dia mau dan tidak menolak ayo kita coba." Ucap Raya sambil tersenyum kepada Bram.


"Ya Tuhan... Dulu Maya tidak seperti ini hamil dan ngidam kenapa Raya seperti ini? Aneh sekali." Ucap Bram dalam hati.


"Sayang kenapa diam saja ayo kita berangkat dan kita ke rumahnya Afdhal sekarang." Ucap Raya dengan perasaan kesal.


"Baiklah kalau begitu ayo kita pergi sekalian jalan-jalan kita keliling Jakarta." Ucap Bram sambil tersenyum kepada Raya.


Bram kemudian mengajak Raya untuk berjalan-jalan keliling Jakarta dan bertemu dengan Afdal.


******


Di Rumah Kamila


Sonia sedang bermain sepeda di taman dan ditemani oleh Nada dan juga Kamila melihat hal itu Kamila sangat bahagia sekali. Di samping itu, Nada sangat sedih dikarenakan Arya sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Sonia karena terlalu sibuk.


"Melihat Sonia bermain sepeda aku sangat bahagia sekali tetapi di samping itu aku merasa sangat sedih karena Kak Arya tidak pernah lagi datang kemari apalagi menemui Sonia." Ucap Nada dengan perasaan sedih.


"Kakakmu Arya itu lebih penting kan Nayla daripada keponakan sendiri Nayla itu seperti mutiara baginya dan berlian. Tetapi dia sudah lupa bahwa dia punya keponakan kandungnya sendiri yang sudah seperti anaknya sendiri. Bahkan dia pasti sudah lupa yang mana dia mempertahankan Sonia agar Sonia tidak bertemu dengan ayah kandungnya dia lupa dengan semua yang telah dia lakukan untuk Sonia." Ucap Kamila kepada Nada.


"Aku tidak tahu Ma, tapi aku hanya sedih dan kecewa Mengapa Kak Arya menjadi seperti itu sekarang dan dia sudah lama tidak kemari untuk melihat keponakannya sendiri. Namun aku tidak masalah dengan hal itu lagi tetapi yang menjadi masalah adalah ketika Sonia bertanya Mengapa Om Arya tidak pernah datang kemari? Aku harus jawab apa, aku tidak bisa mengatakan apapun." Ucap Nada kepada Kamila.


"Mama mengerti bagaimana perasaan Sonia dan Mama berharap suatu hari Arya datang kemari untuk menemui Sonia keponakannya sendiri. Namun jika dia tidak datang juga maka Mama akan mengatakan semuanya tentang kebenaran siapa Nayla yang sebenarnya." Ucap Kamila kepada Nada.


"Ma... Ayo kita main sepeda bersama-sama." Ucap Sonia sambil tersenyum kepada Nada.


"Iya sayang... Mama temani Sonia main sepeda yuk..." Ucap Nada kepada Sonia.


Nada kemudian menemani Sonia bermain sepeda sementara itu Kamila melihat dengan perasaan sedih. Namun dia berharap Sonia tidak merasakan kesedihan saat Arya tidak menemuinya.


******


Nada menemani Sonia bermain sepeda di taman sambil bermain sepeda Sonia menanyakan tentang Arya kepada Nada yang mana tidak bisa menjawab pertanyaan dari Sonia.


"Ma, Om Arya, Sudah lama tidak datang ke rumah kita, Apakah Om Arya tidak rindu kepada Sonia? Sonia sangat merindukan Om Arya dan ingin bertemu dengannya." Tanya Sonia dengan perasaan kecewa dan sedih.


"Sayang... Om Arya lagi sibuk dan pasti sebentar lagi dia akan kemari jika nanti Om Arya tidak sibuk lagi." Jawab Nada sambil tersenyum kepada Sonia.


"Sejak ada Kak Nayla Om Arya jarang sekali bertemu dengan Sonia dan itu membuat Sonia sangat kecewa." Ucap Sonia kepada Nada.


"Mama sangat mengerti bagaimana perasaanmu Sonia tapi satu hal bahwa Mama sangat menyayangimu." Ucap Nada dalam hati.


Sonia merasa sangat kecewa karena Arya tidak datang lagi ke rumahnya untuk bertemu dengannya di samping itu Nada mencoba untuk menghibur Sonia agar tidak larut dalam kekecewaan.

__ADS_1


#BERSAMBUNG


__ADS_2