Pacarku Vampir Tampan

Pacarku Vampir Tampan
Bab. 14.Terkejut


__ADS_3

Meskipun Ayah Dion merasa sangat kesal dan tidak suka dengan sikap sang nenek akan tetapi ayah Dion berusaha sabar dan membiarkan apapun yang Nenek tua itu lakukan, meskipun pada dasarnya Ayah Dion sangat yakin jika Apa yang dilakukan sang Nenek akan sia-sia dan pastinya gagal seperti orang-orang yang datang membantu ingin menyembuhkan putranya.


Diam dan memperhatikan segala gerak-gerik yang dilakukan oleh sang Nenek meskipun Ayah Dion tidak mengerti apa yang sedang Nenek tua itu lakukan karena dia dalam posisi berdiri membelakangi Ayah Dion dan ketika Ayah Dion menawarkan bantuan sang Nenek melarangnya dan meminta dirinya untuk duduk, Hal itu membuat Ayah Dion sedikit penasaran dan Heran apa yang sedang dilakukan sang Nenek tidak bisa Ayah Dion lihat.


"Apa yang sedang Nenek Tua itu lakukan, mengapa Aku tidak di bolehkan untuk melihat, ada apa ini Jangan-jangan Nenek Tua itu berniat tidak baik dan yang dilakukannya justru akan menyakiti putraku, bagaimana ini jika Nenek Tua itu yang mengatakan ingin menolong mengobati Putraku tapi dia mengobatinya bukan dengan cara menyembuhkan tapi justru membuat Putraku mati, mungkin Nenek itu berpikir dengan Putraku mati makan dia akan terbebas dari sakit yang dia rasakan saat ini, Astaga jika ini benar Aku harus mencegahnya, bagaimanapun juga Aku tidak ingin putraku kenapa-napa."


Ayah Dion terus bermonolog sendiri hingga membuat hati dan pikirannya merasa sangat takut dan resah, untuk itu Ayah Dion kembali bangkit dari duduknya dan berniat berjalan mendekati sang Nenek, ingin mengetahui lebih dekat Apa yang dilakukan Nenek Tua yang ada di depannya karena Ayah Dion tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada putranya untuk itu Ayah Dion harus memastikan jika yang dilakukan sang Nenek tidak menyakiti putranya Karena bagaimanapun juga seorang Nenek Mungkin bisa berpikiran sangat pendek agar sakit yang diderita oleh putranya segera sembuh maka dengan cara membunuh akan membuat putranya terbebas dari rasa sakit yang selama ini dia rasakan.


"Tetap diam ditempatmu jangan kemarin dan tidak perlu berpikiran Negatif Aku tidak akan menyakiti Putramu. "


"Deg....!


Jantung Ayah Dion seakan-akan berhenti mendadak ketika dia hendak melangkah tiba-tiba suara sang Nenek menghentikannya dan yang lebih mengejutkan sang nenek mengetahui apa yang ada dalam pemikiran Ayah Dion yang mana Dia sangat mengkhawatirkan putranya dan berpikir jika Nenek tua yang ada di depannya akan berniat buruk kepada putranya.


"Busyet, darimana Nenek Tua ini tau jika Aku mencurigaai dirinya, apakah ini kebetulan, hanya orang yang memiliki kemampuan cukup tinggi dalam ilmu kebatinan dia bisa mengetahui dan membaca isi hati orang lain apakah Nenek Tua ini, _____


" Pergilah ke halaman belakang ambil setengah tanah dan cepatlah bawa kesini. "

__ADS_1


Belum selesai Ayah Dion menerka-nerka dan berpikir tentang diri sang Nenek yang diam-diam ternyata memiliki indra kekuatan batin yang cukup kuat, di mana tanpa bicara dan tanpa menoleh sedikitpun dia sudah mengetahui apa yang ada dalam pikiran Ayah Dion serta apa yang sedang dilakukan oleh Ayah Dion membuat Ayah Dion semakin penasaran terhadap Nenek Tua yang berada di depannya, Tiba-tiba sangat Nenek sudah meminta dirinya untuk segera pergi ke halaman belakang.


Ingin rasanya menolak permintaan dari sang Nenek akan tetapi Entah mengapa Ayah Dion justru menerima dan menganggukkan kepala tanpa membantah dan bertanya apapun seakan-akan Apa yang dia lakukan bagaikan terhipnotis sebuah kekuatan aneh yang merasuk ke dalam jiwanya, sehingga tanpa sadar membuat dirinya patuh terhadap segala yang diperintahkan sang Nenek kepadanya.


Dengan cepat Ayah Dion segera keluar dari ruangan tempat di mana putranya sedang terbaring lemah.


Segera membuka pintu belakang kemudian dengan cepat mengambil Segenggam tanah seperti yang diperintahkan oleh sang Nenek kepadanya dan dengan sangat terburu-buru Ayah Dion segera membawa masuk ke dalam rumah setelah mengambil Segenggam tanah dan memberikannya kepada sang Nenek.


"Ini Nek tanahnya mau diapain?"


"Keterlaluan, sudah dibantu tidak berterimakasih, ditanya juga tidak mau menjawab, huuff suka-suka kamu sajalah Nek, pusing Aku memikirkan dirimu yang kau minta aneh-aneh. " gumam Ayah Dion dalam hati yang langsung mendudukkan bokongnya di atas kursi dengan posisi bersandar dan mulai memejamkan kedua bola matanya, sudah lelah dan pasrah apapun yang dilakukan Nenek Tua kepada Putranya smoga bukan suatu tindakan keburukan.


Tidak lama kemudian Ayah Dion mulai terlelap dalam tidur, Melihat Ayah Dion tertidur Sang Nenek tersenyum kemudian berjalan mendekati Ayah Dion dengan di tangannya membawa baskom berisi Air dingin dengan taburan bunga tujuh Rupa didalamnya.


"Bagus dia sudah tertidur Aku bisa bekerja dengan tenang, laki-laki ini tidak akan lagi mengagguku dan bertanya tentang banyak hal, "


Tampak Sang Nenek menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.

__ADS_1


"Bunga tujuh rupa yang dibawa oleh sang Nenek dipegang dengan erat di bawah mendekati ranjang putra dari Ayah Dion, perlahan-lahan sang Nenek menyentuh kening dari Putra dari Ayah Dion, pandangan matanya menatap sangat tajam tanpa berkedip.


"Rupanya ini penyebab dari Napas lemah dan pingsan diatas kepalanya tepatnya di belakang telinga ada cahaya merah, coba Aku lihat dengan kekuatan mata batin. "


Sang Nenek segera memercikkan Air yang berisi bunga tujuh Rupa diatas kepala Putra dari Ayahnya Dion, kemudian duduk bersila dan memejamkan kedua bola matanya sambil mulut komat kamit merapal sebuah mantra.


Namun tiba-tiba kedua bola mata Sang Nenek terbelalak dengan lebar bahkan kedua biji bola matanya seakan mau keluar dengan posisi yang tadinya duduk bersila tiba-tiba bangkit dan mundur hingga kursi di belakangnya tidak sengaja terdorong karena tubuh Sang Nenek yang terkejut.


Bunyi dari suara kursi yang terdorong oleh tubuh Sang Nenek yang terkejut membuat Ayah Dion yang kala itu terlelap dalam tidur terjaga dengan tiba-tiba karena suara berisik Yang mengaggunya.


"Apa... ada apa Nek? " tanya Ayah Dion yang kala itu juga ikut terkejut.


"Ternyata Putramu sudah meninggal, " jawab Sang Nenek dengan suara yang lemah.


"Apa? Meninggal, tidak, itu tidak mungkin Nenek yang membunuh Putraku kan, kemarin dan tadi dia masih baik-baik saja, pasti ini semua ulahmu Nenek Tua, ternyata dugaanku benar kamu bukan lah ingin menolong dan membantu Putraku untuk sembuh tapi kamu justru membunuh Putraku kurang ajar sekali kau harus membayar semua perbuatan kamu pada Putraku, "


Dengan sangat geram Ayah Dion segera bangkit dari duduknya kemudian dengan sangat kuat ingin memukul sang Nenek yang berada di depannya, tapi sungguh aneh dan sungguh di luar dugaan ketika pukulan itu hendak mengenai tubuh Sang Nenek dengan sigap Sang Nenek menangkap tangan dari Ayah Dion dan yang mengejutkan Ayah Dion tidak bisa bergerak dan juga tidak bisa berkutik seolah-olah kekuatan besar menahan dirinya, Hal itu membuat Ayah Dion semakin marah dan geram akan tetapi dia hanya bisa bicara tanpa mampu melakukan gerakan apapun karena tubuhnya tidak mampu dia gerakan.

__ADS_1


__ADS_2