
Rio melajukan motornya dengan kecepatan tinggi di mana Rio berharap agar dirinya cepat sampai di rumah Andrean di mana Rio ingin mengetahui apakah Andrean sudah berada di dalam rumah ataukah belum.
Karena rasa penasaran yang Rio miliki ketika dirinya melihat Andrean terbang dan menghilang dengan begitu cepat dan ketika Rio mencari Andrean tidak ada di sekitar sekolah sehingga membuat Rio memutuskan untuk mencari Andrean Ke rumahnya berharap Andrean sudah pulang.
Motor melaju dengan kecepatan cukup kencang kini sudah sampai di halaman rumah Andrean yang tampak terlihat sepi dan tak berpenghuni, semua pintu tertutup.
"Kok sepi apakah semua keluarga Andrean ada di dalam coba Aku ketuk pintunya.
" Tok, Tok, Tok! "
Rio menunggu beberapa saat akan tetapi tetap saja tidak ada suara langkah kaki yang akan membukakan pintu ataupun pergerakan pintu akan dibuka dari dalam hal itu membuat Rio menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan, Rio merasa sangat gundah dan resah di mana dia sendiri merasa sangat bingung Mengapa rumah Andrean kali ini begitu terlihat sangat sunyi.
" Bagaimana ini apa yang harus Aku lakukan sepertinya rumah ini memang benar-benar sepi tidak ada siapapun tumben sekali Tante Anjar dan Paman Rahmat tidak ada, biasanya mereka sudah berada di rumah Mengapa kali ini terlihat begitu sepi, apakah lebih baik Aku pulang atau menunggu disini, "
Rio yang masa bingung dan bimbang mondar-mandir di depan teras rumah Andrean sesekali melirik dan melihat ke belakang rumah berharap di belakang rumah ada taman Rahmat atau Bu Anjar yang baru saja berada di kebun belakang tapi setelah 10 menit menunggu Semua terlihat sepi dan tidak ada pergerakan apapun membuat Rio memutuskan untuk pergi dari rumah Andrean.
"Sudahlah Aku pergi saja tapi kalau dipikir-pikir Andrean kemana ya, Kenapa dia tidak ada di rumahnya tubuhnya terbang dan menghilang apakah yang kulihat itu benar dan nyata dan Aku tidak bersedang berhalusinasi pusing memikirkan Lebih baik Aku pulang saja. "
Bergegas Rio Naik ke atas motornya dan ketika Rio hendak mengemudikan motor tiba-tiba terdengar suara panggilan dari samping jalan di mana terlihat Pak Rahmat sedang berjalan dengan Pak Yai, sepertinya mereka baru saja menemui Pak Yai.
"Nak Rio..! kenapa kamu tidak masuk, "
"Paman di Rumah tidak ada siapapun tadi Aku sudah mengetuk berkali-kali tapi tidak ada sahutan suara Aku pikir Paman dan Bu Anjar sedang berpergian, "
"Oh, Bu Anjar lagi ke Rumah Bu joko untuk Arisan lha bukannya ada Andrean? "
"Andrean tidak bersama saya Paman, tadi Andrian bilang ingin pergi dengan teman yang lain tapi Rio tidak tahu Andrean pergi dengan siapa Rio pikir Andrean sudah sampai di rumah sehingga Rio datang ke sini untuk memastikan jika Andrean sudah berada di dalam rumah, tapi ternyata sampai waktu hampir satu jam aku menunggu Andrean tidak juga muncul dan tidak ada begitu juga dengan Paman dan Tante Anjar itu saya ingin kembali karena tidak menemukan kalian semua di rumah. "
__ADS_1
" jadi kamu tidak pulang bersama dengan Andrean, lalu pergi ke mana Andrean Mengapa sampai siang seperti ini dia belum sampai di rumah, pagi tadi Andrean juga tidak bicara apapun kepada Paman dia tidak mengatakan jika ingin pergi ke rumah temannya tapi Entahlah jika Andrean sudah bicara sama ibunya, Ayo sekarang masuk kita ngobrol di dalam, Paman membawa Pak Yai ke sini untuk berbincang-bincang kita masuk. "ajak Pak Rahmat kepada Rio yang kala itu berniat ingin pergi.
"Tidak Paman Rio pulang saja, Rio khawatir Mama mencari Rio karena ini juga sudah sangat siang dan Rio tidak bilang pada Mama jika akan pulang sore, Nanti Rio datang lagi ke sini untuk menemui Andrean Rio pulang dulu paman."
Rio melajukan motornya dengan kecepatan tinggi ketika dirinya sudah meminta izin kepada Paman Rahmat untuk pulang dan Paman Rahmat menganggukkan kepala.
Setelah Rio menghilang dari pandangan mata Pak Rahmat mengajak pak Yai untuk masuk ke dalam Rumah dan mempersilahkan pak Yai untuk duduk, Sementara Pak Rahmat bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk Pak Yai.
"Maaf saya tinggal kebelakang sebentar Pak Yai, "
"Mau apa Rahmat kau pergi kebelakang, sudah duduk saja tidak perlu repot-repot. "
" Tidak Apa Pak Yai Saya hanya ingin membuatkan kopi panas untuk pak Yai Sebentar saya ke belakang dulu. "
Ketika tubuh Pak Rahmat menghilang dari pandangan Pak Yai bangkit berdiri kemudian berjalan mendekati kamar di mana tempat Andrean beristirahat, pak Yai perlahan-lahan membuka pintu kamar Andrean yang tidak terkunci, dengan perlahan-lahan pak Yai masuk ke dalam kemudian menggelengkan kepalanya ketika melihat kamar Andrean yang begitu berantakan Semuanya serba tidak teratur dan tidak rapi.
"Hmmm, Anak Ini Kenapa tidak merapikan semua yang ada di dalam kamarnya benar-benar pemalas Vampir jelek ini, apakah jangan jangan dia Vampir yang terbiasa dilayani, "
Mendengar sebuah suara di belakangnya menirukan satu kalimat Vampir membuat pak Yai yang telah berucap dengan tidak melihat sekeliling merasa terkejut dan langsung menutup mulutnya kemudian mengulum senyum ketika Pak Rahmat sudah berdiri di belakangnya.
Karena belum mendapatkan jawaban Pak Rahmat kembali mengulangi pertanyaannya dan lagi-lagi Pak Yai hanya mengulung senyum kemudian mengajak Pak Rahmat untuk keluar kamar Andrean, dimana Pak Rahmat sendiri tidak pernah masuk ke dalam kamar Andrean dan ketika dia masuk ke dalam kamar Andrean Pak Rahmat merasa malu dan juga merasa tidak enak dikarenakan putranya terlihat sangat pemalas di mana ruangan kamarnya sangat berantakan dan tidak karu-karuan.
"Pak Yai, tadi bilang ada Vampir dimana Pak, Apakah di zaman modern ini masih ada Vampir sepertinya Vampir itu hanya ada di dongeng-dongeng, tapi saya dengar dengan jelas tadi Pak Yai bicara Vampir, tentang Vampir itu Vampir yang bagaimana dan di mana Pak Yai melihatnya Apakah hanya di dongeng. "
Pak Yai mengulum senyum kemudian duduk di depan meja di mana di depannya juga sudah ada satu gelas kopi panas yang baru saja dibuatkan oleh Pak Rahmat untuknya. tanpa menunggu perintah pak Yai langsung menuangkan kopi ke dalam piring kecil dan diminumnya.
Pak Rahmat yang masih penasaran dengan ucapan dari Pak Yai masih saja terus bertanya dan menunggu jawaban dari pak Yai dengan sabar di mana Pak Kyai kala itu sedang menuangkan kopi ke dalam piring kecil dan menyeruputnya,
__ADS_1
" lupakan saja tentang ucapanku tadi aku tadi hanya sekedar bicara Aku pun tidak tahu apa yang aku katakan untuk itu lupakan saja karena semua itu tidak penting.
Dengan senyum terpaksa Pak Rahmat menganggukkan kepala meskipun di dalam hatinya masih penasaran dan bertanya-tanya tentang kalimat vampire yang diucapkan oleh Pak Yai.
Pak Rahmat berpikir Apakah Pak Yai melihat vampire berada di sekitar rumahnya di mana rumahnya memang cukup dekat dengan hutan
Sungguh Pak Rahmat kini mulai berpikir Negatif dan merasa was-was karena Pak Rahmat khawatir jika tiba-tiba di dalam rumahnya ada vampir yang mungkin tersesat sehingga masuk ke dalam rumahnya dan pak Yai melihatnya ataukah memang ada vampir yang ingin mengacau rumahnya dikarenakan rumahnya berada di hutan dan tidak terlalu dekat dengan Rumah Warga Desa.
"Sekarang katakan apa tujuan kamu memanggilku kesini, apakah ada sesuatu yang penting? "
Pak Yai mulai bertanya ketika dirinya sudah menghabiskan kopi panasnya.
"Oh, itu ya Pak Yai, ada yang ingin saya bicarakan dengan Pak Yai, kebetulan Andrean tidak ada di Rumah jadi saya bisa bicara dengan bebas. "
" Memangnya kenapa Apakah semuanya ada sangkut pautnya dengan Andrean Apakah kamu mencurigai sesuatu pada diri Andrean ataukah kamu diperlakukan buruk oleh Andrean, sehingga Kamu memanggilku datang ke sini, "
"Tidak, Pak Yai Andrean tidak memperlakukan kami dengan buruk dan Andrean juga tidak mencurigakan cuma Saya merasa sangat sedih dan Asing karena Andrean sangat jarang sekali mau bercengkrama dengan kami, Andrean lebih banyak berdiam diri di dalam kamar dan juga segala sesuatu Andrean selalu melakukannya ketika kami tidak ada di dekatnya, seperti makan Andrean juga ingin sendiri dan Andrean juga tidak pernah terbuka pada kami sehingga hal itu membuat kami merasa sangat sedih sebagai orang tua hati saya benar-benar merasa kehilangan sekali, Andrean berada di dekat kami tapi kami merasa sangat jauh kami menginginkan Andrean bisa seperti dulu bisa bercerita dan bisa tertawa bersama lagi karena saat ini Andrean sangat sulit didekati dan juga seolah-olah dia berusaha menghindari kami itulah yang membuat saya memanggil Pak Yai untuk meminta solusi Apa yang harus saya lakukan agar Andrean bisa kembali seperti dulu. "
" Untuk sementara Aku juga tidak bisa memberikan solusi apapun pada kalian Aku hanya bisa memberikan satu Nasehat Biarkan saja apa yang diinginkan Andrean Jangan membuat dia marah ataupun tersinggung karena aku khawatir jika Andrean marah dia tidak akan kembali, memang sangat sulit mengatasi seorang anak yang sakit Hilang Ingatan di mana kita juga tidak tahu kapan dia akan sembuh, saranku kalian bersabar saja selama Andrean tidak memperlakukan buruk pada kalian, tapi jika Andrean memperlakukan buruk pada kalian, jangan tunggu lama-lama kalian harus cepat-cepat memberitahu Aku. "
"Oh, begitu ya Pak Yai, baiklah saya akan mengikuti saran dari Pak Yai, memang kita diharuskan untuk bersikap sabar dan memaklumi karena Andrean sakit hilang ingatan untuk itu dia tidak akan bisa bersikap sama seperti semula."
Pak Yai mengangguk-anggukkan kepala mendengar kalimat curhatan dari Pak Rahmat yang kala itu hatinya sedang bersedih dikarenakan sikap Andrean yang sangat jauh berbeda dan dirasa sangat Asing kepadanya.
Dimana waktu Andrean tidak terlalu banyak memiliki waktu untuk bisa bersama mereka bahkan Andrean lebih memilih berdiam diri di dalam kamar daripada duduk bercengkrama dengan kedua orang tuanya.
"Baiklah jika hanya itu tujuan dari Pak Rahmat memanggilku Aku pergi dulu karena ini sudah sangat siang dan akan segera sore saya ada janji dengan teman."
__ADS_1
"Ya, silahkan Pak Yai trimakasih atas saran dan Waktunya.
Pak Rahmat mengantar kepergian Pak Yai sampai di pintu, setelah Melambaikan tangan dan Pak Yai menghilang setelah memesan ojek online untuk pulang ke rumahnya Pak Rahmat kembali masuk ke dalam Rumah dan duduk termenung pikirannya begitu sangat resah dan bingung di mana tidak ada solusi yang membuatnya bisa merasa tenang dan bahagia, karena pada intinya dia hanya diminta untuk bersabar dan menunggu meskipun Pak Rahmat tidak tahu akan menunggu sampai kapan Andrean bisa kembali bersikap seperti semula dan selalu bermanja kepadanya.