Pacarku Vampir Tampan

Pacarku Vampir Tampan
Bab. 26.Masih Khawatir


__ADS_3

Tampak seorang wanita baru baya menatap tak percaya tertegun dan terkejut hingga membuat dirinya Diam Tanpa bisa bicara apapun.


Sungguh dirinya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan juga apa yang sudah didengarnya kedua bola matanya yang indah terlihat berkaca-kaca yang dalam hitungan detik buliran bening itu akhirnya jatuh membasahi pipinya yang putih dan halus.


"Kau menangis Anjar? "


Seorang wanita warga kampung yang ada di desa itu yang saat itu sedang berdiri bersama dengan ibu Dion itu Bu Anjar dan ternyata belum pergi dan pulang menatap heran kepada wanita yang ada di sampingnya, dimana wanita yang ada di sampingnya justru menangis ketika mengetahui putranya masih hidup.


"Aku,__


"Aku merasa ini ini hanyalah mimpi Bu Tanti Apakah benar yang kita lihat dan kita dengarkan ini Benarkah Putraku masih hidup, Benarkah Aku tidak sedang bermimpi? " tanya Bu Anjar dengan suara parau.


"Bu Anjar apa yang kita lihat ini adalah benar cepat pergi temui putramu akan tetapi kamu harus ingat satu hal putramu dikatakan oleh Pak Yai Dia sedang Hilang Ingatan untuk itu dia tidak akan mengenalimu dia tidak akan tahu siapa dirimu, Jika kamu tidak memperkenalkan diri dan kita dianjurkan untuk memanggil putramu dengan nama Andrean bukan lagi Dion kamu harus mengingat hal itu Bu Anjar, putramu bernama Andrean dan dia sedang Hilang Ingatan Semoga kamu tidak sakit hati, kecewa ataupun marah ketika kamu tidak diperdulikan atau di hargai oleh putramu karena putramu tidak akan sama seperti dulu dia pasti akan berubah mungkin akan menjadi orang asing bagimu."


Bu Anjar menganggukan kepala sambil mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi dengan bibir tersenyum meskipun senyum itu dipaksakan Bu Anjar mengangguk-anggukan kepala, kemudian mengajak Bu Tanti untuk menemani dirinya masuk ke dalam untuk menemui putranya yang sudah pasti belum mengenal dirinya. Karena putranya dikatakan sedang Hilang Ingatan.


" Maukah Bu Tanti menemani saya untuk menemui Putra saya di dalam?


Dengan senyum tersungging di bibir Bu Tanti menganggukan kepala kemudian meminta kepada bu Anjar untuk masuk rumah lebih dulu dan Bu Tanti mengikutinya dari belakang.


"Boleh mari Silakan Bu, mari kita lihat Putra Bu Anjar, Aku juga ingin melihat Dion dari dekat maksudku ingin melihat Andrean dari dekat."


Bu Anjar dan Bu Tanti bangkit dan melangkah masuk ke dalam rumah di mana di dalam rumah Pak Rusli, Pak Rahmat dan Pak Yai serta Andrean sudah berada di dalam ruang tamu di mana mereka sedang duduk bersama.

__ADS_1


Sesekali Pak Yai melirik kepada Andrean yang kala itu sedang duduk akan tetapi kedua bola matanya menatap Nanar melihat ke sekeliling rumah memandang seluruh ruangan yang ada di tempat itu, memang Andrean yang sesungguhnya adalah Pangeran Vampir masih merasa sangat asing berada di dalam rumah itu Di mana rumah itulah yang akan dia tempati dan dia tinggali untuk saat ini.


Hingga tiba masanya Jika dia bisa kembali ke kerajaannya, akan tetapi Pangeran Andrean pun tidak mengetahui jalan mana dan bagaimana akan bisa sampai ke kerajaannya yang entah ada di mana.


Pak Yai, menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan semua gerak-gerik yang Andrean lakukan tidak lepas dari pandangan mata pak Yai yang kala itu memperhatikan Andrean dengan sangat seksama, pak Yai merasa sangat khawatir dan juga was-was apabila pemuda yang ada di depan dan berada di rumah ini yang sesungguhnya dia adalah sosok Vampir yang sangat buas di mana kesehariannya adalah penghisap darah dari manusia, akan membuat kekacauan dan juga akan menyakiti serta membuat onar di rumah itu.


Seolah-olah memahami Pangeran Andrean melirik ke arah Pak Yai yang kala itu memandang dirinya, Pak Yai yang melihat lirikan dari pangeran Andrean segera memalingkan muka dan berpura-pura mengalihkan pandangan ke arah lain, agar Andrean sang pangeran Vampir tidak tahu jika dirinya sesungguhnya sedang menatap dan memperhatikan dirinya.


Pangeran Andrean yang melihat sikap dari Pak Yai tersenyum tipis kemudian menatap kepada Pak Rahmat yang kala itu sedang berbincang-bincang dengan Pak Rusli, dengan sangat lembut dan santun Pangeran Andrean mendekati Pak Rahmat Dan Hampir saja hal itu membuat Pak Yai terbang melompat karena khawatir Pangeran Andrean yang tidak lain adalah jelmaan dari pangeran Vampir akan melukai Pak Rahmat.


"Apa kegiatanku seharian ya Ayah? "tanya Pangeran Andrean kepada Pak Rahmat yang kala itu sibuk berbincang dengan Pak Rusli sambil tersenyum sesekali tertawa dan sesekali juga saling memukul tangan masing-masing apabila apa yang mereka bicarakan sangat kocak dan konyol.


" Oh, itu kamu hanya suka berolahraga pagi dengan sepedah gunung kamu ketika pagi menjelang dan ketika sore hari kamu membantu ibumu mencari beberapa kayu bakar di dekat hutan belakang dan terkadang kamu juga membantu Ayah mencuci motor serta menyiram tanaman yang ada di halaman Rumah ini, tidak terlalu banyak pekerjaan kamu dan untuk saat ini karena Ayah tahu kamu baru saja sembuh Ayah sarankan untuk kamu selalu beristirahat dan tidak perlu memikirkan pekerjaan apa yang akan kamu lakukan Kamu beristirahat saja agar kamu sehat dan siapa tahu kamu bisa cepat mengingat kami Dion, maksudku Andrean.


"Oh, begitu baiklah Ayah kalau begitu ijinkan Andrean beristirahat, karena saat ini Andrean ingin beristirahat. "


"Tidak perlu Ayah, Andrean ingat kamar itu, Ayah lanjutkan saja ngobrolnya. "


"Hmmm, baiklah. "


Ketika Andrean diizinkan untuk kembali beristirahat di kamarnya Andrean yang sesungguhnya jelmaan dari pangeran Vampir berniat untuk terbang dan melompat ke kamarnya, akan tetapi tiba-tiba di depannya Pak Yai Menghadang dengan pandangan mata mendelik dengan pandangan yang sangat tajam ke arahnya, Hal itu membuat Pangeran Andrean memahami kesalahannya sambil mendengus merasa sangat kesal akan tetapi juga membenarkan apa yang Pak Kyai khawatirkan Pangeran Andrean mulai melangkah dengan berjalan kaki menuju ke kamarnya, akan tetapi belum sampai Pangeran Andrean mencapai kamarnya dan Baru beberapa langkah tiba-tiba suara Bu Anjar yang baru masuk ke dalam menghentikan langkah kakinya.


Hal itu membuat Pangeran Andrean terpaksa menghentikan langkah kakinya kemudian menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


"Andrean Putraku, "


Pangeran Andrean yang menoleh kebelakang tepatnya menoleh ke sumber suara yang memanggilnya dan tampaklah Wanita paruh baya sedang memanggilnya, karena Pangeran Andrean belum pernah melihat Wanita yang ada di depannya sekarang, Pangeran Andrean mengernyitkan dahinya.


"Anda memangggil saya? "


"Tentu Nak, bagaimana keadaan kamu, Aku ini Ibumu, "


"Oh, "


Bu Anjar yang tidak bisa menahan rasa rindunya pada Putranya berniat untuk memeluk Pangeran Andrean akan tetapi apa yang ingin dilakukan Bu Anjar langsung dihalangi oleh Pak Yai.


"Tunggu Bu jangan kau peluk Andrean, "


"Pak Yai, Aku sangat merindukannya kenapa tidak boleh memeluk putraku, "


"Eng.. Itu, __ Ya Andrean kan baru sembuh dan dia hilang ingatan jadi untuk sementara Bu Anjar lebih baik menjaga jarak terlebih dahulu, "


"Oh, begitu, '


Sementara Pangeran Andrean yang memahami maksud dari Pak Yai melarang Bu Anjar memeluk dirinya hanya tersenyum tipis.


" Apa yang Pak Yai katakan itu benar, Ibu harus menjaga jarak dengan saya dan sekarang izinkan saya kembali ke kamar untuk beristirahat."

__ADS_1


"Oh, begitu, baiklah Nak, pergilah beristirahat besok kita akan ngobrol lagi, "


Dengan tersenyum datar Pangeran Andrean segera melangkah ke dalam kamarnya, akan tetapi sebelum itu Pangeran Andrean tersenyum miring pada Pak Yai yang jelas-jelas masih khawatir dan tidak bisa mempercayai dirinya.


__ADS_2