Pacarku Vampir Tampan

Pacarku Vampir Tampan
Bab. 68.Gumbus Geni


__ADS_3

Keempat laki-laki yang merasa penasaran dengan Andrean segera pergi meninggalkan tempat Makan mereka sebelum mereka menghabiskan menu yang mereka pesan, bahkan ada beberapa menu yang belum datang, semua mereka abaikan, meskipun perut terasa keroncongan.


Dari keempat laki-laki hanya tiga yang bangkit berdiri kemudian hendak melangkah pergi sementara satu lagi masih tetap berada di depan meja makan bahkan masih tetap menikmati makanan yang ada di depannya, seolah-olah dirinya tidak peduli dengan apa yang dilakukan ketiga temannya.


Ketika ketiga teman dari laki-laki itu hendak melangkah salah satu diantara mereka menoleh ke belakang, di mana Dia melihat salah satu temannya masih asik menikmati hidangan makanan yang ada di atas meja sontak saja hal itu membuat laki-laki itu mendelik dan berteriak sedikit kasar.


"Woi..!cepat ngapain lo masih makan? teriak dari salah satu ketiga laki-laki yang kini sudah bangkit berdiri yang mana mereka hendak berjalan keluar untuk mengejar Andrean yang kala itu sudah keluar dari tempat makan dimana Andrean sedang mencari Alya.


" Aku lapar, Aku mau isi perutku lebih dulu sayang semua makanan ini akan menjadi mubazir kalau kita tinggalkan, lagi pula kita membayar makanan ini dengan uang patungan bukan cuma uang kamu atau uang teman yang lain saja jadi sudah gak ku juga untuk makan dan menikmatinya, Jika kalian ingin pergi-pergi lah nanti aku akan menyusul sekarang aku mau menghabiskan makananku lebih dulu perutku sangat lapar dan tubuhku membutuhkan energi yang sangat banyak Jadi jika kalian mampu Kalian pergi saja tidak perlu memperdulikan aku nanti aku akan menyusul, " jawab salah satu teman dari ketiga laki-laki itu dengan santainya.


tentu saja apa yang dilakukan oleh laki-laki itu membuat ketiga temannya langsung menatap dirinya dengan pandangan mata yang sangat horor dan sangat tajam.


laki-laki itu hanya tersenyum nyengir melihat pandangan dari ketiga temannya yang kini terlihat tidak bersahabat.


"Awas kalau lama, ayo kita pergi biarkan Jono menghabiskan makanannya biar tambah buncit itu perutnya yang sudah satu gentoong. " seru salah satu laki-laki yang sepertinya menjadi pimpinan dari ke-3 temannya.


Mendengar perkataan dari teman yang sepertinya dianggap sebagai Bos dengan cepat kedua laki-laki itupun ikut melangkah pergi keluar dan kini tinggallah Jono seorang diri menikmati makan siangnya.


Pergi dengan sangat terburu-buru dan juga sedikit tergesa-gesa Andrean yang kala itu tidak lagi memperdulikan keempat orang laki-laki yang baru saja mendorong tubuhnya hingga hampir tterjatuh, sampai di luar merasa bingung dan heran karena lagi-lagi Andrean tidak menemukan keberadaan Alya dan ibunya yang seharusnya mereka berdua masih berada di sekitar tempat ini .


Dimana langkah dari seorang gadis dan ibunya pastilah tidak akan mampu berjalan dengan sangat cepat tapi yang mengherankan Mengapa mereka berdua tidak bisa Andrean temukan sementara Andrean datang dengan lebih cepat bahkan dengan menggunakan kekuatannya.


"Bagaimana ini bisa terjadi kenapa tidak ada? " lirih Andrean yang mulai frustasi karena tidak bisa menemukan Alya dan Ibunya.


ketika Andrean sedang sibuk mencari dan mengamati di sekitar tempat itu Aliya dan ibunya yang sampai saat ini belum Andrean temukan, tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkah kaki dari Andrean sebuah suara yang sangat keras dan cukup membuat Andrean sedikit heran dan terkejut.


"Itu, dia orangnya, " seru dari ketiga orang laki-laki yang kala itu keluar dan sengaja mencari Andrean dan mereka melihat Andrean sedang menengok ke kiri ke kanan seperti sedang mencari sesuatu melihat hal itu Andrean segera menoleh dan kedua bola matanya melotot tidak percaya karena tiba-tiba ke-3 laki-laki yang tadinya di dalam tempat makan mendorong dirinya hingga hampir jatuh dan sekarang justru keluar mengejar dirinya entah apa yang diinginkan oleh ketiga laki-laki itu Andra and menunggu mereka dengan tangan bersedekap di depan dada sambil kedua bola matanya menatap dengan pandangan mata yang intens.


"Ada apa? Mengapa kalian ke sini mencariku mau apa kalian? "tanya Andrean dengan pandangan mata yang sangat tajam.


Ketiga laki-laki yang diantaranya adalah satu orang laki-laki yang merasakan tangannya hampir remuk karena digenggam oleh Andrean, ketika dirinya hendak menampar dan memukul Andrean kini mundur satu langkah, jujur di dalam hatinya ada perasaan takut dan gemetar meskipun dirinya mencoba untuk tenang berada di samping kedua temannya, akan tetapi perasaan takut itu tetaplah ada, karena dirinya benar-benar merasakan kekuatan yang cukup besar sedang menemukan tulang-tulangnya ketika tangannya digenggam oleh pemuda yang ada di depannya.


"Aku dengar dari kedua temanku jika kamu itu sangat kuat dan memiliki kekuatan yang cukup tinggi sehingga kedua temanku merasakan kesakitan ketika kamu memberikan pelajaran kepadanya, "

__ADS_1


"Lalu, __


" Aku mau mencobanya Ayo kita berduel Aku ingin melihat seberapa besar kemampuan dirimuu Anak muda, Aku adalah Bos dari ketiga temanku mereka semua anak buah ku, jadi sekarang Aku ingin membuktikan sendiri kekuatanmu Ayo lawan Aku, "


mendengarkan tangan dari salah satu laki-laki yang ada di depannya Andrean tersenyum miring kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.


"Maaf, kali ini aku tidak berselera untuk meladeni dan bermain-main dengan mu untuk itu Aku tidak menerima tawaranmu karena Aku masih memiliki urusan yang lebih penting daripada melayani dan meneladani semua tantanganmu, Maaf Aku pergi dulu, Aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu pergilah dan carilah orang lain jika kau ingin mengajaknya untuk bermain-main." ucap Andrean dengan tenang dan hal itu semakin membuat salah satu dari ketiga laki-laki yang ada di depannya semakin geram dan kesal.


"Cuuiih, sombong sekali kau Anak muda, apakah kamu tidak pernah mendengar Nama Gumbus Geni? "


"Aku dikota ini baru bagaimana Aku bisa tau Namamu Gumbus Geni dan bagiku nama siapapun tidak terlalu penting untuk aku ingat, sudahlah jangan mengagguku Aku sedang ada urusan kalian pergilah," ucap Andrean dengan santainya.


Setelah mengucapkan itu Andrean melangkahkan kaki meninggalkan ketiga orang laki-laki yang ada di depannya termasuk Gumbus Geni.


Melihat tingkah dan kelakuan dari Andrean Gumbus Geni sebagai pimpinan di antara mereka semakin geram dan kesal bahkan mengumpat dan memaki Andrean yang kala itu melangkah pergi.


"Tunggu Brengsek, kau tidak bisa pergi dengan begitu saja, kamu harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah kamu lakukan kepada kedua Anak buah ku yang karena ulahmu mereka kesakitan."


Andrean segera menghentikan langkah kakinya kemudian menoleh ke belakang tidak lama kemudian Andrean menyunggingkan sebuah senyuman miring kepada mereka dan dalam hitungan detik Andrean kembali membalikkan badan dan melangkah pergi tidak lagi mau memperdulikan ataupun mendengarkan teriakan dari Gumbus Geni yang sangat geram dan kesal karena dirinya sudah diabaikan.


Karena Andrean tidak ingin kehilangan jejak untuk yang kedua kalinya untuk itu Andrean Mengabaikan semua teriakan dari Gumbus Geni.


Dengan Wajah merah padam Gumbus Geni menatap tajam ke arah Andrean yang kala itu Melangkah dengan perlahan meninggalkan mereka bertiga sementara Gumbus Geni diam-diam meraih pisau yang terselip di belakang punggung bajunya.


Kemudian sambil tersenyum miring Gumbus Geni memainkan pisau yang ada di tangannya kemudian Melangkah dengan perlahan-lahan mengikuti langkah kaki dari Andrean.


Gumbus Geni sengaja tidak langsung memberikan serangan ataupun melemparkan pisaunya ke arah Andrean dikarenakan di tempat itu masih terlalu ramai lalu lalang orang yang keluar masuk dan ingin pergi ke tempat warung makan.


Sengaja Gumbus Geni mencari tempat yang sedikit sunyi di mana apa yang akan dilakukan kepada Andrean tidak akan ada yang tahu, bahkan jika terjadi sesuatu dengan Andrean maka tidak akan ada yang akan menolong Andrean dan semua akan aman terkendali tanpa ada yang mengetahui siapa yang melakukannya.


Senyum penuh kelicikan tersungging dari bibir Gumbus Geni yang kala itu berjalan dengan sangat perlahan mengikuti langkah kaki dari Andrean yang mana kala itu Andrean masih sedang berjalan mencari Alya dan ibunya.


Hingga akhirnya saat yang ditunggu-tunggu telah tiba di mana Andrean melewati jalanan yang cukup sepi di mana tidak ada seorangpun di sana.

__ADS_1


Dengan tersenyum miring Gumbus Geni mulai melakukan rencananya karena dia yakin kali ini dia akan bisa membuat Andrean bertekuk lutut kepadanya, pisau yang dia bawa akan dia lemparkan dan sudah bisa dipastikan pemuda yang ada didepannya pasti akan terluka, pisau itu mengenai Andrean yang kala itu tidak menyadari bahaya yang sedang mengancam dirinya.


"Bersiaplah Anak muda, Karena kamu telah bermain-main denganku dan berani melawan perintahku Maka jangan salahkan Aku jika kali ini tubuhmu akan tergores dan berdarah karena pisau tajaamku, salah sendiri tidak mau mendengarkan Aku dan salah sendiri berani menentang semua keinginanku siapapun yang berani menentang keinginan dari Gumbus Geni maka dia akan menerima semua akibatnya, Bersiaplah aku yakin kali ini kamu pasti akan minta ampun kepadaku, kemudian kamu akan mengakui kehebatanku Tidak ada yang lebih hebat dari kuat disini Selain Gumbus Geni hahaha.


"Bos, apakah ini tidak curaang Namanya? " tanya salah satu anak buah dari Gumbus Geni dengan polosnya di mana salah satu dari anak buah Gumbus Geni yang satu ini adalah laki-laki yang cukup keterbelakang karena kebodohannya dan selalu berbuat dan bertindak secara gegabah tanpa memikirkan akibatnya.


Seperti ketika dirinya Hendak memberikan tantangan kepada Andrean kala itu sehingga dirinya yang ingin memukul Andrean akan tetapi tangannya digenggam Andrean dan dia merasakan seluruh tulang-tulangnya seakan remuk dan dirinya justru merintih kesakitan.


"Diam, kamu tidak perlu menggurui diriku semuanya boleh dilakukan cukup kamu menjadi penonton saja karena kamu adalah anak buah yang tidak becus dan bodoh karena kamu tidak bisa menangani anak muda itu dan hal itu bukan salahku karena kebodohan dirinya yang tidak waspada jika terjadi sesuatu kepadanya salah dia sendiri menyulut emosi kepada orang lain dan tidak mau berjalan dengan berhati-hati Jadi cukup kamu diam, Apabila kamu tidak bisa melihat dan takut tutup kedua matamu Jangan berisik dan jangan sekali-kali kamu menggangguku, Jika kamu menggangguku maka kamu yang akan mendapatkan hukuman dariku karena kamu yang akan menjadi pengganti dari Pemuda itu apakah Kamu mengerti? seru Gumbus Geni kepada salah satu anak buahnya.


Tentu saja apa yang dikatakan Gumbus Geni kepada anak buahnya membuat salah satu anak buahnya itu langsung terdiam.


Dia sangat tahu dan memahami sikap dan watak dari Gumbus Geni dia tidak pernah main-main dengan ucapannya bahkan Gumbus Geni tidak pernah memberikan ampunan jika orang itu benar-benar sangat menyakiti dirinya untuk itu Gumbus Geni sangat disegani dan ditakuti Anak buahnya.


Setelah melihat anak buahnya terdiam dan tidak lagi mengganggu konsentrasi dirinya, Gumbus Geni mulai menatap pisau yang ada digenggaman tangannya kemudian mengarahkan pisau yang berwarna putih mengkilap lurus kedepan dengan Padangan mata menyipit.


"Ini sudah tepat dan kurasa inilah Waktu yang tepat untuk melemparkan pisau ini. "


Untuk sejenak pisau yang ada di tangan Gumbus Geni Setelah dia bolak-balik untuk dilihat diarahkan lurus ke depan kemudian diputar-putar di tangannya dan dalam hitungan menit, Gumbus Geni langsung melemparkan Pisau ke arah Andrean dengan kekuatan dan tenaga yang cukup kuat sehingga pisau itu meluncur dengan sangat cepat ke arah Andrean.


"Hiaaaaa.... srruuuuuuttt...!


"Sekarang tamatlah riwayatmu, "Desis Gumbus Geni sambil tersenyum miring.


Pisau milik Gumbus Geni melayang dengan sangat cepat tepat kearah Andrean yang kala itu sedang berjalan lurus kedepan.


Andrean yang memiliki kekuatan dan insting cukup tinggi mengetahui ada gerakan aneh di belakang tubuhnya segera menundukkan kepala, sehingga pisau yang hendak mengarah ke punggung dan kepalanya tidak bisa melukai dan menggores tubuhnya dikarenakan Andrean yang kala itu tiba-tiba membungkuk sambil menundukkan kepala.


"Sial Kenapa gagal, rupanya anak itu sedang beruntung karena dirinya membungkuk, tapi semua tidak akan semudah itu Aku menyerah, Aku masih memiliki simpanan pisau yang lain dan kali ini Aku yakin pasti kamu tidak akan bisa lolos karena tidak selamanya keberuntungan akan berpihak kepadamu." gumam Gumbus Geni sambil tersenyum miring.


sementara Andrian yang kala itu membungkuk kini mulai berdiri dengan tegak sambil terus berjalan dengan bibirnya mengulum senyum.


"Rupanya ada yang ingin bermain-main denganku baiklah Aku mau melihat sampai dimana kekuatan dari Pisau pisaumu itu, silahkan lempar dan serang Aku jika tadi Aku berpura-pura membungkuk tapi untuk yang kedua kali Aku tidak akan begitu, kamu akan melihat apa yang akan Aku lakukan padamu, "

__ADS_1


Gumbus Geni menoleh ke belakang ketika Serangan yang dia lakukan kepada Andrean gagal dikarenakan Andrean membungkukkan badannya dan Gumbus Geni yang merasa tersinggung dengan ulah kedua anak buahnya yang justru menertawakan dirinya dalam diam di mana mereka tertawa akan tetapi tidak terdengar dengan jelas, membuat Gumbus Geni menoleh kebelakang dan menatap keduanya saling bergantian dengan pandangan mata yang sangat tajam membuat kedua Anak buahnya menunduk dan langsung terdiam.


__ADS_2