
Dengan Wajah kesal dan perasaan geram Ibu Kevin menatap kepergian Kevin dengan perasaan kesal dan marah di mana dengan buru-buru ibu Kevin juga segera turun dari kamar lantai atas milik Kevin.
Kevin yang turun lebih dulu segera duduk di ruang tamu kemudian mengambil sebuah koran yang ada di atas meja dan membukanya sementara Bu Kevin yaitu Rumini juga ikut Duduk di samping Putranya sementara Kevin berpura-pura tidak peduli dan bersikap biasa saja kepada sang ibu yang terlihat sangat marah dan kesal kepadanya.
"Bagus ya, Ibu bicara tidak sedikitpun kamu pedulikan,"
"Ibu itu Bicara apaan sih sudah kalau Ibu capek ibu duduk saja tidak perlu marah-marah apalagi mencari kesalahan orang lain, Kevin tidak pernah mengerti apa yang ibu maksud. "
" Ibu tidak ingin kamu terlalu dekat dengan Alya Apalagi kamu bersikap baik pada anak itu ingat Alya itu anak dari mantan kekasih Ayah mu, bisa saja ibunya Alya akan menggoda Ayahmu, agar ayahmu mau menerima dirinya lihat saja Bagaimana sikap Ayahmu kepada mereka, '
"Kevin tau Bu, tenang saja Aku akan buat Alya dan Ibunya pergi dari sini, "
"Apa kamu serius? '
" Sudahlah Ibu terang saja dan semua serahkan kepadaku aku akan urus semuanya Ibu tidak perlu memikirkan hal itu karena aku punya cara tersendiri untuk membuat mereka pergi. '
"Baiklah, tiga hari Ibu memberikan kamu kesempatan untuk melakukan rencanamu, "
"Tenang Bu semua pasti beres. "
Ibu Kevin yaitu Rumini menarik napas panjang yang kemudian menghembuskan dengan kasar bangkit berdiri kemudian berjalan meninggalkan Kevin yang kala itu masih duduk di ruang tamu ibu rumini kembali pergi masuk ke dalam kamarnya Di mana kamar Ibu Rumini tidak berada di lantai atas, di lantai atas hanya ada kamar Kevin dan kamar Alya sementara Ibu Alya berada di kamar bawah sebenarnya Ibu Alya dan Alya ingin tidur bersama Akan tetapi karena Pak Rojak yaitu Ayah Kevin memberikan tempat mereka sendiri-sendiri.
Ayah Kevin beralasan karena Alya sudah besar dan Alya pasti memiliki banyak kesibukan di dalam kamarnya maka diberikan kamar sendiri untuk Alya.
kepergian dari ibu Rumini membuat Kevin tersenyum niring menatap pintu kamar mandi yang ada di ujung ruangan di mana di dalam kamar mandi Alya sedang mencuci baju.
Dengan perlahan-lahan Kevin mulai bangkit dari duduknya kemudian berjalan naik ke lantai atas, Kevin tidak langsung masuk ke dalam kamarnya akan tetapi Kevin masuk ke dalam kamar Alya setelah menegok ke kanan dan ke kiri Kelvin segera meraih kunci yang ada di dalam kamar Alya.
"Akan ada suprise untuk kamu malam ini Gadis Galak, enak saja kamu bersikap kasar dan dingin padaku di sekolah untuk itu kamu akan tau akibatnya, lihat saja, apa yang akan Aku lakukan padamu. "
setelah setelah selesai mencuci alias segera menjemur baju-baju di halaman belakang hari sudah mulai malam dan Adapun naik ke kamar atas.
Seperti biasanya Ayah Kevin yaitu Pak Rojak setelah pulang dari kerja dan ketika hari sudah menunjukkan pukul 07.00 mereka melakukan makan malam bersama dalam satu meja meskipun dengan hati kesal dan dengan hati tidak suka Ibu Kevin yaitu ibu rumini terpaksa berpura-pura tersenyum dan berpura-pura senang ketika Alya dan ibunya juga ikut makan dalam satu meja sementara Kevin bersikap cuek dan dingin Karena Kevin sudah memiliki satu rencana yang akan dia lakukan malam ini.
"Alya bagaimana sekolah kamu hari ini apakah ada yang sulit?
" Tidak Om, semua baik-baik saja, "
Ayah Kevin manggut-manggut mendengar perkataan dari Alya pancaran Wajahnya begitu sangat terlihat jelas jika Ayah Alya sangat perhatian dan sangat menyayangi Alya hal itu bisa dilihat oleh ibu Rukmini dan Kevin yang diam-diam perhatikan gerak dari Ayah-nya mulai dari mengambilkan beberapa lauk dan juga menuangkan minum yang seharusnya Alya sendirilah yang melakukan akan tetapi semua sepertinya Ayah Kevin yang melakukan.
Sekilas tampak terlihat seperti seorang Ayah dan anak itu sangat perhatian dan begitu sangat menyayangi, Bu Rukmini berdeham kecil untuk mengalihkan perhatian Ayah-nya yang kala itu selalu saja tertujuh pada Alya di mana lauk dan segalanya yang dibutuhkan Alya Ayahnya penuhi.
"Bagaimana kabar Ayah di kantor apa semua beres, "
"Beres Bu, "
Alya yang merasa tidak nyaman berada dalam satu ruang meja makan dan menikmati makan malam secara terburu-buru segera bangkit dari duduknya untuk mencuci bekas piring yang dia gunakan untuk makan akan tetapi tangan Ayah Alya menahannya,
"Tunggu Nak, kamu mau kemana? "
Alya yang tidak menyangka tangannya dipegang oleh Ayah Kevin menatap tajam pada Ayah Kevin dengan tersenyum Ayah Kevin minta maaf pada Alya, sementara Ibu Kevin menatap tajam kepada ayah Alya Begitu juga dengan ibu Alya yang tidak kalah menatap tajam pada Ayah Kevin. hal ini karena apa yang dilakukan oleh Ayah Kevin sungguh sangat terlihat sekali jika sedang memberikan perhatian kepada Alya.
"Hei ada apa ini Aku hanya memegang tangan Putri dari temanku kalian sudah menatapku dengan pandangan horor begitu, Alya tunggu bawa juga piring Om ini, "
dengan sedikit senyum keterpaksaan Alya menganggukkan kepala menerima piring yang diberikan kepadanya.
"Ini juga bawa dan cuci sekalian setelah itu bersihkan meja makan dan pel, "
tanpa menjawab Alia langsung meraih piring yang ada di tangan buruk Mini dan juga piring yang ada di depan ibunya kemudian berdengan sedikit rusak secara melangkah pergi ke dapur sementara Ayah Kevin menatap tajam kepada guru ini.
"Kamu ikut Aku Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu cepat, "ajak Ayah Kevin kepada Ibu rumini yaitu ibunya Kevin yang kala itu sempat terkejut dan heran karena sangat terlihat jelas jika Ayah Kevin yaitu Pak Rojak terlihat sangat kesal dan marah padanya tidak bisa dipungkiri wajahnya begitu menunjukkan kesalahan dan kemarahan yang dalam.
Dengan sedikit buru-buru akhirnya ibu rumini mengikuti langkah kaki dari Ayah Kevin setelah ibu rumini masuk ke dalam kamar Ayah Kevin segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam secara keras dan kasar, hal itu sempat membuat Ibu Rukmini terkejut dan heran karena apa yang dilakukan oleh Pak Rojak yaitu Ayah-nya Kevin adalah suatu hal yang belum pernah dilakukan kepadanya bersikap kasar marah dan sangat terlihat jelas jika sedang emosi.
"Braaaakkk."
Suara pintu yang ditutup pun berbunyi dengan sangat keras dan sudah pasti bisa didengar oleh Kevin dan ibu Alya yang kala itu juga hendak pergi keluar ruang makan.
"Mas Kamu ini kenapa Ada apa denganmu Kenapa menutup pintu dengan sangat keras dan kasar mau pamer mau memperlihatkan kepada mantan kamu itu jika kamu itu tidak baik kepadaku Jika kamu itu sangat kabur kepadaku begitu agar aku terlihat tidak berharga sama sekali di depanmu begitu kan tanya ibu rumini dengan sangat keram dan kesal Karena sejujurnya Ibu rumini benar-benar merasa sangat marah dengan sikap Pak Rojak yang benar-benar sangat keras dan kasar hal itu membuat Ibu rugi ini malu karena dilakukan di hadapan mantan kekasihnya yaitu ibunya Alya.
bukannya menjawab Pak Rojak hanya tersenyum miring tanpa memberikan penjelasan ataupun mengelak dari tuduhan istrinya bahkan Pak Rojak sama sekali tidak berniat untuk menghibur dan menenangkan hati ibu Rumini yang sedang panas meluap dan mendidih karena perasaan kesal dari sikap yang sudah dia lakukan kepadanya.
Sontak saja sikap yang sangat dingin dan biasa saja membuat Ibu Rumini semakin geram dan kesal kepada Pak Rojak.
"Kamu benar-benar keterlaluan Mas. "
Tampak Pak Rojak tersenyum miring mendengar perkataan dan amarah dari istrinya yaitu Ibu Rumini yang kala itu merasa sangat tersinggung dan kecewa dengan sikap Pak Rojak yang marah kepadanya dengan membanting pintu dengan sangat kasar, di mana ketika membanting pintu suaranya terdengar oleh ibu Alya yaitu seorang wanita yang sangat dibenci oleh ibu Rumini.
"Apa memang seperti itu sikapmu selama ini kepada Alya dan ibunya? "
" Emangnya kenapa kalau aku bersihkap seperti itu Apakah salah, Aku hanya meminta Alya untuk membawa piringku itu saja setelah itu membersihkan dan mengepel itu adalah hal biasa sudah tugasnya karena dia di rumah ini hanya menopang dan dia hanya anak dari temanmu dan sudah pantas jika dia di sini juga harus bertugas seperti seorang pembantu, ___
"Plaaakk...!
__ADS_1
Sebuah tamparan keras yang tanpa Bu Rumini sadari melayang dan berdarat ke wajahnya di mana selama ini Pak Rojak tidak pernah bersikap kasar ataupun keras kepadanya akan tetapi hari ini sikap Pak Rojak benar-benar sangat menyakitkan dan juga sangat dingin kepadanya bahkan terlihat sekali jika Pak Rojak sangat marah ketika Alya dikatakan sama dengan pembantu.
Bu Rumini memegang wajahnya yang terasa panas akibat tamparan dari Pak Rojak yang kala itu berdiri tepat di depannya Wajah Merah padam dan juga mata yang mulai berkaca-kaca dan akhirnya jatuh membasahi di pipi Bu Rumini.
"Keterlaluan kau tega Mas, sekarang kamu benar-benar sudah sangat berubah sekarang kamu lebih perhatian dan lebih sayang pada anak itu daripada keluargamu sendiri, dia itu anak mantanmu aku tahu diantara kalian ada hubungan, Aku tahu Di Antara Kalian dulu memiliki rasa tapi sekarang kamu itu sudah berkeluarga, kamu sudah punya anak kamu juga sudah punya istri Seharusnya kamu tidak memperdulikan Mereka lagi seharusnya mereka pergi dari rumah ini dan kamu tidak perlu kamu biarkan tinggal di rumah ini,apa Mas pikir aku menerima semua ini kamu biarkan mereka tinggal bersama kami, kamu tidak memikirkan perasaanku sama sekali kamu tidak memikirkan perasaan kamu sama sekali kamu hanya memikirkan kepentingan dan kesenangan dirimu pribadi yang mana kamu bantu wanita yang pernah menjadi kekasihmu atau jangan-jangan kamu ingin menikahinya lagi karena wanita itu sangat spesial dan Mas masih mencintai lihat saja bagaimana perhatian Mas kepada Alya, makan saja Mas Ambilkan lauknya, bahkan minumpun diambilkan sekalian diambilkan semuanya seolah olah Mas sedang melayani Putri Mas Sendiri, jangan jangan Alya itu memang anak harammu Mas, "
"Rumini, Cukup. Aku tidak mau mendengar apapun darimu, dan tidak ada yang bisa menolak semua keinginan dan peraturanku, Aku perintahkan kepada kamu untuk menerima Alya dan ibunya di rumah ini Bahkan perlakukan mereka dengan baik Jangan memperlakukan mereka dengan sangat buruk apalagi menganggap mereka seorang pembantu jika hal itu kamu lakukan kamu akan tahu akibatnya, Aku lebih baik kehilangan kamu dari pada kehilangan mereka ingat itu, " ucap Pak Rojak yang langsung berdiri membuka pintu dengan sangat keras dan kasar kemudian keluar dan menutupnya juga dengan kasar meninggalkan Bu Rukmini seorang diri di dalam kamar
"Mas..!
Ibu Rumini berteriak dengan sangat keras dan histeris dia tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Pak Rojak suaminya di mana Pak Rojak lebih memilih orang lain yang dulunya adalah mantan kekasihnya daripada keluarganya sangat terlihat jelas jika Pak Rojak masih memiliki rasa dan cinta kepada mantan kekasihnya hal itu semakin membuat panas dan darah Bu Rukmini mendidih.
"Benar-benar menyebalkan Awas saja kalau Mas Rojak sudah Tidak ada di rumah aku kan buat kamu segera pergi dari Rumah ini, Mas Rojak benar-benar keterlaluan dia benar-benar memilih mempertahankan mantan pacar dan anaknya untuk tetap tinggal di rumah ini daripada menghargai perasaan istri dan anaknya yang tersakiti di Rumah."geram Bu Rumini dalam hati.
Pak Rojak mengetuk pintu Bu Alya yang kala itu sudah berada di dalam kamarnya sementara dari jarak yang cukup jauh akan tetapi masih bisa terlihat tampak Kevin sedang memperhatikan Apa yang dilakukan oleh Ayah-nya di mana ayahnya sedang mengetuk pintu kamar dari wanita lain.
Kevin tersenyum miring melihat kelakuan Ayah-nya yang tidak memperdulikan ibunya akan tetapi masih memperdulikan dan memberikan perhatian kepada wanita lain yang diketahui Kevin dari ibunya yaitu Bu Rumini jika wanita yang ada di dalam rumahnya adalah mantan kekasih dari Ayahnya di mana sebelum bertemu dengan ibunya di antara mereka berdua ada hubungan dan hal itu pasti sangat menyakitkan Bu Rumini untuk itu Kevin juga bertekad akan membuat Alya dan ibunya segera pergi dari rumah akan tetapi Kevin tidak akan berbuat ceroboh, dimana Kevin mebcaru waktu yang tepat untuk melakukan semua rencananya di mana rencananya tidak akan bisa dia lakukan ketika ayahnya berada di rumah karena ayahnya pasti akan menjadi penghalang dari semuanya.
Untuk itu Kevin menunggu waktu yang tepat di mana tidak akan ada yang bisa membantu Alya dan ibunya untuk tidak pergi dari rumahnya.
"Lihat saja Aku akan buat kalian pergi dari sini enak saja mau hidup menumpang dan selalu meminta bantuan dari Ayahku dan kalian hanya meminta dan membuat keuangan di keluarga ku berkurang, ini semua gara-gara Wanita tua itu dan anaknya Alya, tenang saja Bu Aku akan buat mereka pergi jangan sebut Aku Kevin kalau Aku tidak bisa membuat pergi mereka dari sini. " Gumam Kevin dalam hati.
Di ruang bawah tepatnya di depan pintu kamar Ibu Alya, pak Rojak sedang berdiri menunggu pintu dibuka dari dalam..
Tidak lama kemudian pintu pun terbuka tampak Bu Alya sedikit terkejut ketika mengetahui siapa yang mengetuk pintu di depan kamarnya sangat terlihat jelas jika Bu Alya berusaha untuk menutup kembali pintu kamarnya akan tetapi tangan dari Pak Rojak yang menahan pintu membuat Bu Alya tidak bisa menutup pintu kamarnya, semua yang terjadi di antara Pak Rojak dan Bu Alya terlihat jelas oleh Kevin yang kala itu berdiri di teras depan kamar atasnya.
Kevin tersenyum miring melihat pemandangan itu, Kevin semakin yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan di antara mereka berdua karena masih terlihat jelas Bagaimana sikap Bu Alya yang berusaha untuk menghindar dari Pak Rojak Sementara Pak Rojak berusaha untuk selalu mendekat dan mencari Kesempatan agar bisa berduaan dengan Bu Alya.
"Maaf, Mas saya mau beristirahat, "
"Tunggu sebentar Aku mau bicara, "
"Bicara apa Maaf sepertinya tidak sopan jika Mas Rojak masuk ke dalam kamar saya sementara kita bukan muhrim jika ingin bicara maka bicaralah saya akan mendengarkan disini. "
Tampak Pak Rojak menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan raut wajahnya menampakan sebuah wajah kekecewaan yang dalam di mana Dirinya sesungguhnya ingin masuk ke dalam akan tetapi dilarang oleh ibu Alya Dengan mengatakan diantara mereka bukan muhrim dan tidak enak Jika dilihat orang atau jika ada yang melihat karena hal itu bukanlah suatu hal yang benar dan boleh dilakukan.
" aku tidak sebaiknya aku bicara di dalam sebentar saja aku rasa tidak ingin tahu Ayolah hanya sebentar saja tidak ada yang kita lakukan di sini Mengapa kita harus khawatir dan memikirkan orang lain, "
" Bukan begitu Mas tapi kita kan bukan muhrim dan akan sangat berdosa jika saya mengijinkan Mas Rojak untuk masuk ke dalam kamar saya selain akan membuat terjadinya sebuah fitnah bisa jadi apa yang kita lakukan juga sangat menyakiti orang-orang yang telah melihat mereka akan berpikiran negatif Bahkan mereka mungkin bisa berpikir jika kita, ___
IBu Alya tidak melanjutkan ucapannya dia diam dan menatap kosong ke depan Sementara Pak Rojak hanya mengulum senyum dia mengetahui ke arah mana arah pembicaraan dari wanita yang ada di depannya meskipun hubungan di antara mereka memang sudah terpisah dan meskipun di antara mereka berdua sudah tidak ada hubungan apapun tapi hati dari Pak Rojak yang sejak dulu sampai saat ini masih menyimpan rasa suka dan cinta kepadanya, Pak Rojak bisa memahami dengan jelas maksud dan pemikiran dari wanita yang ada di depannya di mana wanita yang ada di depannya merasa sangat serba salah Dan juga sangat takut dan khawatir jika istrinya yaitu Rumini mengetahui semua ini dia akan marah dan juga akan sakit hatinya.
Dengan senyum tersungging di bibir Pak Rojak bersikap Acuh dan seolah-olah tidak mendengarkan apa yang wanita di depannya larang di mana dia tidak diizinkan masuk ke dalam kini, justru menyingkirkan tangan Bu Alya yang kala itu memegang pintu dan dengan gerakan sedikit cepat Pak Rojak justru menutup pintu dari dalam.
"Mau apa pakai menutup pintu segala kalau mau bicara Kenapa pintunya harus ditutup tanya Bu Alya dengan sedikit Panik di mana Dia melihat ada gelagat aneh dari Pak Rojak yang tidak seperti biasanya bahkan gerakan aneh ini sangat membuat Bu Alya menjadi cemas dan takut.
"Memangnya kenapa, apa kamu takut, atau ada sesuatu yang tidak kamu ceritakan padaku sehingga kamu merasa takut "
"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan cepat Bicaralah Apa yang ingin kamu bicarakan padaku setelah itu, Cepatlah pergi dari kamar ini Aku tidak ingin siapapun melihat kamu berada di dalam kamarku karena aku tidak ingin mereka berpikir jika aku merayu mu untuk datang ke sini,"ucap Bu Alya dengan suara yang cukup keras dan dengan Nada yang dingin dimana Bu Alya sangat terlihat jelas jika dirinya sedang merasa kesal dan khawatir.
Pak Rojak mengulum senyum ketika melihat kepanikan dari wajah Bu Alya yang kala itu benar-benar sangat terlihat jelas diraut wajahnya yang masih menyiratkan sisa-sisa wajah kecantikannya.
" Kamu tenang saja tidak perlu takut dan tidak perlu merasa cemas, santai saja semua bisa ku atasi dan semua bisa aku tangani kamu tidak perlu mengkhawatirkan semuanya karena semua aku yang akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu, tapi ngomong-ngomong kenapa kamu sangat takut dan khawatir sekali apa Kamu pikir aku akan berlaku dan berbuat yang macam-macam di sini aku bukan seperti itu kan? "
Ibu Alya hanya tersenyum kecut mendengar perkataan dari Pak Rojak, kenangan masa silam tiba-tiba terlintas dalam ingatannya di mana suatu hal yang sangat menyakitkan dan berusaha dia lupakan harus kembali terbuka dan melintas dalam angannya perasaan benci kesal Semua menjadi satu di dalam hatinya Bu Alia berusaha untuk bersikap tenang dan berusaha tidak menunjukkan sesuatu hal yang bisa mencurigakan di depan laki-laki yang ada di depannya.
" sekarang Katakan padaku Apa yang ingin kamu bicarakan setelah itu aku mohon keluarlah karena Aku ingin beristirahat aku capek dan lelah aku ingin tidur lebih awal kamu tidak keberatan kan?
Ntar aja ke mangut manggut mendengar perkataan dari ibu Alya bibirnya terus mengulum senyum.
" Jika seperti ini aku masih merasa saat-saat kita masih menjadi, ____
" Tolong bicara apa yang ingin kamu katakan dan hal apa yang ingin kamu bicarakan, Aku tidak ingin berbicara suatu hal yang sudah berlalu dan tidak penting untuk aku dengarkan untuk saat ini aku memang masih membutuhkan tempat tinggal dan juga tempat untuk berteduh tapi Nanti jika aku sudah mendapatkan pekerjaan Aku akan pergi dari sini bersama dengan putriku dan aku tidak akan lagi mengganggu keluargamu atau merepotkan dirimu." tegas Bu Alya dengan suara yang penuh dengan penekanan.
Pak Rojak tersenyum miring mendengar perkataan dari Bu Alya Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum akan tetapi kedua bola matanya menatap tajam ke arah Bu Alya.
" Ternyata kamu tidak pernah berubah Kau masih tetap sama seperti yang dulu keras kepala dan juga egois. "
" Kamu ingin bicara atau tidak? jika kamu tidak ingin bicara dan tidak ada yang ingin kamu bicarakan silakan keluar dari kamarku karena Aku ingin beristirahat bagaimanapun juga aku punya hak untuk beristirahat dan tidak ingin diganggu, "
" Ya..a..ya..ya Aku tahu baiklah aku akan bicara apa yang ingin aku bicarakan padamu begini, Luna, Alya itu Putri siapa Apakah dia Anakku?
Bagaikan petir yang menyambar di siang hari Bu Alya mendengar pertanyaan dari Pak Rojak yang tak pernah dia sangka dan juga sebelumnya.
"Deg.. !
Sungguh Bu Alya tidak menyangka akan pertanyaan yang diberikan oleh Pak Rojak kepadanya di mana Pak Rojak mempertanyakan tentang Alya putrinya untuk menyembunyikan rasa keterkejutan dan juga cemas yang tiba-tiba datang Melanda hatinya, Bu Alya menyunggingkan sebuah senyuman meskipun senyuman itu terlihat sangat dipaksakan dan terkesan mencibir.
" Kamu kalau bicara itu jangan ngawur Bagaimana mungkin kamu Ayah dari Putriku, Ayah putrinya itu adalah Suamiku, sungguh pertanyaan yang aneh, Sudahlah Jika kamu hanya untuk bertanya soal ini kamu sudah mendapatkan jawabannya dan sekarang silakan kamu keluar dari dalam kamarku Aku ingin beristirahat, " tegas Bu Alya yang kali ini dengan suara yang sangat dingin dan penuh dengan penekanan sangat terlihat jelas jika wajah Bu Alya yang tidak lain bernsma Luna sudah mulai menunjukkan rasa tidak suka dan marah kepada Pak Rojak laki-laki yang ada di depannya.
Pak Rojak tersenyum miring kemudian berat nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
" Apa kamu tahu Lun, sikapmu justru membuat Aku begitu yakin jika Alya itu adalah anakku benarkan Alya itu anakku?
__ADS_1
"Tidak benar, tolong pergi dari kamarku jika tidak Aku bisa berteriak, "
"Oho... mau berteriak, mau berteriak dengan bagaimana minta tolong jika aku telah melecehkan dirimu, Baiklah tapi sebelum itu daripada mereka menduga-duga alangkah baiknya memang Aku lakukan biar semua dugaan itu benar bagaimana bukankah kita juga pernah melakukannya, "
"Diam kau..! pergi dari kamarku dan jangan berpikir Alya itu anakmu, Alya bukan anak dari seorang laki-laki baaji ngan sepertimu, "
"Oh, begitu lalu Alya anak siapa? "
"Tentu saja dia anak dari Mendiang Suamiku. "
"Hmmm, begitu apakah laki-laki yang memiliki sakit impoten bisa memiliki anak?
" Kau, ____
"Kenapa? " apa kamu pikir Aku tidak tau semua tentangmu, mau sampai kapan kau sembunyikan Rahasia ini dari Alya dia harus tau jika Aku adalah Ayah-nya jika Aku, ___
"Tidak, Alya tidak punya Ayah seperti mu, "
"Tapi kamu harus ingat dan jangan sampai kau lupa, darahku juga mengalir padanya, "
"Tidak, Alya bukan anakmu, "
"Alya Anakku, "
"Bukan, _____
" Tok..Tok.. Tok...!
ketika ibu Alya yaitu Bu Luna sedang berselisih dan bersitegang dengan Pak Rojak tiba-tiba pintu kamar Bu Alya diketuk dengan keras dari luar Hal itu membuat Pak Rojak dan Bu Alya tiba-tiba langsung terdiam mereka segera menoleh ke arah pintu secara bersamaan.
"Berikan kuncinya cepat, Aku harus membuka pintu, "
Untuk kali ini Pak Rojak tidak lagi menolak dan membantah keinginan dari Bu Alya yaitu Bu Luna dengan terpaksa Pak Rojak mengulurkan kunci pintu kepada Bu Luna Ibu dari Alya.
Berjalan dengan sedikit tergesa-gesa dan juga dengan wajah yang sangat kesal Bu Alya mulai membuka pintu dan ketika pintu terbuka tampaklah seorang gadis remaja menatap Wajahnya dengan pandangan mata yang penuh dengan tanda tanya, di mana di dalam kamar itu gadis remaja yang tidak lain adalah Alya juga melihat adanya Pak Rojak di dalam kamar.
Bu Luna yang menyadari pandangan mata dari Alya yang meminta penjelasan kepadanya karena di dalam kamar ibunya ada laki-laki lain yang tidak lain adalah Pak Rojak pemilik rumah ini.
"Alya ini tidak seperti yang kamu bayangkan pak Rojak datang ke sini untuk memberitahu ibu jika Ibu mendapatkan pekerjaan baru di luar sehingga mulai besok Ibu bisa bekerja."
" Oh, begitu Lalu kenapa pintu kamarnya harus dikunci? "
"I-itu, karena, __
" Itu Karena Paman yang tidak sengaja menguncinya, ketika Paman masuk Paman tanpa sengaja mengunci pintu Maafkan Paman sudah melakukan hal yang salah. "
Alia tersenyum sinis kemudian melangkah mendekati ibunya.
"jika kepentingan Paman sudah selesai Bisakah tinggalkan Alya dan Ibu Alya sendiri di dalam kamar ini. "
"Oh, bisa, Baiklah Paman pergi dulu Selamat malam."
Bergegas Pak Rojak keluar dari dalam kamar Bu Luna .
Alya tidak menjawab salam dari Pak Rojak bibirnya hanya tersenyum Sinis menunjukkan rasa tidak suka dan kecewa serta marah yang dia sembunyikan dikarenakan pintu kamar ibunya dikunci, Setelah Pak Rojak menghilang dari pintu Alya buru-buru menutup pintu dan menguncinya kemudian mendudukkan ibunya di tepi ranjang.
" Penjelasan apa yang ingin Ibu Katakan padaku tidak mungkin laki-laki itu langsung datang ke sini dan Mengunci pintu tanpa ada sesuatu hal yang penting yang ingin dia bicarakan dengan ibu, Hal apa yang penting itu ibu, Bukankah ini suatu hal yang tidak baik dan tidak benar jika sampai Bu Rumini ini tahu ibu akan dimarahi dan dituduh menggoda suaminya bisa jadi ibu akan dianggap sebagai pelakor dan itu bukan kesalahan dari Bu Rumini tapi kesalahan Ibu yang membiarkan laki-laki itu masuk ke dalam kamar dan ibu membiarkannya."
"Alya, semua tidak seperti apa yang kamu pikirkan Pak Rojak datang ke sini tidak ada maksud apa-apa dan kami tidak melakukan apa-apa kami hanya berbicara saja dan dia cuma mempertanyakan tentang Ayahmu dan memberikan pekerjaan pada Ibu, itu saja tidak ada yang lain dan lebih. "
"Oh, begitu, Baiklah untuk kali ini Alya akan mencoba untuk percaya meskipun sesungguhnya Alya sama sekali tidak percaya dengan apa yang Ibu katakan karena Alya sangat memahami Alya ini sudah besar dan sudah mengetahui jika seorang laki-laki dan perempuan berada dalam satu kamar terlebih kamar itu sedang terkunci pastilah ada sesuatu hal yang sangat serius yang sedang dibicarakan atau yang sedang dibahas. "
"Tidak ada Nak, Oh ya besok kamu harus sudah siap kita akan pergi dari Rumah ini, '
" Jadi benar ibu sudah mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal untuk kita?"tanya Alya yang merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan ibunya di mana Baru saja ibunya mengatakan jika belum mendapatkan pekerjaan apapun bahkan ibunya selalu ditolak tapi kali ini ibunya mengatakan jika sudah mendapatkan pekerjaan.
Meskipun dengan sangat lemah dan terlihat tidak begitu meyakinkan Ibu Alya menganggukkan kepala meyakinkan kepada Alya jika dirinya benar-benar sudah mendapatkan pekerjaan dan besok mereka bisa pergi meninggalkan rumah ini,
Tidak bisa dibayangkan betapa senangnya dan bahagianya Alya kala itu dengan sangat antusias Alya menciuum dan memeluk ibunya, hatinya merasa lega dan bahagia karena dirinya tidak akan lagi mendapatkan hinaan dan cacian dari orang yang sangat menyebalkan menurutnya.
"Trimakasih Bu, hore Aku bisa pergi dari Rumah ini dan kita tidak perlu lagi dianggap sebagai sampah dan pembantu yang tidak berharga di sini kita bisa bebas dan aku bisa melakukan apa saja yang aku mau tanpa ada yang memerintah dan mengganggu.
Bu Luna membelai lembut rambut putrinya, tersenyum senang dan bahagia meskipun dalam hati Bu Luna merasa bersalah karena telah membohongi putrinya entah apa yang akan terjadi esok ketika dirinya sudah keluar dari rumah ini dan ketika putrinya mengetahui jika apa yang dia katakan adalah Bohong semua.
"Baiklah Nak, sekarang pergi ke kamarmu untuk beristirahat Besok kita pergi dari sini dan besok kamu tidak perlu masuk sekolah karena ibu akan mengajak kamu ke rumah yang baru di mana kita akan tinggal di sana semoga kehidupan kita untuk kedepannya bisa lebih baik daripada ini. '
"Iya, Bu, Alya mengerti, Alya sangat berterima kasih kepada Ibu karena Ibu sudah berusaha dan bekerja keras untuk mendapatkan tempat dan pekerjaan yang baru sehingga Alya tidak akan lagi tertekan di rumah ini."
"Iya, Nak, " ucap Bu Luna lirih.
"Maafkan Ibu terpaksa membohongi dirimu karena Ibu sudah tidak ingin lagi tinggal bersama dengan Pamanmu, Ibu tidak ingin terjadi sesuatu hal yang lebih buruk dari ini."
Setelah memberikan ciuuman kepada ibunya Alya segera membuka pintu Kemudian menutupnya kembali sambil Melambaikan tangan di mana wajahnya terlihat sangat berseri-seri dan bahagia, tidak bisa dipungkiri jika wajah Alya benar-benar sangat terlihat senang dan bahagia mungkin selama ini Alya benar-benar merasa tersiksa dan tertekan di rumah ini sehingga Baru kali ini Bu Luna melihat senyum kebahagiaan di wajah Putrinya.
__ADS_1