Pacarku Vampir Tampan

Pacarku Vampir Tampan
Bab. 20.Menangis


__ADS_3

Pagi menjelang sang Nenek yang masih Diam Terpaku di dalam kamar Dion tidak beranjak dari tempat duduknya dia tetap menunggu dengan Setia kedatangan dari Ayah Dion yang dia yakin pasti akan segera masuk ke dalam kamar putranya dan benar saja tidak lama kemudian pintu luar seperti ada yang membuka.


Dengan hati berdebar-debar Sang Nenek menunggu kedatangan dari seseorang yang membuka pintu kamar itu di mana dia yakini pastilah Ayah dari pemuda itu yang sedang membuka pintu kamar putranya.


Tidak lama kemudian muncullah cocok laki-laki sedikit Tua yang masih menyisakan wajah ketampanannya masuk ke dalam kamar bibirnya mengulum senyum ketika mendapati sang Nenek berada di dalam kamar putranya.


"Nenek Tua kau ada disini, aku pikir Aku harus menunggu Satu Purnama agar aku bisa menemui Putraku ternyata baru satu hari kamu sudah datang itupun belum genap 24 jam, Bagaimana Apakah semuanya bisa berjalan dengan lancar? "tanya ayah Dion dengan antusias dia benar-benar merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada putranya lelaki tua itu sungguh berharap putranya benar-benar bisa sembuh dan kembali bisa hidup normal seperti anak anak pada umumnya.


dampak wanita tua itu bangkit dari duduknya kemudian kedua bola matanya menatap keluar jendela pandangannya begitu kosong dan menerawang jauh sangat terlihat jika wajahnya tampak Murung dan menyiratkan suatu kesedihan yang dalam.


Ayah Dion bukanlah orang bodoh yang tidak memahami akan situasi dia melihat wajah dari sang Nenek yang begitu sangat Murung dengan cepat dan bergegas melihat putranya kemudian memeriksa dengan teliti dan Alangkah terkejutnya dia ketika mengetahui jika putranya sudah tidak bernafas.


"Nek.. Nenek Tua Putraku kenapa?


Ayah Dion segera menghampiri sang nenek yang berdiri di depan jendela kedua tangan Ayah Dion menggoyang-goyangkan tangan sang Nenek.


" Katakan Nenek Tua apa yang terjadi pada putraku, mengapa kini dia tidak bernapas. "

__ADS_1


"Maafkan Aku sungguh Aku tidak tau Mengapa semua ini bisa terjadi dengan begitu cepat waktu itu Aku hanya meninggalkannya di hutan di atas rerumputan dan Aku berpikir tidak akan ada satupun yang mengganggu ataupun yang menyakitinya tapi ternyata dugaanku salah, sesuatu pasti sudah terjadi padanya sehingga dia seperti itu, Aku minta maaf, Aku sudah berusaha Tapi semua sudah terlambat Jika kamu ingin marah padaku marah lah Jika kamu ingin menghukumku dengan segera cara yang kamu suka lakukanlah Aku siap menjalaninya karena Aku memang bersalah, karena kebodohan ku putramu tidak tertolong lagi Sekali lagi maafkan Aku, karena keteledoranku dan kecerobohanku berikanlah hukuman yang pantas untukku agar perasaan bersalah ini juga akan bisa terobati. '


perlahan-lahan tangan Ayah Dion Luruh dan tidak lagi menggoyang-goyangkan tangan sang nenek tubuhnya terasa Limbung hingga beberapa saat pergerakan tubuhnya mundur ke belakang kemudian jatuh lurus ke atas lantai.


"Jadi ini benar, jika Putraku telah tiada, "


"Maafkan Aku, hukumlah Aku berikan hukuman yang pantas bagiku yang telah lalai dan teledor. "


Ayah Dian mendongak ke atas melihat sang nenek yang membungkuk menatapnya perlahan-lahan Ayah Dian bangkit dari terjatuhnya kemudian menggelengkan kepalanya dengan sangat lemah.


bibir Ayah Dion menyunggingkan sebuah senyuman tipis wajahnya begitu Sayu dan Sendu.


"Tidak Aku tidak akan pergi Aku sangat merasa bersalah, Aku benar-benar tidak bisa jika harus lari dari tanggungjawab, Akulah yang menyebabkan Putramu mati. "


"Nenek Tua cepat pergi jika kamu memang ingin menebus kesalahanmu pergilah, karena hanya itu permintaan ku. "


Dengan sangat berat hati akhirnya sang Nenek pun menganggukkan kepala setelah mengucapkan Maaf beberapa kali sang Nenek minta izin pergi.

__ADS_1


Tapi sebelum itu sang Nenek melihat kembali tubuh pemuda yang terbaring lemah di atas ranjangnya yang kini sudah tidak bernafas, ada buliran bening dari sudut kelopak matanya yang ditahan agar tidak terjatuh, setelah beberapa saat memandangi wajah dari sosok pemuda putra dari Ayah Dion sang Nenek pun terbang melesat keluar Ruangan itu melalui pintu jendela.


Meninggalkan, Ayah Dion yang kini duduk terpaku.


Kni tinggal lah Ayah Dion terduduk dengan sangat lemas hatinya benar-benar merasa sangat sedih dan putus asa akan tetapi apa yang menjadi pilihannya sudah tepat tidak ada gunanya memberikan hukuman pada Wanita tua karena apa yang terjadi pada putranya semua juga sudah menjadi suratan takdirnya.


Ayah Dion menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan didekatinya putranya kemudian dibelainya dengan sangat lembut bahkan tidak ragu-ragu lagi Ayah Dion mendaratkan sebuah ciuman di kening putranya.


"Selamat jalan Putraku, Ayah akan sangat merindukanmu, "


setelah mengucapkan itu Ayah Dian keluar dari kamar kemudian memanggil istrinya dan mengatakan jika putranya sudah tidak bernafas lagi Bu Anjar yang kala itu sedang memasak sangat terkejut dan syok mendengar perkataan dari suaminya dia tidak percaya bahkan berlari menuju kamar putranya dan apa yang dikatakan suami yang ternyata benar putranya sudah tidak bernafas lagi menangis dan terduduk lemas Meskipun tidak pingsan.


"Suamiku, Putra kita, "


"Sabar, Bu ini sudah takdirnya kita harus ihklas, Kamu yang sabar Aku akan pergi ke Pak Rt agar memberitahu kan jika Putra kita sudah meninggal dan meminta Warga untuk membantu acara pemakaman putra kita.


"Baiklah Suamiku, pergilah karena kita harus cepat memakamkannya, Aku tidak apa-apa Aku ihklas dengan semua ini, Pergilah, "

__ADS_1


Dengan sangat lembut Ayah Dion menciuum kening sang istri dan mendekapnya dengan penuh kehangatan memberikan kekuatan agar istrinya bisa kuat, sabar dan ihklas menerima cobaan ini.


__ADS_2