
Ayah Dion yang sudah pergi meninggalkan rumah Dia segera memberikan kabar kepada seluruh Warga desa itu jika putranya telah tiada dan meminta bantuan kepada mereka untuk membantu bersama-sama melakukan Acara pemakaman hari ini juga.
"Pak Rahmat apa saya tidak salah dengar, sepertinya baru kemarin saya melihat Dion sedang bersepeda dan juga berolahraga di sekitar tempat ini kenapa tiba-tiba sekarang sudah tidak ada, Aku hanya dua hari tidak melihatnya Apakah berita ini benar Pak Rahmat? "
"Benar Pak Rt, berita ini benar adanya jika Putra Saya memang sudah tidak ada mungkin sudah jadi jalan takdirnya jika Dion memang harus berpulang menghadap yang kuasa Untuk itu saya datang ke sini meminta bantuan kepada bapak dan seluruh warga yang ada di tempat ini untuk membantu proses pemakaman dari Putra saya. "
" Jangan khawatir Pak Rahmat kami pasti akan membantu proses pemakaman putra Pak Rahmat sampai dengan selesai, tapi Kami benar-benar merasa sangat tidak percaya dengan berita ini, dia tidak sakit tiba-tiba sudah tidak ada, Pak Rahmat yang sabar ya, semoga Nak Dion diterima di sisinya, Baiklah kita akan pergi sekarang Tunggu saya sebentar, Saya akan mengambil peralatan dan juga Saya akan meminta kepada Bobby untuk mengumumkan berita kematian dari Putra Pak Rahmat agar seluruh Warga mengetahui jika putra Pak Rahmat sudah tidak ada. "
"Baik Pak Trimakasih, sudah mau membantu kami,"
"Sama-sama Pak, jangan sungkan kita sesama warga saling membantu dan pastinya kami pun merasa sangat kehilangan atas musibah yang terjadi pada keluarga Pak Rahmat.'
" Baiklah Pak Rt saya pamit pulang dulu untuk membantu Istri saya menyiapkan segalanya, sekali lagi Trimakasih. "
"Silahkan, Pak Rahmat, sama-sama saya pun juga berterimakasih karena di percaya untuk membantu pelaksanaan Acara pemakaman, "
Ayah Dion tersenyum tipis kemudian melangkah menuju ke pintu setelah mendapatkan izin dari Pak RT.
Di dalam perjalanan Ayah Dion terus berdoa dalam hati berharap semoga Ada keajaiban yang bisa membuat Dion bisa hidup,meskipun hal itu sangat mustahil dan tidak mungkin.
Sampai di rumah Ayah Dion segera menemui istrinya dan memberitahu kepada istrinya jika seluruh warga akan segera datang ke rumah mereka semua sudah mendapatkan satu pengumuman yang diberikan oleh Bobby di mana Bobby menggunakan pengeras suara sehingga seluruh Warga yang ada di desa itu mendengar dan mengetahui jika putra dari Pak Rahmat sudah tidak ada.
Meskipun hati dari Bu Anjar merasa sangat sedih dan tidak rela dia tetap menyiapkan seluruh keperluan yang akan digunakan untuk acara pelaksanaan pemakaman nanti.
Tidak lama kemudian seluruh rumah Pak Rahmat sudah dipenuhi oleh para warga yang ingin menyaksikan dan memberikan penghormatan terakhir kepada Dion yang sudah dimandikan dengan bersih kemudian Dion dibawa masuk untuk segera di kafani.
Tidak jauh dari tempat itu seorang Nenek Tua melihat dengan tatapan mata sendu, tampaknya Wajahnya begitu sedih, dia memakai kerudung berwarna hitam dan ketika Dion di bawah masuk ke dalam Rumah setelah dimandikan, Wanita Tua itu tetap berdiri di tempatnya tidak beranjak sana sekali, seolah olah dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa melihat pemuda yang akan dimakamkan hari ini.
__ADS_1
Di dalam Rumah tubuh Dion dibantu Pak yai dan beberapa Warga diangkat masuk ke dalam kamar kemudian bersiap akan segera dikafani.
Proses untuk mengkafani jenazah dari Dion Pak Kyai hanya mengizinkan 3 orang untuk membantunya dan dilakukan di kamar tertutup semua agar proses mengkafani berjalan dengan lancar.
IBu Dion merasa sangat sedih sampai sampai dia hanya menatap dengan pandangan mata kosong, beberapa Ibu warga di desa itu banyak yang memberikan semangat agar Ibu Dion Ihklas.
"Sudah Bu Anjar jangan sedih ini takdir tidak ada satu manusia pun yang bisa melawan takdir bukan Jadi Bu Anjar Aku harap ikhlas dan sabar dalam menghadapi cobaan ini percayalah dibalik duka dan juga cobaan yang sekarang Bu Anjar alami pasti akan ada hari indah dan bahagia yang sedang menanti. "
" Terima kasih Bu Maya Saya berusaha untuk bisa ikhlas dan sabar tapi Seandainya saya boleh menghayal dan boleh meminta Saya ingin anak saya Putra Saya hidup kembali bisa mendampingi saya maksud saya dia itu Putra saya satu-satunya harapan kami satu-satunya dan kami sangat menyayanginya kami belum puas menapaki hari-hari bersama, seandainya doa ini dikabulkan Saya berjanji saya akan membeli sapi dan akan Aku bagikan kepada semua warga di sini Jika yang kuasa mendengarkan jeritan hati saya ini. "
" Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin Bu Anjar siapa tahu ada malaikat yang bisa mendengarkan doa Bu Anjar dan segera menyampaikan kepada yang maha kuasa sehingga apa yang menjadi harapan dari Bu Anjar bisa terwujud dan terlaksana saya pun akan sangat bergembira kami pun juga akan merasa senang karena bisa melihat Dion kembali Dion anak yang baik penolong dan juga sangat ramah."
dengan tersenyum kecut Bu Anjar menganggukkan kepala.
"Smoga sahabat terkabul Amin. "
"Pak Yai, trimakasih sudah membantu."
"Ini sudah menjadi kewajiban saya Pak Rahmat tidak perlu sungkan, kainnnya sudah pas dan sudah siap ayo kita mulai, "
Bergegas Pak Kyai, Pak Ramat, dan satu Warga yaitu Pak Rt Rusli, sudah bersiap hendak memakaikan kain kafan yang ada di tangannya dan hendak membuka penutup tubuh Dion yaitu kain jarik kering untuk menutupi tubuhnya agar tidak poloos setelah selesai dimandikan.
Pak Rt Rusli berteriak histeris ketika kain kafan yang dia pegang hendak diletakkan pada Tubuh Dion.
"Pak, Yai lihat... apa Aku sedang bermimpi, "
"Ada apa Pak Rt Rusli, "
__ADS_1
"I-Itu.. tangan Dion bergerak jangan jangan hantunya gentayangan, "
"Husss...! ngomong apa kamu itu Pak Rt. "
Pak Rahmat dan Pak Kyai dengan cepat berjalan ke sebelah kanan di mana di arah kanan Pak Rt Rusli berdiri.
"Dimana? "
"Itu pak Yai, aiiih kok diam tadi tangannya bergerak beneran saya tidak berbohong. "
pak Yai mangut manggut kemudian perjalanan mendekati mulut Pak Kyai berkomat-kamit entah membaca mantra atau entah membaca doa yang jelas setelah mulut Pak Kyai berkomat-kamit Pak Kyai meniupkan beberapa kali ke ujung rambut dari Dion.
"Bagaimana Pak Yai..?
" Pak, Yai, apa benar Putraku bergerak tadi?
Pak Yani tidak mendengarkan pertanyaan dari Pak RT Rusli dan juga Pak Rahmat Ayah dari Dion dengan perlahan-lahan tangan pak Yai menyentuh tangan Dion mungkin dia sedang mencari atau memantau dan melihat Apakah ada denyut nadi di tangannya Dion.
Ketika Pak Kyai sedang berkonsentrasi mendengarkan denyut nadi dari Dion sambil memejamkan kedua bola matanya tiba-tiba sebuah suara mengejutkan dirinya hingga sentuhan tangannya pun terlepas dan Pak Kyai melompat mundur dengan gerakan spontan.
"Kamu siapa?
Sebuah suara yang sangat mengejutkan Pak Kyai hingga beliau melompat mundur dengan gerakan spontan.
" Astaghfirullah..! "
"Ada apa Pak Yai? "seru Pak Rahmat Ayah Dion dan Pak RT Rusli secara bersamaan.
__ADS_1