
Dalam perjalanan pulang Rio yang kala itu mengemudikan mobil dengan kecepatan rata-rata ini sudah mulai sampai di depan Rumah Bu Anjar.
Kurang lebih satu jam Rio dan Andrean Akhirnya sampai di depan rumah Bu Anjar, di mana Di situlah tempat Andrean tinggal.
Andrean segera turun dari motor kemudian meminta Rio untuk masuk ke dalam rumah Akan tetapi karena Rio sedang terburu-buru dan ingin segera pulang Rio menolak tawaran dari Andrean.
"Ayo Rio kamu masuk? ' ajak Andrean kepada Rio yang kala itu masih berada di atas motor, dengan senyum tersungging di bibir, Rio menggelengkan kepalanya,
" Tidak Andrean Aku sedang ada urusan, kemudian langsung melajukan motornya meninggalkan Rumah Andrean.
ketika sampai di depan pintu Andrean yang hendak membuka pintu tiba-tiba pintu sudah dibuka dari dalam rupanya Bu Anjar sedari tadi menunggu kedatangan Andrean dan ketika mendengar suara motor berhenti di depan Rumah Bu Anjar segera membuka pintu dan pergi keluar rumah untuk melihat nya dan benar saja ternyata Andrean memang sudah pulang.
"Dion, kamu sudah pulang Nak? " Bu Anjar segera mendekati putranya dan memeluk Andrean yang kala itu tidak berkata apa-apa ketika Bu Anjar memanggil Andrean dengan panggilan Dion di mana Bu Anjar baru menyadari jika dirinya sudah memanggil dengan nama yang salah karena Andrean yang dulunya bernama Dion sudah meminta untuk dipanggil Andrean.
"Andrean maaf Ibu, lupa, " ucap Bu Anjar memberikan penjelasan kepada Andrean yang dulunya memang bernama Dion.
Andrean yang juga menyadari kesalahan dirinya di mana dia merasa tidak suka jika namanya yang dia minta untuk memanggil Andrean dipanggil dengan sebutan Dion menyunggingkan sebuah senyuman kemudian meminta izin kepada ibunya untuk masuk ke dalam kamar, karena Andrean memberikan alasan jika dirinya sedang lelah dikarenakan hampir satu harian Andrean berada di luar Rumah.
Di mana sehabis sekolah Andrean meminta kepada Rio untuk mengantarnya mengetahui dan melihat rumah dari Alya dan Rio minta dirinya untuk mentraktir Rio di sebuah warung untuk itu mereka cukup lama berada di luar rumah di mana kala itu Rio macari Andrean untuk menikmati makan siang saat itu.
" Tidak apa apa Bu, Andrean sudah sangat lelah Andrean pergi beristirahat dulu, "ucap Andrean
tanpa menunggu jawaban Andrean langsung masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu, sampai di dalam kamar Andrean segera mengganti baju kotornya dengan baju bersih Setelah dirinya melakukan ritual mandi rasa segar dan lega karena telah seharian berada di luar Rumah benar-benar membuat Andrean merasa tenanganya terkuras.
__ADS_1
Andrean segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mulai memejamkan kedua bola matanya.
Di ruang tamu Bu Anjar yang melihat putranya langsung masuk ke dalam kamar ingin menemui dan berbicara banyak pada Andrean di mana Bu Anjar yang masih merasa rindu dan rasa sayangnya kepada Andrean masih belum terpuaskan terpaksa Bu Anjar harus bersabar ketika melihat pintu tertutup dengan rapat.
Pak Rahmat yang kala itu baru sampai dari berkebun melihat Bu Anjar yang duduk termenung dengan tatapan mata yang kosong mendekati Ibu Anjar sambil mengulum senyum.
Sungguh Pak Rahmat sangat mengerti Bagaimana perasaan Bu Anjar yang kali ini merasakan begitu jauh dengan putranya di mana selama ini putranya begitu sangat dekat dan selalu bermanja padanya kini tiba-tiba Hanya seperti orang asing yang bisa dilihat sekilas tanpa bisa diajak untuk berbincang dan bercengkrama seperti saat lalu.
" Apa kamu sedang bersedih Bu?
Bu Anjar yang kala itu sedang termenung dan melamun sontak saja menoleh ke sumber suara di mana sudah berdiri di sampingnya Pak Rahmat dengan senyum tersungging di bibir.
" Tidak Pak. untuk apa Aku bersedih, "ucap Bu Anjar dengan tersenyum sungguh Bu Anjar berusaha untuk menutupi apa yang dia rasakan di mana dia tidak ingin suaminya mengetahui betapa hatinya sangat sedih dan kecewa melihat sikap Andrean yang seolah-olah tidak pernah mengenali dirinya bahkan Andrean jarang sekali mengizinkan ibunya berada lama di dalam kamar memeluk dirinya ataupun berbincang-bincang dengannya itu adalah suatu kesedihan terdalam yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
" Jangan khawatir Pak aku memahami semua itu dan aku tidak apa-apa Jangan memikirkan aku aku baik-baik saja Andrean baru saja pulang dan dia merasa lelah untuk itu Andrean beristirahat di dalam kamarnya, Biarkan saja Nanti jika sudah hilang lelahnya pasti dia juga akan keluar dari dalam kamar dan mungkin Andrean memang ingin sering sendiri dan menyendiri di dalam kamarnya. "
"Ikut, Aku Bu, "
"Kemana Pak? "
"Kita jalan-jalan bukankah kita sudah lama tidak keluar berdua,"
"Tidak, Pak Aku malas, "
__ADS_1
"Hmmm, Sekali saja Bu ayo, "
dengan sedikit malas akhirnya Bu Anjar menerima ajakan dari Pak Rahmat untuk pergi jalan-jalan berdua mereka sengaja mengeluarkan sepeda motor untuk jalan-jalan santai.
***
Di dalam kamar Andrean segera membuka kedua bola matanya.
" Sepertinya di rumah ini tidak ada orang perutku masih sangat lapar aku harus cepat makan sebelum mereka pulang. "
Andrian segera membuka pintu kamarnya kemudian berjalan menuju ke halaman belakang di mana Andrean sengaja membuka pintu belakang untuk melihat halaman belakang di mana di halaman belakang terdapat banyak sekali sayur buah dan juga kolam ikan yang sangat luas dengan ikan-ikan yang cukup besar dan banyak.
Dengan bibir tersenyum Andrean segera mengeluarkan tenaga dalamnya untuk mengambil semua ikan yang ada di dalam kolam Andrean sengaja mengambil 5 ekor ikan kemudian Andrean menyalakan api unggun dan membakarnya ketika aroma sudah menusuk di hidung dan ikan sudah sedikit berubah warna Andrean segera melahapnya.
"Ah kenyang akhirnya Aku bisa makan dengan kenyang, Aku harus segera kembali masuk ke dalam kamar sebelum Ayah dan Ibu pulang."
Dengan sekali kelebat Andrian sudah berada kembali di dalam kamarnya Andrean yang sudah merasa sangat kenyang wajahnya berseri dan tubuhnya terlihat lebih segar dari biasanya di mana kekuatan dan juga energinya sudah kembali terisi.
"Aku juga jenuh di rumah sendiri Lebih baik aku ke rumah Pak Yai saja, Aku ingin tahu apa yang dia lakukan saat ini, "
Andrean segera membuka jendela sedikit kemudian dengan secepat kilat Andrean terbang melesat meninggalkan kamarnya menuju ke Rumah pak Yai.
Di mana Rumah Pak Yai yang berjarak memang cukup jauh tidak perlu waktu lama Andrean sudah sampai di atas atapnya.
__ADS_1
Ketika Andrean hendak turun tiba-tiba Andrean menghentikan keinginannya dikala dia mencium bau yang sangat berbeda dari biasanya, Hal itu membuat Andrean mengurungkan niatnya untuk turun masuk ke dalam Rumah Pak Yai.